Kamis, 10 November 2022

Story Worry

 Pohon Ceri

Aku bercerita tentang pamanku, dia adalah lelaki yang memiliki segalanya, harta, jabatan dan juga wanita yang senantiasa setia menemaninya. Namun dia selalu merasa hampa di dalam hidupnya, rasa bahagia tidak pernah dirasakannya, padahal dia memiliki semua yang mungkin kebanyakan orang menginginkannya. Pada suatu malam, paman berkendara dengan mobilnya, disepanjang jalan dia terus merenungkan apa yang akan dia lakukan. Akhirnya dia memilih untuk mengakhiri hidupnya, karena dia merasa tidak pernah menemukan kebahagian di dalam hidupnya. Paman mengendarai mobilnya kepantai, berharap dia akan menenggelamkan dirinya disana, namun dia mengurungkan niatnya karena dia rasa air laut sangat dingin untuknya, lagian paman juga tidak bisa berenang. Lalu dia memutuskan untuk pergi kehutan, berharap dia akan menggantungkan dirinya di pohon-pohon yang ada di hutan sana, namun lagi-lagi dia mengurungkan niatnya. Dia berfikir, hutan itu sangat gelap baginya jadi dia tidak bisa melihat apapun disana, dia takut salah mengikatkan tali ke pohon yang ada disana, akhirnya dia kembali berkendara dan tidak jadi mengakhiri hidupnya di hutan. Paman mengambil keputusan untuk pergi ke gunung, dia ingin menjatuhkan dirinya ketebing yang ada di gunung supaya dia bisa mengakhiri penderitaan batinnya itu. Namun sesampainya di gunung, dia melihat gunung itu menjulang tinggi, dan dia berkata kalau dia harus naik ke puncak itu dia merasa tidak sanggup, karena dia jarang menaiki gunung, dia takut akan mati sebelum terjatuh dari tebing.

Paman memutuskan untuk tidak mengakhiri hidupnya disana, dia kembali menyalakan mesin mobilnya dan berjalan meninggalkan area pegunungan itu. Dia masih berfikir bagaimana caranya untuk mengakhiri hidupnya. Lalu di tengah perjalanan dia bertemu dengan kakek-kakek, si kakek butuh tumpangan untuk sampai ke rumahnya. Paman berfikir dia ingin berbuat baik sebelum mengakhiri hidupnya, akhirnya dia memutuskan untuk mengantar kakek itu kembali pulang kerumahnya. Diperjalanan, si kakek bercerita, dia berkata saat usianya seumuran dengan paman, dia ingin mengakhiri hidupnya, dia cerita kalau dia berusaha lari kepantai, kehutan dan juga kegunung, namun tak juga berani mengakhiri hidupnya. Sang paman terkaget karena itu sama seperti apa yang dia lakukan sedari tadi. Lalu sang kakek bilang, saat dia beristirahat di gunung, dia menemukan pohon ceri. Pohon itu berdiri dengan kokoh dan daun yang sangat lebat, selain itu buah ceri yang berada di pohon itu sangat banyak dan berwarna merah merekah. Sang kakek berjalan mendekati pohon itu dan mengambil beberapa buah ceri dan memakannya. Rasanya manis dan juga sedikit asam, si kakek mulai memakannya tanpa sadar dia menghabiskan separuh dari buah yang ada di pohon. Setelah itu kakek tersadar, kehidupan ini juga sama seperti buah ceri, terdang ada rasa manis di dalamnya, kadang juga asam, pahit bahkan ada beberapa buah yang tidak berasa apa-apa, namun itulah hidup. Walaupun terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita, namun ada beberapa hal tidak terduga yang justru membuat kita jauh lebih baik lagi. Akhirnya kakek memutuskan untuk tetap hidup kokoh seperti pohon ceri yang dia temui itu, tetap berbuah dan berdaun rindang.

Paman tertegun mendengar cerita si kakek, lalu kakek mengajukan pertanyaan ke paman.

'Kamu mengerti dengan ceritaku..?' tanya kakek

'Iya aku tahu kek...' jawab Paman

'Apa maksud ceritaku...?' lanjut kakek bertanya ke paman

'Pohon ceri menyelamatkan hidup kakek...' jawab Paman

'Salah...'

'Hiduplah seperti pohon ceri...' jawab paman dengan keyakinan

'Salah...'

'Hemmm kehidupan seperti buah ceri, kadang asam, kadang manis...'

'Salah lagi...'

'Lalu apa kek...?' tanya paman yang sedikit emosi saat ini

'Bukan pohon ceri yang menyelamatkan ku, namun ceritaku....ceritaku yang ingin menyelamatkan mu...pohon di ceritaku bisa di ganti dengan berbagai pohon yang lain, namun dari ceritaku, aku ingin melindungimu dari hal bunuh diri. Aku ingin kamu tahu kalau hidupmu sangatlah berharga di banding dengan semua harta yang kamu miliki...' jawab si kakek dengan senyuman di wajahnya.

Paman terdiam, dia mulai memahami kalau si kakek tahu betul, kalau paman ingin mengakhiri hidupnya saat ini. Lalu sang paman tersenyum dan dia berjanji akan terus hidup dan akan terus menjalani hidup dengan baik. Akhirnya sang kakek sampai di rumahnya, dan ada seorang nenek-nenek yang menunggu kedatangannya dengan setia. Sesaat sebelum kakek turun dari mobil paman, paman bertanya

'Darimana kakek tahu kalau aku ingin mengakhiri hidupku...?' tanya paman heran

'Dari tali yang sedari tadi ada di jok belakang mobilmu, aku juga melihat bekas pasir di roda mobilmu, dan beberapa debu pohon pinus di kaca mobilmu. Itu menandakan sebelum kamu bertemu denganku di lereng gunung kamu sudah pergi kepantai dan juga hutan....anak muda, jalanmu masih panjang, Tuhan masih mengirimkan kamu aku untuk mengingatkan kalau kamu sangatlah berharga...maka tetaplah hidup...' lanjut kakek itu lalu keluar dari mobil paman dan berjalan mendekati nenek.

Paman tersenyum kearah kakek dan nenek yang melihatnya dari luar mobil, di dalam hati paman mengucap terima kasih kepada si kakek. Lalu paman berjalan pulang dan kembali kekeluarganya, dia mensyukuri apa yang dia miliki saat ini. Sama seperti sang kakek yang bahagia hidup sampai tua bersama sang nenek.




Sekian

Citra Kim

PUISI 2022

 Something Between Us

Saat itu mataku hanya sengaja menatapmu

Dan kemudian senyummu membuatku tersipu

Mungkin aku bukan sosok yang mudah jatuh cinta

Namun hatiku sangat mudah untuk terbuka

Hanya keheningan saat itu...

Mataku terus menatap senyummu

Dengan tanpa alasan

Dan juga dengan tanpa kepastian

Kau menghilang begitu saja

Pertemuan yang tidak disengaja

Namun sepertinya aku menjadi terpana

Kau bukan sosok yang sempurna

Namun senyummu membuatku tahu

Kau bisa membuat siapapun menyukaimu

Mereka mungkin belum tahu

Ada sesuatu diantara kita

Yaitu sebuah pertemuan yang tidak di sengaja




10, November '22

Citra Kim

Selasa, 08 November 2022

Cerpen 2022

 Cerpen Part 5



Acar Martabak

Sore itu suasana mendung menemani langkah Damar kembali pulang, dia membawa beberapa kotak hadiah lengkap dengan sebuket bunga mawar berwarna merah di tangannya. Payung yang dia gunakan seakan tidak bisa melindungi dia dari tetesan air hujan, bajunya masih basah terkena hujan. Damar sampai diteras rumahnya, dia merapikan kotak hadiah dan juga buket bunganya, sembari mengibaskan payungnya.

'Baru pulang aden...?' tanya bibi pembantu rumahnya

'Iya bi...'jawab Damar sambil berjalan melewati wanita separuh baya itu.

'Aden kok basah kuyup, memangnya tadi tidak naik mobil...?' tanya bibi yang bernama Sayuti atau bibi Yuti sambil membantu Damar membawa kota hadiah

'Mobilnya rusak dijalan tadi bi, jadi aku naik ojek online....' jawab Damar dengan nada ogah-ogahannya.

'Ya udah bibi siapin teh hangat ya den, biar badan aden hangat...' lanjut si bibi

Damar hanya mengangguk dan dia lalu berjalan ke tangga untuk naik ke kamarnya di lantai dua, langkahnya terlihat sangat lesu, entah apa yang sebenarnya ternajdi dengan Damar, tapi bisa di pastikan kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Damar berjalan mendekati jendela kamarnya, setelah mandi dan membersihkan dirinya dari air hujan, Damar duduk termanung di dekat jendela kamarnya sambil meminum teh hangat yang dibuatkan bibi. Dia terus memandang kearah luar jendelanya, yang hanya terlihat rintik air hujan yang sedari tadi belum juga reda.

'Hah....' hela nafas Damar sangat berat.

Dia kembali memandang buket bunga dan juga kotak hadiah yang sedari tadi ada di depannya, dia memegang bunga itu lalu membuangnya di keranjang sampah kamarnya. Damar juga membuang kotak hadiah yang tadi dia bawa.

'Berhanti sampai sini Damar....' katanya lirih.

Pagi itu Damar bangun pagi seperti biasanya, dia lalu melanjutkan jogging diarea kompleks rumahnya sebelum siap-siap untuk berangkat kuliah. Damar Hadinata, umur 27 dan sekarang sedang lanjut S2 untuk jurusan psikologi. Keluarga Damar termasuk keluarga yang terpandang di kotanya, ayahnya seorang dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit terbesar di kotanya, ibu Damar merupakan kolektor barang anting yang memiliki toko untuk pelelangan dengan harga yang terbilang fantastik. Damar juga memiliki kakak perempuan yang sekarang menjadi dokter anak di rumah sakit yang berada di Kanada, karena suami kakaknya bekerja di Kanada sebagai dokter juga. Bisa di bilang Damar terlahir dengan sendok emas, alias kaya raya, dan juga dia di kelilingi oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Damar juga bekerja di kantor psikiater milik Om nya, Om Dude namanya, dia merupakan adik dari ibu Damar. 

Damar memiliki 2 orang teman yang se dari SMA selalu bersama, mereka bernama Danu dan juga Zara. Danu bekerja sebagai seorang pengacara di sebuah firma hukum yang lumayan terkenal di kota itu, sedangkan Zara merupakan dokter hewan dan sekarang sedang bekerja di pet shop miliknya sendiri. Latar belakang mereka bertiga memang tidak sama, jurusan kuliah juga tidak sama, namun mereka berteman baik, bahkan saat ini Danu sudah menikah pun mereka bertiga masih sering bertemu dan mengobrol seperti saat Danu masih belum menikah.

'Udah lah Dam....ikhlasin aja...kamu udah berusaha semampu kamu kok...' kata Danu sambil menenangkan sahabatnya itu.

'Hah....' hela Damar sambil terus menatap gelas berisi air putih di hadapannya.

'Vina agak keterlaluan juga sih kalau menurut aku....' kata Danu lagi 'Ya at least dia kasih tau kamu lah kalau misal dia gak ada rasa sama kamu bukannya malah perlakukan kamu seperti ini...' lanjut Danu

Damar sama sekali tidak merespon kata-kata Danu, dia hanya terus merenung dan memandang gelas di depannya. Bisa di pastikan kenapa Damar tampak murung itu karena wanita, memang klasik sekali kisah ini. Damar dari dulu menyukai seorang wanita, dia bernama Vina. Vina adalah wanita yang membuat Damar jatuh cinta pada pandangan pertama, dia satu SMA dengan Damar, Danu dan juga Zara. Vina merupakan bunga di sekolah mereka, yang artinya Vina adalah tipe-tipe wanita idaman semua pria termasuk Damar. Dengan berbagai cara Damar selalu berusaha mendekati Vina, bahkan Damar rela PP Singapore - Indonesia demi Vina, waktu Damar menempuh S1 di Singapore. Dan itu Damar lakukan hanya untuk sekedar merayakan ulang tahun Vina, atau cuma hanya karena Vina merasa kesepian dan ingin di temanin makan. Iya, se-effort itu memang perlakuan Damar pada Vina, namun diantara mereka berdua tidak ada ikatan apa-apa, dan Damar tidak mempermasalahkan itu asalkan dia tetap bisa berada di samping Vina.

'Kamu ini lulusan psikolog tapi malah kek begini hadapi masalahmu sendiri....' kata Zara tiba-tiba sambil duduk di depan Damar dan juga Danu

'Kamu darimana aja sih...lama banget sampai nya...?' tanya Danu sambil menatap Zara dengan ekspresi lega

'Macet tadi...aku juga lagi suntik kucing yang kena flu tadi...' jawab Zara lalu mengambil gelas berisi air putih di meja dan meminumnya.

Seketika Damar memandang kearah Zara yang dengan santainya mengambil gelasnya dan meminumnya, padahal sedari tadi Damar sedang melihat gelas itu.

'Apaan si kamu main minum aja...itu air punya aku tau...' kata Damar sedikit emosi karena Zara langsung minum air nya

'Hemmmm....bisa pesen lagi kali di sana....' kata Zara sambil menunjuk meja kasir kafe itu

'Hah....bahkan untuk air aja aku juga di ambil orang...' kata Damar sambil menyandarkan badannya di kursi

'Dam...emang kalau air ini kamu liatin terus warnanya bisa berubah gitu, bisa jadi teh atau kopi gitu...? kan enggak Dam....jadi percuma kalau kamu anggurin terus dia bakal mubazir, makanya aku minum biar ada manfaatnya itu air....' kata Zara lagi

'Udahlah...masalah air aja kalian berantem kayak anak kecil aja....' kata Danu melerai

'Aku udah berhenti berharap sekarang....' kata Damar tiba-tiba mendadak melankolis dambil menatap lampu di atas ttempat duduknya.

'Yakin....??' kata Danu dan zara bersamaan

'Hemmm...' jawab Damar diiringi anggukan kepalanya.

Danu dan juga Zara saling manatap satu sama lain, mereka seolah tidak percaya dengan kata-kata Damar barusan. Lalu Zara meletakan tangannya di dahi Damar, sambil menatap kedua mata Damar yang terlihat lesu karena kurang tidur.

'Hah....I don't believe that...' kata Zara kemudian sambil duduk kembali ke tempatnya

Damar bangun dari kursinya dan mendekat kearah Zara, sambil menatap Zara dia mengerutkan dahinya dan memegang kedua bahu Zara.

'Aku pastikan kalau aku bisa move on, liat aja...' kata Damar kemudian

Zara tersenyum sinis kearah Damar yang membuat Damar kesal atas sikap sahabatnya itu.

'Oke kalau kamu gak percaya juga gak apa-apa...' kata Damar kemudian sambil kembali duduk di kursinya

'Dam...ini bukan pertama kalinya kamu ngomong begini, kalau aku hitung, mungkin udah ribuan kali ya kamu ngomong seperti ini, coba kita liat 5 menit kedepan, kalau handphone kamu ada notif dari Vina kamu berani gak, gak usah balas chat atau telfonnya? kalau kamu bisa melakukan itu kita bakal percaya kalau kamu benar-benar move on...' jelas Zara disertai anggukan dari Danu

'Bener kata Zara, kalau kamu gak respon apapun yang Vina lakuin, kita baru percaya sama omongan kamu barusan..' tambah Danu

'Okai...deal....' kata Damar sambil menjabat tangan Zara dan juga Danu

Zara dan Danu saling memandang dan dari pandangan mereka berdua terlihat kalau Danu dan juga Zara masih tidak bisa percaya dengan kata-kata Damar. Tidak lama kemudian, handphone Damar berbunyi, dan itu telfon dari Vina. Danu dan Zara langsung melihat Damar, dan Damar terlihat ragu saat melihat nama Vina di layar handphone nya.

'Mau angkat tu telfon...?' sindir Zara sambil menyilangkan kedua tangannya

Damar tidak bergeming, dan dia tetap membiarkan handphone nya di atas meja. Namun dering telfon itu tetap berbunyi, dan terus berulang. Hal itu membuat Damar menjadi tambah ragu, dia ingin sekali segera mengangkatnya, namun dia juga tahu kalau hal itu akan membuat dia semakin tidak di percaya oleh teman-temannya. Kaki Damar mulai bergetar, tanda dia tidak sabar dengan suara dering handphonenya, hal itu bisa di baca jelas oleh Zara. Dan dalam hitungan dektik, Damar langsung menyambar handphone nya dan memencet tombol jawab dari handphone nya.

'Halo Vin...ada apa..?' tanya Damar terlihat cemas

'Dam kamu bisa jemput aku gak...aku benar-benar butuh kamu...' jawab Vina dari balik telfon dengan nada sedih dan di sertai tangisan.

'Kamu kenapa Vin...? oke-oke aku kesana sekarang, kamu kirim alamatnya aja ya aku otw kesana...' kata Damar sambil beranjak dari tempatnya dan berjalan meninggalkan kedua sahabatnya yang sedari tadi memandang Damar dengan pandangan sinisnya.

Damar meninggalkan Zara dan Danu di kafe itu, dia berlari menuju mobilnya dan langsung menancapkan gasnya pergi menemui Vina yang menelfonya dengan tangisan kesedihan.

'See....dia gak akan bisa lepas dari wanita itu...' kata Zara dengan nada kecewa

'Hah....Damar itu lelaki yang baik, dia juga sebenarnya pinter, apalagi dia seorang psikolog, tapi kadang logika dia kalah sama rasa cintanya...' kata Danu

'Apa yakin itu cinta...?' tanya Zara sambil memandang Danu 'Kita udah berteman lama Nu...dan aku gak pernah menganggap kalau Damar mencintai Vina, dia hanya terobsesi sama Vina, dia meyakinkan pikirannya kalau Vina adalah wanita sempurna yang harus dia dapatkan, tanpa tahu kalau Vina hanya wanita yang toxic, dia cuma butuh Damar saat dia ingin saja, kalau enggak ya mana mungkin dia hubingin Damar, dan bodohnya Damar kira itu adalah balasan dari semua effort yang dia keluarkan untuk Vina. Dari awal hubungan mereka ini udah tidak bisa di harapkan...' jelas Zara

'Kamu masih sayang ya sama Damar...?' tanya Danu tiba-tiba

Zara terdiam mendengar pertanyaan dari Damar, dia masih menelaah perasaannya terhadap Damar. Selama ini Zara sangat menyayangi Damar, namun keberadaannya sama sekali tidak pernah di anggap oleh Damar. Damar hanya menganggap kalau Zara adalah sahabatnya sama seperti dia menganggap Danu, jadi selama ini Zara hanya mencintai Damar dalam diam.

'Sayang masih, tapi hanya sebatas teman....' jawab Zara

'Yakin...?' tanya Danu

'Yakin...dengan melihat peristiwa barusan, menambah keyakinan aku untuk berhenti berharap kepada Damar, 15 tahun udah aku sia-sia kan hanya untuk menunggu Damar berubah. Namun aku tidak bisa menemukan signal apapun, bahkan sampai hari ini, makanya saat ini aku putuskan untuk berhenti. Aku bukan Damar yang bisa mengingkari kata-katanya, aku akan bertanggung jawab dengan kata-kataku saat ini.' Jelas Zara diiringi senyum ikhlas dari wajahnya

'Kamu hebat Ra...bertahan sekuat ini, dan melepasnya dengan ikhlas...aku doakan yang terbaik buat kamu, aku yakin orang baik akan dapat yang terbaik pula....' kata Danu kemudian

'Yuk pulang....Melanie pasti udah nunggu kamu...' kata Zara lagi

Melanie adalah nama istri Danu.

Zara dan Danu meninggalkan kafe, dan bagi Zara dia sudah meninggalkan perasaannya untuk Damar di kafe itu juga. Zara melangkahkan kaki sambil melihat kesemua sudut kafe, dia tahu banyak kenangan yang dia tinggalkan disana, karena kafe itu adalah basecamp mereka bertiga. Setiap kenangan memang indah untuk di kenang, namun itu hanya sebuah kenangan bukan tujuan sebenarnya, kenangan hanya sebuah waktu yang berjalan di kehidupan setiap manusia, makanya tidak baik terus terbelenggu dalam kenangan.

'Selamat tinggal Damar...' batin Zara

3 minggu kemudian, Zara yang sedang asik bermain dengan kucing yang baru saja dia sembuhkan di kagetkan dengan kedatangan Damar di kliniknya.

'Ngapain...?' tanya Zara dengan nada malasnya

'Kamu ada waktu enggak nanti sore...?' tanya Damar

'Emangnya kenapa...?' tanya Zara sambil terus mencuekin Damar

'Aku mau beli kado buat Vina...kali ini aku yakin buat propose ke dia...' kata Damar disertai senyuman

'Hemmmm....'

'Beberapa minggu ini aku intens berhubungan sama dia, dan sepertinya ini saatnya aku menyatakan perasaan aku kedia, sekalian melamar karena aku ingin langsung menikah saja gimana menurut kamu...?' kata Damar dengan semangat

'Ya kalau kamu udah yakin, lakuin aja Dam....aku si support doa aja....' kata Zara dengan nada malasnya

'Oke...kamu mau ya nemenin aku beli kado...?' tanya Damar lagi

'Hah...' hela Zara 'Iya ya....' jawab Zara kemudian

Sore itu Zara mengantar Damar membeli kado buat Vina, mereka berkeliling untuk membeli beberapa printilan persiapan acara melamar Damar ke Vina. Dari lubuk hati Zara ada rasa sakit dan sedikit mengganggunya, namun dengan cepat Zara menepisnya, dia berusaha menata perasaannya untuk tidak lagi berharap dengan Damar.

'Kamu mau makan apa nanti, biar aku siapin...' kata Damar sambil menelfon Vina

'Spagetti ya Dam...aku lagi pengen makan nih...sama belikan cheesee cake ya buat desertnya, aku lagi cheating day nih...' jawab Vina dengan nada manja

'Oke-oke aku bakal belikan apapun yang mau kamu makan...udah itu aja...?' tanya Damar lagi

'Huum....cepet kesini ya....' kata Vina lagi

'Iya...tunggu aku ya....' kata Damar lalu menutup telfonnya

Zara yang sedari tadi di sampingnya hanya menahan rasa sakit di hatinya, namun dia tetap bertahan dan dia hanya ingin menyelesaikan perasaannya ke Damar. Setelah membeli Cincin, buket mawar dan hadia-hadia lainnya, Damar dan Zara makan malam berdua di restoran langganan mereka. Seperti biasa menereka memesan bakmi kuah dan bakmi goreng, serta martabak telor kesukaan Zara. 

'Dam....' kata Zara tiba-tiba

'Iya kenapa...?' tanya Damar yang masih sibuk memotong martabak telor

'Aku mau ngomong serius ke kamu...' kata Zara

Damar meletakkan pisau dan juga garpu nya, dan dia menatap Zara yang memasang wajah serius.

'Ada apa Ra...?' tanya Damar

'Aku suka sama kamu...' kata Zara kemudian 

Damar tersenyum, dan dia kembali memotong martabak di depannya.

'Sebenarnya sudah dari dulu aku suka sama kamu...15 tahun yang lalu....' lanjut Zara 'Ada anak laki-laki yang membantu aku untuk berjalan di tengah hujan dengan payungnya, dia berjalan menemaniku sampai depan gerbang rumah, walaupun rumahnya tidak searah denganku. Dia lalu menjadi sahabat terbaikku, dia menjadi orang yang benar-benar tidak bisa aku gapai walaupun aku selalu ada di sisinya. Hari ini aku lihat dia bahagia dengan pilihannya, dia sudah menemukan wanita terbaik yang dia inginkan, makanya dikesempatan ini aku mau mengungkapkan perasaanku selama 15 tahun ini kepadanya, supaya dia tahu kalau aku sangat menyayanginya, dan sekarang aku sudah melepaskannya bahagia bersama pilihannya. Bukan karena aku membencinya untuk 15 tahun yang tidak dianggapnya, justru aku sangat berterima kasih kepadanya, karena selama itu aku bisa mendampingi nya, berada di dalam timeline kehidupannya dan menjadi salah satu orang yang dia sayang sebagai sahabat, makasih Damar...hari ini aku melepaskan cinta pertamaku....' kata Zara panjang lebar

Damar terdiam mendengar pernyataan cinta dari sahabatnya itu, dia merasa sangat bersalah karena selama ini tidak bisa melihat cinta yang Zara berikan.

'Ra...aku...' 

'Gak apa-apa Dam...aku mengatakan ini bukan untuk meminta jawaban dari kamu, aku hanya ingin mengungkapkannya supaya aku bisa lega dan bisa menjalin hubungan dengan orang lain tanpa adanya bayang-bayang dari kamu....aku tetap akan jadi Zara sahabat kamu yang ada di samping kamu. Seperti acar martabak, tiap kali beli martabak telor selalu ada acar di sampingnya, walaupun orang-orang gak pernah memakannya tapi acar itu akan selalu ada di samping martabak. Keberadaannya mungkin terkalahkan sama saos sambel atau cabe rawit, namun acar tetap setia menemani martabak, begitu pula dengan ku.' kata Zara lagi.

'Maafkan aku Ra....dan terima kasih kamu mau mengungkapkan perasaan kamu ke aku...' kata Damar sambil menatap sendu kepada Zara

'Iya sama-sama.....' jawab Zara dengan senyum lega

Semenjak kejadian itu Zara masih tetap seperti biasanya, dan Damar juga berprilaku seperti biasanya walaupun mereka masih terlihat sedikit canggung saat ada di tempat yang sama secara bersamaan, namun baik Zara maupun Damar tetap berusaha baik-baik saja. Dari hasil lamaran Damar, itu tidak berjalan dengan baik, Vina masih belum menjawab lamaran Damar. Namun Damar pun tidak ambil pusing akan hal itu, dia disibukan dengan kuliah dan juga pekerjaannya sebagai psikolog di kantor om nya.

1 tahun kemudian, Zara yang pindah ke Bali tiba-tiba mengirimkan undangan pernikahannya. Damar termenung memandang undanganan pernikahan Zara, dia masih mengingat semua kata-kata Zara di kala itu saat Zara menyatakan cintanya kepada Damar. Hati Damar terasa sakit, walaupun dia tahu rasa sakit itu tidak seberapa dari rasa sakit yang di rasa oleh Zara.

'Kamu bakalan berangkat ke bali kapan? mau barengan sama aku?' tanya Danu sembadi duduk di depan Damar

'Aku baru bisa berangkat sabtu pagi siii...acaranya hari minggu kan...?' tanya Damar sembari mengeluarkan handphone untuk mengecek undangan dari Zara

'Resepsinya minggu, ijab nya hari sabtu...' jelas Danu

'Kamu berangkat kapan...?' tanya Damar

'Palingan jumat malam, soalnya Melanie janji datang di malam gadisnya Zara, padalah istriku bukan gadis lagi tapi dia kekeh mau datang...hemmmm...' kata Danu di sertai tawa

'Hemmmm....' jawab Damar sambil masih memandang layar handphone nya

'Ini pesanannya mas...' kata pelayan kafe sambil menaruh sepiring martabak telor, lengkap dengan acar, saos dan juga cabe rawit

Damar termenung memandang martabak itu, dan dia tersenyum lalu mengambil martabak dan juga acarnya yang dia makan bersamaan.

'Tumbenan makan martabak pake acar kamu...' kata Danu sambil memandang aneh  sahabatnya itu

''Ternyata enak juga martabak kalau dimakan bersama acar, aku gak pernah mencobanya, dan akhirnya aku terlambat  menyadarinya....' kata Damar

Danu hanya tersenyum mendengar kata-kata dari Damar, dia tidak tahu arti acar dan martabak yang Damar katakan. 

Hari ini pesta pernikahan Zara di laksanakan, di pintu masuk ada benner dengan tulisan,

"Yoga Pranata Dan Zara Anastasia, Just merried"

Damar cukup berdiri lama disana, lalu seseorang menepuk bahunya, dan Damar berbalik badan untuk melihat siapa yang menepuk bahunya.

'Hai....' kata Zara dengan senyum sumringah

'Hai...wooowww...bisa juga pake gaun...' jawab Damar

'Ih...apaan sii kamu...' kata Zara sambil memukul baju Damar

'Congrats Ra....happy ever and forever.....' kata Damar di sertai senyuman

'Thank you....makasih udah datang ya...'

'It's my pleasure....'

'Congrats juga buat kamu...udah bisa buka klinik sendiri ya....' kata Zara lagi

'Iya nih...udah lepas dari Om Dude...doain lancar ya Ra...' 

'Pasti lah.....'

Mereka saling menatap satu sama lain, masih ada sisa-sisa rasa di dalam tatapan mereka berdua, namun itu akan menjadi sbuah kenangan bagi mereka, karena pada akhirnya jalan mereka tidak untuk bersama.

'Sayang...' kata Yoga (suami Zara) sambil merangkul pinggang ramping Zara

'Eh...sayang...' kata Zara lagi

'Hai Dam....' sapa Yoga ke Damar

'Hai..Yo....congrats ya...' kata Damar sembari menjabat tangan Yoga

'Thank you....makasih udah datang ya Dam...' kata Yoga lagi

'Kayaknya kalian berdua template ya ngomongnya...hahahaha Zara juga ngomong begitu barusan...' kata Damar lalu diikuti tawa mereka bertiga. 'Iya sama-sama...aku seneng bisa jadi saksi cinta kalian...' lanjut Damar dengan senyuman

'Oke....oke....' kata Yoga 'Sayang..ayo kesana, udah di tungguin itu...' ajak Yoga

'Oh..iya...yuk Dam  masuk...' ajak Zara

Yoga berjalan masuk ruang duluan, dan Zara berjalan berdampingan dengan Damar, saat berjalan handphone Damar berbunyi, dan Zara menghentikan langkahnya dan memandang layar handphone Damar. Ada nama Vina di layar itu, Damar lalu memandang Zara dan mereka saling menatap.

'Mau di angkat...?' tanya Zara dengan senyuman nakal

Damar tersenyum, lalu mematikan handphone nya dan memasukkan di saku celananya.

'Nope...hari ini hari bahagia kamu, aku gak mau mengganggunya dengan hal yang tidak penting...yuk masuk, Yoga udah nunggu tuh...' Kata Damar

'Oke...ayuk....' kata Zara lalu menggandeng Damar dan berjalan mendekati Yoga, suaminya

Hari itu pesta berlangsung meriah dan juga khidmat, Zara dan Yoga nampak sangat bahagia, mereka tersenyum bahagia dan Damar yang melihatnya juga lega. Selama ini dia tidak pernah mengetahui kalau ternyata dia juga sangat menyayangi Zara, dia terlalu sibuk dengan Vina tanpa dia sadar ada seseorang yang jauh lebih baik, jauh lebih indah dan juga jauh lebih menyayanginya, yaitu Zara. Namun saat ini Zara bukan lagi seseorang yang akan mencintai Damar seperti dulu, Damar sudah melewatkan kereta yang datang padanya. Dan sekarang dia harus ihklas dengan apa yang dia dapatkan, karena itulah hidup, kadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang kita terima.

'Happy wedding my dear....thank you for being my bestfriend....' batin Damar







"Aku suka sekali bakmi, aku akan berjalan jauh untuk sampai ke rumah makan bakmi yang aku suka, walaupun di perjalanan aku menemukan banyak sekali rumah makan yang menyediakan bakmi, namun aku tetap berjalan jauh untuk mendapatkan bakmi yang aku suka. Namun saat sampai sana, bakmi itu sudah tutu karena habis terjual, aku pikir 'Ah tidak apa-apa, nanti sembali berjalan pulang masih ada bakmi yang lainnya' namun aku salah, saat aku perjalanan kembali pulang, semua rumah makan sudah tutup karena waktunya sudah habis. Dan cerita ini bukan hanya tentang bakmi dan juga rasa lapar di perutku, namun ini tentang waktu, kesalahan waktu yang sudah aku buat, dan akhirnya penyesalan yang aku dapatkan." ~ Damar Hadinata.


Sekian

CitraKim

Senin, 17 Oktober 2022

Cerpen 2022

Cerpen 2022, part 4


Jodoh tak Akan Kemana

'Bissmillahirohmanirohim....' Kata seorang lelaki sambil memegang setir mobil van putih yang bertuliskan catering Adinda Yusuf.

'Hati-hati ya Jun...' kata perempuan separuh baya yang berdiri di dekat pintu rumah

'Iya umi...' jawab lelaki dari dalam mobil van itu.

Pagi itu Jun diminta ibunya untuk mengantarkan makanan catering di masjid tengah kota karena ada acara pengajian akbar. Junior La Ammar Bahsyir adalah putra pertama dari pasangan Timur tengah- Canada, ibu Junior merupakan keturunan timur tengah dan menikah dengan seorang laki-laki muslim dari Canada yang bernama Yoseph Muhammad. Dari pernikahan mereka lahirlah Junior, dan saat Junior berumur 12 tahun, ayahnya meninggal karena kecelakaan di Canada sana. Jadi semenjak kecil Junior tinggal di Canada bersama kedua orang tuanya, namun setelah ayahnya meninggal, Junior dan ibunya kembali ke Indonesia. Sepulangnya di Indonesia, ibu Junior menikah lagi dengan lelaki bernama Abdullah La Ammar Bahsyir, nama belakang ayah tirinya itu menjadi nama belakang Junior dan juga adiknya.

Kehidupan Junior bersama keluarga kecilnya saat ini sangatlah bahagia, walaupun ayah tiri, namun pak Abdul yang akrab di panggil Abi oleh Junior, sangat menyayangi Junior seperti putra kandungnya sendiri. Dari segi agama, pelajaran umum, sopan santun dan lain-lainnya tidak pernah kurang di berikan kepada Junior. Dan selama ini Jun juga di kenal dengan anak yang sangat baik dan tidak neko-neko. Kalau bicara masalah wajah, jangan di tanya lagi, karena ayah dari Canada dan ibu timur tengah walaupun tinggalnya di Indonesia, namun Jun memiliki wajah khas anak Indo blesteran pada umumnya. Tidak heran jika Jun sangat terkenal di manapun dia berada.

Saat ini Jun berusia 27 tahun, dia bekerja di perusahaan pengembang perangkat lunak komputer, atau bahasa mudahnya perusaan elektronik. Jun sudah memasuki tahun ke tiganya bergabung dengan perusahaan itu. Jun sendiri mempunyai teman dekat bernama Ayana Gamilasari, Ayana atau yang sering di panggil Aya atau Ay itu bekerja di pusat penelitian tanaman holtikultura di kota mereka. Memang mereka berdua memiliki background pendidikan yang berbeda 180 derajat, namun mereka berdua cukup akrab. Jun bertemu Ayana saat usianya 11 tahun, tepat setelah ayah Jun meninggal dan dia kembali ke Indonesia di rumah neneknya, atau ibu dari ibunya Jun. Hampir 15 th lebih Junior dan Ayana berteman baik, segala sisi buruk dan baik dari mereka berdua sudah tahu satu sama lain.

'Astaugfirllah...Jun...kamu ini kok ya sering banget lupa siii...' kata Ayana sambil membawa beberapa kotak kertas dari dalam rumah Junior

'Astaugfirlah...' jawab Jun sambil menepuk dahinya

Ayana mengerutkan keningnya dan memberikan kotak yang berisi spanduk produk baru dari kantor Jun, karena Jun sendiri bekerja di bagian marketing produk di perusahaan elektronik itu.

'Umi nyuruh aku ta'aruf lagi nih...katanya udah waktunya buat nikah....abi sama umi kamu gak nyuruh kamu kayak aku gini...?' tanya Ayana sambil memasang sabuk mengaman dari dalam mobil Junior

'Allhamdulillah nya enggak si...abi sama umi gak maksa aku buat nikah cepet-cepet...nyari duit aja masih susah mau nambah beban aja...' jawab Junior sambil fokus menyetir dan sesekali melihat arah spion untuk memastikan kalau mobilnya tidak melannggar jalur.

'hah....' desah Ayana sembari merapikan kerudungnya

'Udah lah...di coba aja dulu...kan yang namanya ada orang datang dengan niat baik mau mengenal ya di kenalin aja dulu....cocok apa gak nya masalah waktu aja...' jawab Jun santai

'Paranormal ente....tau dari mana kalau niat mereka baik....?' kata Ayana sedikit naik satu oktaf nadanya

'Lah kok malah marah siii...' Kata Junior sambil memandang teman satu-satunya itu dengan raut wajah heran

'Aku capek Jun....selama ini selalu di pertemukan oleh lelaki-lelaki yang cuma berkedok baik aja gara-gara abi pemilik pondok pesantren, mereka yang mendekati aku hanya butuh duniawi nya aja, ngaku lulusan mesir, baca surat yasin aja gagap...' keluh Ayana

'Astaugfirllahalazim Ay...nyebut Ay...gak boleh gitu kamu...husnudzon dong kamunya...jangan su'udzon aja bawaannya...' Kata Jun menenangkan Ayana.

Ayana hanya memanyunkan wajahnya saja mendengar nasehat sahabatnya itu. Ayana memang memiliki kisah cinta yang terbilang rumit saat dia SMA dahulu. Dia menyukai kakak kelasnya yang juga teman satu eskul Junior di pecinta alam, alias anak gunung. Lelaki itu bernama Saka, dan sampai sekarang Ayana masih belum bisa move on dengan Saka, dimata Ayana, Saka adalah sosok sempurna untuk semua tipe idamannya. Hal itulah yang membuat Ayana susah membuka hatinya dengan lelaki lain, satu-satunya lelaki di hidupnya selain abi nya ya hanya Jun saja. 

Sore itu Jun mengantarAyana ke toko buku langganan mereka sedari kecil, Jun langsung menuju rak komik kesayangannya dan Ayana mengobrol dengan pemilik toko perihal buku yang dia pesan sebelumnya. Saat Ayana masih di tengah pembicaraan dengan pemilik toko, ada seorang perempuan yang memasuki toko dan lewat di depan Ayana, dia berjalan menuju rak buku komik. Ayana memperhatikan perempuan yang terlihat tidak asing untuknya, karena konsentrasinya terpecah, Ayana memotong pembicaraannya dan dia berjalan mengikuti perempuan tadi.

'Aisha....' tegur Ayana sambil menepuk bahu perempuan dengan outer berwarna coklat tua itu

'Ayana...' jawab Aisha sambil tersenyum senang

'Masya Allah...udah lama ya kita gak ketemu...' kata Ayana sambil memeluk Aisha 

'Iya Ay...kamu gimana kabarnya..?' tanya Aisha

'Allhamdulillah baik Ais...kamu sendiri bagaimana kabarnya..? sekarang tinggal dimana Ais..??' tanya Ayana sambil memegang tangan Aisha

'Allhamdulliah aku juga baik Ay...sekarang udah balik ke rumah orang tua Ay...' jawab Aisha

'Study kamu udah selesai Ais...??' 

'Iya udah selesai tahun kemarin, sekarang lagi mengajar di kampus kita dulu...' jawab Aisha

'Masya Allah....sukses terus ya Ais...'

'Allhamdulillah...kamu sendiri kerja dimana sekarang Ay...?'

'Aku...aku kerja di pusat penelitian Ais...ya di kota ini juga, sesuai sama kuliah dulu hehehehe...' 

'Allhamdulillah...sukses juga buat kamu ya Ay...'

Aisha adalah teman Ayana dulu waktu berkuliah di salah satu kampus di kotanya. Ayana mengenal Aisha karena mereka sama-sama aktif di kegiatan agama kampusnya, dari sana Aisha dan Ayana dekat walaupun berbeda jurusan. Kejadian itu menarik perhatian Jun yang sedari tadi membaca komik di sisi lain rak buku di toko itu. Jun dulu tidak satu kampus dengan Ayana, jadi dia tidak mengenali Aisha, Jun perlahan mendekati Ayana dan juga Aisha.

'Ay...balik yuk...dah mau mahgrib nih...' ajak Jun sambil membawa beberapa buku komik keluaran terbaru

'Oh...iya ya...' kata Ayana sambil melihat jam tangan 'Eh Jun...kenalin nih temen kuliah aku...' kata Ayana 

'Junior...' kata Jun sambil menundukan kepalanya pelan

'Aisha...' balas Aisha dengan lembut

'Eh Ais...kita ngobrol lagi lain hari ya...jangan lupa calling-calling ya....' kata Ayana sambil beranjak dari samping Aisha

'Iya Ay....pasti nanti aku hubungi kamu kok...' jawab Aisha

'Duluan ya Ais...' kata Ayana sambil berjalan beriringan dengan Junior dan mereka meninggalkan toko buku itu.

Sekilas, mata Aisha memandang ke arah Jun, dan terlihat jika Aisha kagum dengan ketampanan Jun dan membuatnya terus memandang Jun serta Ayana sampai mereka menghilang dari toko buku itu.

'Ih...Aisha makin cantik ya Jun...' kata Ayana di dalam mobil

'Lah...ya mana aku tahu Ay...kan baru kali ini aku ketemu sama dia...' jawab Jun santai

'Oh iya ya...kan kita beda kampus...sorry lupa...keseringan bareng kamu sih...makanya aku sering lupa kalau sekolah kita beda, lingkungan rumah aja yang sama...hahaha...' cerocos Ayana

Jun hanya mengangguk-angguk saja mendengar celotehan temannya itu, Jun memang selalu bersama Ayana sejak mereka kecil. Sekolah mereka juga sama, akan tetapi untuk kampus mereka berbeda jadi bisa di bayangkan bagaimana dekatnya Jun dan juga Ayana ini. Dan seperti pada dasarnya manusia, mereka akan sangat susah untuk bisa akrab dengan lawan jenis, sama seperti yang lainnya, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati, mereka berdua saling menyayangi tanpa mereka sadari. Baik Jun dan juga Ayana saling membohongi diri mereka sendiri, jika salah satu dari mereka memiliki pasangan, baik Jun atau Ayana pasti akan berubah mood. Sama ketika Ayana menaruh perhatian kepada Saka, kakak kelas waktu SMA. Sepanjang waktu itu Jun terlihat tidak suka kalau Ayana memperhatikan laki-laki lain selain dirinya, dan selama hubungan persahabatan mereka ini, Jun sama sekali tidak terlihat menyukai seorang perempuan, banyak yang mengejar dan juga menyatakan cintanya kepada Jun, namun Jun sama sekali tidak menjalin hubungan dengan perempuan manapun, bahkan sampai saat dia sudah bekerja saat ini.

Hari itu seperti biasanya, Jun mengantarkan Ayana pulang karena kantor mereka searah, jadi Jun dan Ayana sering berangkat bersama. Sesampainya di rumah, Jun membantu Ayana membawa berkas-berkas dari kantornya untuk dia lembur di rumah. Saat memasuki teras rumah Ayana, Abi dan Umi Ayana sudah menunggu, dan langsung menyuruh masuk Ayana karena ada tamu untuk ta'aruf dengan Ayana. Jun dan juga Ayana kaget dengan keadaan saat itu, Ayana mengelak dan meminta Jun untuk menemaninya masuk ke dalam rumah. Jun sempat menolak, karena dia berfikir kalau itu bukan urusan dia, namun Abi dari Ayana menggandeng Jun masuk ke ruang tamu, dan dengan terpaksa Jun berjalan bersama Abi nya Ayana dan juga Ayana yang berjalan di belakang Jun sambil memegang ujung jaket jeans Jun. Sesampainya di ruang tamu, Jun kaget melihat lelaki yang akan ta'aruf dengan Ayana adalah Saka, kakak kelas yang tidak bisa Ayana lupakan.

'Ay...' bisik Jun sembari menolehkan kepalanya dan melihat Ayana yang bersembunyi di belakang punggungnya

'Apaan siihh...udah jalan aja...' kata Ayana dengan nada berbisik

'Ay...liat dulu napa sih...!!' seru Jun sambil menarik tangan Ayana, sehingga sekarang AAyana berdiri tepat disamping Jun

Mata Ayana masih melotot kearah Jun, yang dengan sengaja menariknya saat dia bersembunyi di belakangnya karena Ayana tidak mau di ta'aruf kan oleh orang tuanya.

'Itu....' kata Jun sambil menyenggol bahu Ayana 'Assalamualaikum pak..bu...Kak Saka...' kata Jun diiringi senyuman kaku di bibirnya

Mendengar kata Saka, mata Ayana mengubah haluannya, sekarang dia memandang lelaki yang selama ini dia kagumi dan juga dia sukai. Ayana tidak menyangka kalau orang yang akan mengajaknya ta'aruf adalah cinta pertamanya di SMA.

'Walaikumsalam...' jawab semua orang di ruang tamu, menjawab salam Jun

'Apa kabar Jun...?' tanya Saka sambil berdiri mendekati Jun dan mengajukan tangan untuk bersalaman

'Allhamdulliah baik Kak....' jawab Jun sembari menjabat tangan Saka

'Lho...kalian udah saling kenal...?' tanya umi Ayana kepada Jun

'Iya umi...ini kak Saka senior Jun sama Ayana dulu di SMA...Jun juga satu organisasi sama kak Saka..' jelas Jun sambil terus berusaha menyadarkan Ayana dari rasa shock nya bertemu dengan Saka

'Wahhh kebetulan sekali ya....' lanjut umi Ayana

'Ay...' kata Jun lagi sambil menepuk bahu Ayana

'Apa kabar Ay....? udah lama tidak bertemu ya...' kata Saka yang membuyarkan lamunan Ayana

'Eh...iya kak...e...sebentar ya...' kata Ayana sambil menarik tangan Jun dan pergi dari ruang tamu menuju ruang tengah.

Jun terlihat shock karena Ayana menggandeng tangannya di depan para tamu dan juga orang tuanya apalagi disana ada Saka, seseorang yang di sukai Ayana.

'Apaan sih Ay...kamu gak sopan banget sih...' kata Jun sambil melepas genggaman Ayana

'Astaugfirllah.....Jun...aku harus gimana....?' tanya Ayana dengan muka pucat pasi

'Maksudmu..??' tanya Jun yang tak kalah herannya.

'Itu beneran kak Saka...beneran dia yang mau ta'aruf sama aku...?' tanya Ayana tidak percaya

'Lah mana aku tau Ay...kan tadi belum ngomong apa-apa kamu langsung narik aku kesini ya mana aku tahu...' jawab Jun

Ayana masih tampak bingung dan dia tidak menyangka kalau Allah akan mengabulkan doanya dengan cara seperti ini.

'Ay...sadar Ay...' kata Jun sambil mengguncang tubuh Ayana 'Udah sekarang kamu temuan mereka dulu aja sana, jangan bikin abi sama umi malu....' kata Jun sambil menarik Ayana untuk berjalan ke ruang tamu lagi

Sesampainya disana, Jun melihat muka marah umi Ayana dan wajah tidak enak dari abi Ayana melihat kelakuan putrinya yang kabur begitu saja.

'Maaf abi umi...tadi Ayana malu soalnya belum dandan begitu, makanya tadi gugup...maaf ya....' kata Jun mencairkan suasana beku itu.

'Ohhh...begitu...udah sini Ay...gak apa-apa...' kata umi Ayana sambil menuntun Ayana untuk duduk disampingnya

Jun sendiri berjalan dan duduk di samping abi Ayana, dan abi Ayana berterimakasih kepada Jun karena dia sudah menenangkan putrinya tadi. Abi Ayana sangat menyayangi Jun sama seperti dia menyayangi Ayana, karena Jun pemuda yang baik dan juga bertanggung jawab, hanya kepada Jun abinya Ayana bisa tenang menitipkan Ayana. Malam itu proses ta'aruf berjalan dengan lancar, namun Ayana meminta sedikit waktu lagi untuk lebih mengenal Saka, walaupun sebenarnya Ayana sudah mengenal Saka dengan baik, namun di fikiran dia saat ini adalah Saka yang sekarang apakah masih sama dengan Saka yang dulu, dan Ayana juga memberikan kesempatan Saka untuk mengenalnya lebih baik lagi. Karena dulu waktu di sekolah Saka tidak pernah berinteraksi langsung dengan Ayana, hanya Ayana yang mengagumi Saka tanpa Saka tahu, dan yang tahu hanya Jun seorang.

Hari itu Ayana meminta Jun untuk menemainya membeli beberapa baju dan juga keperluan dia untuk bertemu dengan Saka, selain dengan Jun dia juga menghubungi Aisha untuk menemani dia sekaligus. 

'Kamu aneh deh...kenapa gak minta anter Saka sih...' kata Jun jengkel, karena hari itu jadwal dia main futsal dengan teman-teman kantornya.

'Aku lebih nyaman sama kamu, udah sama abi juga boleh kok keluar sama kamu....' jawab Ayana sembari melihat handphone nya karena dia mengirim pesan kepada Aisha untuk bertemu di dalam toko baju.

 'Kamu lagi chat sama siapa sihh...?? Saka ya...' tanya Jun curiga

'Ihhh apaan siii...cemburu ya....aku entar lagi nikah kamu gak ada temen berantem...hahahaha...' kata Ayana bahagia

'Idihhhh apaan siii...' jawab Jun kesal.

Sebenarnya sejak malam ta'aruf Ayana itu, hati Jun sangat tidak tenang, dia menjadi sesak dan sulit untuk bernafas lega. Dia seperti menahan sakit di dadanya dan itu membuatnya jadi susah tidur dan juga berkonsentrasi, dia juga mudah terpancing amarahnya, Jun sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya. Saat di toko baju, Ayana sibuk memilih baju di temani Aisha, dan Jun hanya duduk di pojok toko sambil memainkan game di handphone nya.

'Ay...aku kira Jun itu tunangan kamu loh...ternyata bukan...' kata Aisha

'Hahaha...Jun itu udah kayak saudara Ais sama aku....sejak kecil kita barengan dan keluarga aku sama dia itu udah besti banget...hehehehe...' jawab Ayana

'Ay...aku boleh nanya sesuatu gak??' tanya Aisha

'Iya mau nanya apa Ais...?'

'Hemmmm...ee...itu...apa Jun sudah punya pasangan...??' tanya Aisha ragu-ragu

Ayana terhenyak dengan pertanyaan Aisha, dia terlihat malu-malu sambil sesekali mencuri pandang dengan Jun yang sedari tadi duduk di pojok toko. Muncul perasaan aneh di hati Ayana saat melihat mata Aisha yang bersinar saat menanyakan tentang Jun kepadanya.

'Belum kok Ais....Jun masih sendirian...' jawab Ayana dengan nada berat.

'Hemmm begitu ya...' jawab Aisha sembari melihat kearah Jun yang masih bermain game di handphone.

Sepulangnya dari toko Ayana dan Jun mengantar Aisha sampai ke rumahnya, dan disepanjang perjalanan Aisha berusaha mengajak bicara Jun, dan dari sana Ayana menarik kesimpulan kalau Jun juga merasa nyaman berbicara dengan Aisha, sama saat Jun mengajak bicara kepadanya. Hati Ayana semakin tidak karuan, dia merasakan hal yang aneh muncul saat Jun sedang mengobrol dengan Aisha. 

'Mampir dulu yuk...' ajak Aisha sesaat setelah sampai rumahnya

'Next time ya Ais...nie masih harus anter bu boss pulang aku nya...nasib supir grab ya gini...' kata Jun dengan nada bercanda

'Ihh..apaan sii..' kata Ayana sembari memukul bahu Jun 'Makasih ya Ais...sorry ngrepotin kamu...' kata Ayana kepada Aisha

'Iya Ay sama-sama...enggak apa-apa lagi Ay....' kata Aisha 'Ya udah hati-hati di jalan ya, makasih sudah di anter pulang...' 

'Iya Ais sama-sama...' jawab Ayana

'Assalamualaikum...' kata Jun dan Ayana bersamaan

'Waalaikumsalam...' jawab Aisha

Mobil Jun berjalan menjauhi rumah Aisha, suasana di mobil menjdai dingin, Ayana masih tidak enak dengan perasaannya setelah tahu kalau Aisha menaruh hati dengan Jun, sahabatnya semenjak kecil itu. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam, dan hanya suara radio di mobil yang terdengar, tidak seperti biasanya baik Jun dan juga Ayana terdiam dengan perasaan mereka masing-masing.

Sesampainya di rumah Ayana, Jun langsung berpamitan pulang kepada Ayana dan kedua orang tuanya, disana Jun melihat Saka sedang bertamu di rumah Ayana. Dan entah mengapa perasaan Jun campur aduk kala melihat Saka berada disana. Jun sempat menyapa dan bersalaman dengan Saka sebelum dia akhirnya kembali ke mobil dan pergi dari rumah Ayana. Sesampainya di rumah, Jun melihat ibunya beserta adiknya sedang duduk di teras sambil merapikan kotak katering untuk besok pagi. Setelah mengucap salam, Jun langsung masuk ke kamarnya, dia merebahkan tubuhnya ke ranjang dan sambil menatap langit-langit kamarnya dia terbayang semua memori saat dia bersama Ayana. Jun masih belum paham jika dia sudah menyukai Ayana semenjak mereka masih kecil, Jun hanya selalu menyembunyikan rasa sukanya dan lebih senang jika terus berada di samping gadis berlesung pipit itu.

Keesokan harinya Jun menjemput Ayana ke rumah untuk pergi ke tempat kerja seperti pada hari sebelum-sebelumnya. Sesampainya di rumah Ayana, Jun melihat mobil Saka sudah terparkir disana, dan terlihat Ayana keluar dari pintu rumah beriiringan dengan Saka dan juga ibu Ayana.

'Jun....' kata Ayana kaget melihat kedatangan Jun

Jun yang juga tak kalah kagetnya dengan Ayana hanya bisa tersenyum getir sambil menyapa Saka dan juga bersalaman dengannya, Jun juga tak lupa bersalaman dengan ibu Ayana seperti biasanya.

'Jun...sekarang biar Saka aja ya yang antar sama jemput Ayana, soalnya mereka sudah mau menikah, biar tidak mengundang fitnah begitu...' kata Ibu Ayana yang membuat hati Jun semakin sakit.

'Iya umi...Jun paham kok...hehehe...selamat ya Ay...' seru Jun sambil menggoda Ayana

'Apaan sii...' seru Ayana sambil menahan rasa tidak enaknya kepada sahabatnya itu.

Jun berpamitan dan dia berangkat duluan ke tempat kerjanya, dia meninggalkan Ayana bersama Saka, seorang lelaki yang selama ini tidak bisa di lupakan oleh sahabatnya intu. Jun harus menahan rasa sakit di dadanya dan dia harus mengikhlaskan semuanya, dia juga berharap Ayana bahagia dengan Saka, walaupun dadanya terasa sesak saat melihatnya.

Hari itu Jun sedang berjalan di swalayan mengantarkan uminya untuk belanja keperluan sehari-hari, hari itu hari minggu, jadi Jun sekalian mengajak adik perempuannya juga, Jun sangat Akrab dengan Shafira, adik tirinya itu. Jun berjalan beriringan dengan ibunya dan juga adiknya, Shafira.

'Assalamualaikum Junior...' sapa Aisha yang kebetulan juga sedang berbelanja disana

'Walaikumsalam...Asiha...' jawab Jun sambil tersenyum pada Aisha

'Kamu juga belanja disini Jun...?' tanya Aisha dengan diiringi senyum sumringahnya

'Iya ini anter umi belanja sehari-hari, ama adek juga...' jelas Jun sambil mengenalkan ibu dan Shafira kepada Aisha 'Umi..ini Aisha...temennya Ayana kuliah dulu...' jelas Jun kepasa ibunya

'Assalamualaikum Umi...saya Aisha...temennya Ayana dan sekarang juga temannya Junior...' kata Aisha sambil mengacungkan tangan untuk berjabat tangan dengan ibunya Junior

'Walaikumsalam....' jawab ibu Junior sambil menjabat tangan Aisha 'Barrakallah....cantik sekali nak Aisha ini...' lanjut ibu Junior sambil memperhatikan Aisha dengan senyuman

'Masya Allah...terima kasih umi...' jawab Aisha tersipu malu.

Pertemuan itu membuat Aisha semakin menyukai Junior, dia sangat senang bisa bertemu dengan keluarga Junior, dan itu bisa menjadi langkah dia selanjutnya untuk terus bisa berhubungan dengan lelaki yang membuat dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Sepulangnya daari belanja, ibu Junior bertanya tentang hubungan dia dan Aisha, sepertinya ibu Junior menyukai Aisha.

'Kamu gak mau ta'aruf juga Jun sama Aisha...biar bisa seperti Ayana dan Saka itu...' kata ibu Junior

'Umi...aku sama Aisha itu cuma berteman saja, lagian aku masih belum berencana buat berumah tangga, masih mau perbaiki diri dulu umi...keuangan saja masih belum stabil kok ya mau nikahin anak orang...' jawab Jun tanpa expresi.

'Astaufirllah...Jun gak boleh ngomong begitu...rejeki itu Allah yang ngatur..saat kamu takut akan rejeki itu sama aja kamu menghina Allah nak...istiqfar ya nak...gak baik ngomong begitu...' kata Ibu Junior sembari mengelus kepala putranya

'Iya...iya Umi...Jun paham kok...bukan itu juga maksud Jun tadi...' kata Jun mengelak

'Umi ini...jangan paksa kakak dong...kakak sudah punya seseorang yang dia sukai...bukan kak Aisha...' celetuk Shafira dari jok belakang mobil.

'Kamu ngomong apa sih Fir...ngawur aja...' elak Junior sambil meliha adiknya dari kaca spion

'Emangnya siapa Fir..?'

Junior mnegerutkan dahinya dan sekarang melihat adiknya yang sedari tadi fokus ke handphonenya, mata Jun seolah mengisyaratkan untuk diam kepada Shafira. Dan Shafira dengan senyum penuh artinya melihat expresi Jun yang takut akan adiknya akan mengatakan sia wanita yang dia sukai.

'Umi masa gak tau sih...??' goda Shafira

'Ih...kamu ini jangan bohongin umi Fir...kakakmu ini mana pernah pacaran siii, umi paham betul...' kata ibu Junior

'Iya emang kakak gak pacaran bu, dia cuma memendam perasaannya aja, takut kehilangan soalnya kalau dia ngomong sebenarnya...' kata Shafira

Kata-kata Shafira menyadarkan Jun kalau adiknya yang masih SMP itu tahu kalau dia memandam rasa pada Ayana. Dan Jun juga paham kalau Shafira tahu Jun menaruh hatinya kepada gadis yang selama hampir 15th ini menemaninya sebagai sahabatnya. Sesampainya di rumah, Jun kaget saat melihat Ayana sudah berdiri di teras rumahnya bersana Abinya.

'Ngapain disni...?' tanya Jun kepada Ayana tepat setelah keluar dari mobil

'Jun...Assalamualaikum dulu dong...' celetuk  Abinya

'Oh..Assalamualaikum bi...' kata Jun sambil mencium tangan abinya.

'Waalaikumsalam warohmatullah...' jawab abinya

'Ada apa Ay...?' tanya Jun kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ayana

'Masa aku gak boleh main kesini siih...' jawab Ayana sambil berjalan menghampiri ibu Junior dan Shafira yang masih berdiri di depan mobil 'Assalamualaikum umi...' kata Ayana sambil mencium kedua pipi ibu Junior san juga tangannya.

'Waalaikumsalam Ay...' jawab ibu Junior dengan senyuman

'Hai kak...' sapa Shafira kemudian

'Hai....' kata Ayana sambil memeluk adik Junior.

'Tumbenan kamu gak telfon aku kalau mau kesini...? ada apa sihh...?' desak Jun sambil menghampiri Ayana

'Idih...emang kalau aku telfon kamu bakal sediain karpet merah gitu disini...?' kata Ayana menggoda Jun

'Serius nanya malah gini jawabannya...' kata Jun kecewa

'Umi....Ayana mau minta bantuan umi...' kata Ayana sambil bergelayut di lengan ibu Junior.

'Ada apa sih Ay....? ngomong aja sama Umi, Insa Allah umi bantu Ay...' jawab ibu Junior

'Ayana mau belajar masak umi...sekalian mau pesen katering 15 kotak buat hari selasa besok bisa kan umi..?' jelas Ayana

'Hahaha...awas umi...hancur dapur umi kalau Ay masak disini...' kata Junior di ikuti ketawa kerasnya

'Ih...apaan si kamu Jun dasar...awas ya...' kata Ayana sambil memukul bahu Junior

'Ow...bisa-bisa Ay...umi siapin buat selasa ya, terus kamu kapan mulai belajar masaknya, nanti umi tuntun sampek bisa...' kata ibu Junior

'Makasih Umi.....besok sore ya umi aku mulai masak, sehabis pulang kerja...' kata Ayana

'Iya baiklah....umi tunggu ya...' kata ibu Junior

'Ay..kenapa gak minta ajarin umi kamu...kan si umi juga bisa masak...' tanya Junior

'Ih...kamu ini..ya gak apa-apa lah...umi ku sibuk ama santri-santrinya, lagian enakan masakan umi kamu ketimbang umi aku....' jawab Ayana sambil terus menggandeng tangan ibu Junior

'Eh Ay...awas ya...aku sama Abi baru aja benahin dapur, kalau sampai dapur berantakan kamu ntar aku culik terus aku jadiin tukang yah...' ancam Junior

'Umi...Jun jahat banget....' kata Ayana sambil memeluk ibu Junior

'Jun...udah ah...masa bertengkar terus kayak anak kecil...' kata ibu Junior sambil mengelus punggung Ayana 'Udah Ay...yuk masuk dulu, tadi umi beli beberapa buah anggur kesukaan kamu, ayuk kita makan di dalam..' ajak ibu Junior

'Allhamdullilah..kebetulan Ayana laper umi....hehehehe..' kata Ayana

'Yey... kalau makanan aja cepet...' kata Jun sambil masuk rumah bersama Shafira dan diikuti Ayana, ibunya dan abinya juga

'Eh..iya Ay..tadi umi ketemu sama temen kamu namanya Aisha.....' kata Ibu junior sambil menaruh kantong belanjaan di meja makan

'Oh...ketemu di mana umi...?' tanya Ayana

'Tadi di super market sana, sama Jun dan Shafira juga....cantik ya si Aisha itu....' jelas ibu Junior

'Iya umi...dari dulu emang cantik si Aisha umi...' jawab Ayana

'Aisha kira-kira sudah menikah atau belum ya Ay...?' tanya ibu Junior

Ayana tiba-tiba menghentikan pekerjaannya yang sedari tadi membantu ibu Junior mengeluarkan buah-buahan dari kantong plastik. Dia tercengang mendengar pertanyaan dari ibu Junior, dan seketika hatinya terasa menyentuh sesuatu yang sangat panas, sehingga membuatnya terasa tersengat panas. Ayana memandang ibu Junior dan tersenyum getir setelah mata mereka berdua bertemu.

'Ay belum tau umi...nanti coba Ay tanya ke Aisha ya umi...' jawab Ayana

'Iya...coba kamu tanyakan ya...umi lihat sepertinya Jun dan Aisha saling terterik satu sama lain, kalau semisal Aisha belum menikah, umi berencana mau ta'aruf gitu seperti kamu dan Saka...' lanjut ibu Junior

'Iya umi...nanti Ay cari tahu dulu...' jawab Ayana sembari memalingkan wajahnya dan kembali fokus membantu mengeluarkan buah dari kantong plastik.

Sepulangnya dari rumah Jun, Ayana terus kepikiran dengan pertanyaan ibu Junior, dai juga berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri kalau Jun hanya sahabatnya dan sekarang pria yang akan mendampinginya adalah Saka bukan Junior. Namun apa daya, walaupun mulut bisa mengularkan ratusan ribu kebohongan, namun hati tetap dengan satu kejujuran.

Hari itu Ayana menghampiri Jun di kantornya, dia mengajak Jun pulang bareng karena dia mau mulai les memasak di rumah Jun. Setelah belanja Jun dan Ayana bergegas pulang ke rumah, di hari itu cuaca mendung dan gerimis mulai membasahi perjalanan mereka untuk pulang. Di sepanjang perjalanan Ayana dan Jun mengobrol seperti biasanya, mereka juga saling bercanda sambil memakan ice cream seperti biasa mereka lakukan sebelumnya. Baik Ayana dan juga Jun mereka nampak sangat nyaman satu sama lain dan juga mereka tidak perlu menjadi orang lain saat bersama seperti ini. Mereka sebenarnya tidak sadar jika mereka saling membutuhkan satu sama lain, saling menguatkan dan salaing menyayangi satu sama lain,

Ini sudah 1 mingguan Ayana belajar memasak di rumah Jun, dan selama itu Jun selalu menganggu Ayana dan umi nya di dapur kala sedang memasak. Ayana kadang sebel karena sikap Jun, namun dia juga suka karena Jun adalah orang yang sangat jujur dalam menilai makanan, jadi Ayana tidak sungkan untuk menyuruh Jun mencicipi makanannya. Hari itu Ayana belajar membuat semur ayam, dan kebetulan itu menu kesukaan Jun, dari awal memasak Jun sudah mengultimatum Ayana kalau sampai gagal Jun gak mau antar dia pulang hari itu.

'Awas ya kalau gak enak...pulang jalan kaki kamu...' kata Jun mengancam

'Ihh tega banget si kamu... kan aku cewek, kalau di culik gimana, walaupun cuma beda satu gang tapi kan jauh juga jalan ini juga udah malam emang tega kamu...' cerocos Ayana sambil terus mengaduk bumbu semur dan ayamnya.

'Udah jadi belum...?' tanya Jun gak sabar

'Ih...sabar napa...bumbunya belum meresap nih...' kata Ayana sambil memperhatikan Jun yang sedari tadi sudah siap dengan piringnya dan sendok di tangannya

'Umi...liat...' kata Shafira sambil menggandeng ibu Junior mendekat kearah dapur dan melihat Jun serta Ayana dari belakang

'Kenapa Fir...??' tanya ibunya bingung

'Ini jawaban Shafira kemaren....' lanjut Shafira sambil menunjuk ke arah Jun dan Ayana

Ibu Junior mengerutkan dahinya pertanda kalau dia tidak mengerti dengan perkataan putrinya itu, dia juga melihat kearah Junior dan juga Ayana yang terus aja bertengkar kecil karena semur ayam yang belum matang juga.

'Umi gak merasakan sesuatu saat melihat Kakak sama kak Ay..?' tanya Shafira 'Umi...kak Ayana adalah cinta pertama kakak...dari dulu kakak sayangnya cuma sama kak Ay...' bisik Shafira

'Hah...' kata ibu Junior seolah tidak percaya

Namun setelah melihat mata mereka berdua yang salaing memandang, ibu Junior bisa mengetahui kalau Ayana lah yang selama ini mengisi hati Jun putra nya itu. 

Malam itu Jun mengantarkan Ayana pulang ke rumahnya menggunakan motor, karena jarak rumahnya dengan rumah Ayana cukup dekat, sebenarnya jalan kaki juga bisa. Ayana membawa hasil masakannnya yang sudah di approve oleh Jun beserta keluarganya.

'Hebat nih....seminggu doang udah bisa masak...mau masakain Saka ni kayaknya....' celetuk Jun sambil mengendarai sepeda motornya.

Ayana terdiam saat mendengar kata-kata Junior barusan, dan dia terus memandang bungkus makanan yang ada di pangkuannya saat ini. Dan dia juga memandang punggung Jun yang sedari tadi bicara kepadanya.

'Ay...kamu denger enggak siii...??' tanya Jun sambil menoleh ke arah Ayana.

'Hah...apaann...?' kata Ayana pura-pura tidak mendengar pertanyaan Jun, padahal dia jelas mendengarnya

'Aduhhh besok beli jilbab yang agak tipisan ya....biar kalau di ajak ngomong tukang ojek denger...' jelas Jun dengan nada sedikit marah.

'Apaan sii kamu...?' jawab Ayana sambil memukul punggung Jun

'Kamu besok kalu masak jangan kebanyakan micin yah....garemnya juga di takar yg bener...kecap juga ama itu...'

'Ihhhh cerewet deh kamu...umi kamu aja gak secerewet kamu...' potong Ayana sambil memasukkan coklat batangan ke mulut Junior

'Ahhh' elak Jun sambil menurunkan penyangga sepeda nya 'Gigiku coklat tau...' elak Jun sambil menarik kembali coklat yang di kasih Ayana dari mulutnya

'Makanya jangan cerewet tau....' kata Ayana sambil berjalan menuju teras rumahnya dan diikuti oleh Jun

'Lah...aku ini mau kasih masukan buat kamu biar kamu bisa jadi master chef gitu...hahaha' kata Jun sambil memakan sisa coklat tadi

'Ihhh...apaan sii...? siapa tadi yang habis dua piring coba...enak kan tapi masakan aku...' kata Ayana bangga

'Eh...aku cuma laper tadi jadi...'

'Ay...' kata Saka dari depan pintu rumah Ayana

Jun dan Juga Ayana sponta menoleh kearah pintu masuk rumah, dan disana sudah ada Abi dan Umi Ayana, serta Saka yang berdiri tidak jauh dari posisi orang tua Ayana.

'Mas Saka...' kata Ayana sedikit kaget dengan kedatangan Saka

'Udah selesai kursus masaknya...?' tanya abi Ayana

'Udah abi....' jawab Ayana sambil mencium punggung tangan abinya dan juga umi nya

'Assalamualaikum abi..umi...' kata Jun saraya mencium tangan kedua orang tua Ayana

'Kak Saka...' lanjut Jun sambil menjabat tangan Saka

'Eh Jun...' jawab Saka sambil terus memperhatikan Jun, dan Saka terlihat tidak suka karena Jun dan Ayana pulang bersama

'Waalaikumsalam...' jawab kedua orang tua Ayana bersamaan

Sejak kejadian itu Jun jadi jarang menemui Ayana, ibu Ayana pun dengan khusus meminta pengertian keluarga Jun karena Ayana sedikit menjaga jarak kepada Jun. Ibu Jun yang mengerti akan maksud orang tua Ayana hanya bisa meng iya kan semua permintaan ibu Ayana, walau sebenarnya dia tahu putranya akan sangat terluka akan hal itu. Jun akan berangkat futsal hari itu, dan dia berhendi di toko untuk membeli minuman. Tak sengaja dia bertemu dengan Aisha, dan Aisha meminta tolong Jun untuk mengantarnya ke panti asuhan yang letaknya tidak jauh dari lapangan futsal yang akan Jun datangi, dan Jun dengan senang hati mengantarkannya, karena dia berfikir kalau Aisha adalah teman dari sahabat bainya sekaligus wanita yang dia sayangi. Sesampainya di panti asuhan, Jun dan Aisha melihat Saka dan juga Ayana yang berada di panti asuhan itu. Ternyata ayah Saka adalah pemilik panti asuhan itu, Ayana kaget saat meilhat Jun dan Aisha datang berdua, dan Jun juga membantu Aisha membawa beberapa bahan makanan untuk anak-anak di panti.

Mata mereka saliang menatap, namun Jun langsung mangalihkan pandangan dan menyapa Saka seperti biasanya, dia tidak ingin terlibat dengan hubungan Ayana dan Saka. Setelah menaruh bahan makanan milik Aisha, Jun berpamitan untuk lanjut ke lapangan futsal, karena dia sedang di tunggu oelh teman-temannya. Setelah kepargian Jun, Ayana membantu Aisha menyiapkan makanan untuk anak-anak panti asuhan. Aisha memperhatikan sikap berbeda dari Ayana dan juga Jun, mereka terlihat sedang tidak baik-baik saja, apalagi saat Jun pergi tadi terlihat Ayana terus memandang Jun sampai dia masuk kedalam mobilnya.

'Ay...' panggil Aisha

'Iya Ais...kenapa..?' tanya Ayana sambil terus merapikan bahan makanan yang baru di keluarkan dari kardus

'Kamu tahu gak di dunia ini ada tiga hal yang tidak bisa di sembunyikan....' kata Aisha tiba-tiba

'Apa emangnya...??' tanya Ayana lagi sambil tersenyum menanggapi kata-kata temannya itu

'Yang pertama itu batuk, lalu kemiskinan dan yang terakhir adalah cinta...' jawab Aisha

Ayana spontan terpaku mendengar kata-kata dari Aisha, dia paham betul jika saat ini temannya itu sedang menyindirnya. Namun sesaat kemudian Ayana kembali menormalkan keadannnya, dan berbalik memandang temannya itu.

'Lalu...?' kata Ayana sambil menyandarkan tubuhnya di tembok dekat meja makan dan memandang Aisha

'Kamu tidak bisa menyembunyikan ketiganya Ay...jangan di sembunyikan...ungkapkan saja, husnuzon sama Allah Ay... percaya sama jalan yang dia tunjukkan sama hati kamu...masalah endingnya nanti seperti apa biar Allah yang atur, tapi kita dan terlebih kamu hanya bisa berusaha sebaik mungkin...' kata Aisha

Ayana mengerutkan dahi menandakan tidak mengerti dengan perkataan Aisha itu, lalu Aisha tersenyum dam berjalan mendekat ke Ayana, lalu dia berbisik di telinga Ayana.

'Jun pria yang baik...coba sholat istiqarah Ay...minta sama Allah jalan mana yang harus kamu pilih...' kata Aisha kemudian

Mata Ayana terbelak mendengar kata-kata Aisha, Ayana seolah tidak ingin mempercayai kata-kata Aisha, namun hatinya bergejolak mendengar kata-kata Aisha. Mengelak pun rasanya tidak bisa Ayana lakukan, dia hanya bisa tersenyum kecut mendengar nasehat dari temannya itu. Ternyata percakapan mereka di dengar oleh Saka, dan sepulangnya dari panti Saka mengajak Ayana makan di sebuah restoran.

'Ay...gimana perasaan kamu hari ini...?' tanya Saka sambil menyiapkan alat makan dan me lap nya dengan tisu.

'Allhamdulliah senang mas...makasih ya udah di ajak ke panti...dan jalan-jalan juga....' jawab Ayana dengan senyuman

'Allhamdulillah...aku seneng kalau kamu seneng...' jawab Saka tenang

'Wah...semur ayam....' seru Ayana saat pramusaji restoran memberikan satu porsi semur ayan di hadapan Ayana

'Kamu suka makanan ini ya....?' tanya Saka

'Bukan aku, tapi Jun...Jun suka banget sama semur ayam....dia kalau umi masak semur ayam, nasi satu panci pun habis...hehehehe...' kata Ayana sambil tertawa

Dan itu membuat muka Saka seketika jadi masam, dia memandang getir kearah semur ayam, dan Ayana yang tidak sadar akan hal itu, dia terus berbicara tentang Jun sambil mengambil beberapa potong ayam dari kuah kental semur ayam di depannya.

"Ay....aku mau melamar kamu minggu depan, sepertinya perkenalan kita sudah cukup...' kata Saka tiba-tiba

Ayana spntan langsung menghentikan makannya, dan dia menatap Saka dengan pandangan tidak kaget seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Saka.

'Kita sudah lama kenal, kamu juga dulu adik kelas aku dan kamu juga dulu menyukaiku sampai sekarang, itu di buktikan dengan kamu yang tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, berarti kamu menungguku Ay...makanya aku datang dan sekarang aku mau memintamu untuk selamanya menemaniku..' jelas Saka

Ayana meletakkan alat makannya, dan dia menatap kedua mata Saka seolah ingin memahami apa yang sedang pria yang dulu dia kagumi itu fikirkan. Dahulu dia selalu mengagumi Saka, karena kepintarannya, kesolehannya, kebaikannya dan juga segala macam nilai positif di dalam diri Saka, tanpa dia sadari kalau Saka hanyalah manusia biasa yang juga memiliki nilai negatif dalam dirinya.

'Mas Saka....apa benar kita sudah saling mengenal....?' tanya Ayana sambil menatap mata Saka, dan kali ini Ayana sama sekali tidak deg deg an atau grogi seperti saat dia duduk di bangku SMA dulu, mendengar nama Saka saja tubuhnya sudah bergetar.

Saka balik memandang Ayana dengan pandangan sayu, seolah tidak percaya kata-kata seperti itu kepadanya.

'Aku memang adik kelas mas Saka dulu, dan dulu kamu juga tidak pernah ajak aku mengobrol, kamu hanya menyapa aku ketika aku bersama Jun, dan itupun juga bisa dihitung menggunakan jari...memahami seseorang memang butuh waktu jangka panjang mas, tidak bisa dua atau tiga hari saja. Mas jangan terburu-buru menilai aku dan juga menilai perasaan mas terhadapku, bagaimana jika kita berdua salaing shalat istiqarah untuk meminta ke pada Allah atas semua permasalahan ini, apakah jalan yang harus kita tempuh. Selama belum menemukan kepastian, ada baiknya kita menjaga jarak dulu mas...untuk menghindari fitnah. ' jelas Ayana

Pernyataan Ayana itu membuat hati Saka sakit mendengarnya, dia tidak percaya gadis yang dia suka memberikan pernyataan yang membuat dirinya sakit. Dia hanya terdiam dan meng iyakan perkataan Ayana, kejadian itu benar-benar membuat Saka sedih dan juga malu atas pernyataan cemburunya yang malah membuat dia kehilangan Ayana.

3 bulan berlalu, dan Saka semakin menghilang, orang tua Ayana pun menanyakan prihal berkurangnya frekuensi kedatangan Saka ke rumah, Ayana juga terlihat jarang bertemu dengan Jun. Junior sendiri di tugaskan keluar kota selama 6 bulan, hal itu yang membuat Ayana dan Jun tidak bisa bertemu pasca pertemuan mereka di panti asuhan itu. Kerinduan Ayana terlihat dari dia yang sering bermain ke rumah Jun, walaupun dia tahu Jun tidak ada disana, itu dia lakukan hanya untuk melampiaskan rasa rindunya ke Jun.

'Kak Ay...kakak kangen ya sama kakak...?' tanya Shafira yang membuat Ayana kikuk dibuatnya

'Ihhh kamu ini ngomong apa sih...' elak Ayana tersipu malu

'Hemmmm kakak juga kangen tuh sama kak Ay...tiap malam nanyain ke umi, Ayana udah sampai mana masaknya mi...?? hah...emang kalau cinta itu susah mau di tutupi kayak gimanapun....' kata Shafira sambil berlalu meninggalkan Ayana dengan segudang rasa senang yang bercampur dengan malu karena bocil Shafira tahu tentang apa yang dia rasakan.

Hari ini Jun sudah menyelesaikan kerjanya di luar kota, dan dia balik lagi ke kota yang sama dengan Ayana. Dengan bahagia, Ayana berjalan ke rumah Junior sambil membawa semur ayam kesukaan Jun, dia sudah memantapkan hatinya ke Junior, setelah dia mendapatkan jawaban dari sholat istiqarahnya. Sesampainya disana dia melihat Abi Junior memakai pakaian formal batik dan juga celana panjang berwarna hitam, dia tampak rapi sekali.

'Assalamualaikum Bi...' kata Ayana sambil mencium tangan abi Jun

'Waalaikusalam warohamtullahi wabarokatuh....' jawab Abi Jun

 'Abi mau kemana....?' tanya Ayana heran

'Ay...hari ini umi gak bisa ajari kamu masak yah.....hari ini abi sama umi mau antar Jun...' jawab abinya 

'Mau antar kemana Abi...?' tanya Ayana lagi

'Jun mau ta'aruf sama wanita pilihannya...ini umi lagi siap-siap...maaf ya Ay...hari ini kamu pulang dulu ya, besok umi pasti ajari kamu masak lagi....' kata Abi Jun.

Dan kata-kata abi Junior itu membuat hati Ayana sakit, dia menahan tangisnya dan dia menutupi sedihnya dengan senyumannya.

'Wah...bagitu abi...iya baiklah, Ay balik dulu ya Abi...ini, nitip buat Jun, tadi Ay masak buat dia...' kata Ayana

'Iya Ay...nanti abi sampaikan...'

'Ay pulang dulu ya bi...Assalamualaikum abi...' kata Ayana sambil menahan getaran suaranya

'Waalaikusalam warohamtullahi wabarokatuh....' jawab Abinya.

Ayana meninggalkan rumah Jun dengan semua kesedihan di hatinya, tak terasa air matanya mulai mengalir dan membasahi kedua pipinya. Sesampainya di rumah, Ayana langsung memasuki kamarnya dan berusaha menenangkan dirinya, dia berusaha tidak menangis lagi karena tidak ingin membuat orang tuannya khawatir. 30 menit kemudian, Ayana yang sedang menenangkan diri dengan merebahkan dirinya di tempat tidurnya dipanggil oleh umi nya. Ayana membuka pintu kamarnya, setelah dia membersihkan wajahnya dan membuat dia seolah-olah tidak apa-apa.

'Ada apa umi...?' tanya Ayana

'Ay...ada yang mau ta'aruf sama kamu, katanya kalau bisa langsung di khitbah....' kata uminya

Ayana mengerutkan dahinya, dan di dalam hatinya bergejolak karena dia sedang bersedih atas kejadian yang dia alami barusan, dan kegagalan dia dengan Saka juga, ini ada seseorang yang malah mau langsung melamarnya. Ayana keluar kamar dengan muka masamnya, berharap lelaki itu akan mengurunkan niatnya untuk melamarnya, karena jujur Ayana masih belum mau berkomitmen setelah apa yang dia lalui.

'Asslamualaikum Ay...' kata Jun dengan lembut.

Mata Ayana terbelak melihat Jun sekeluarga sudah duduk manis di ruang tamu rumahnya, abi dan umi Ayana pun terlihat tersenyum sumringah memandang Ayana yang masih shock dengan apa yang dia lihat saat ini.

'Wa..Waalaikumsalam...' jawab Ayana dengan terbata-bata

'Aku sekeluarga kesini mau melamar kamu Ay...apa kamu menerima lamaran aku...?' tanya Jun sambil berdiri dan berjalan mendekati Ayana

Ayana memundurkan langkahnya dan terus menatap heran ke arah Jun, dan Jun juga menghentikan langkahnya.

'Kamu....maksudnya...??' tanya Ayana masih dengan keadaan shock

'Aku mau meminta kamu buat jadi istri aku Ay...ini abi sama umi datang kesini mau melamar kamu...' jelas Jun

'Atas dasar apa kamu tiba-tiba mau melamar aku...?' tanya Ayana lagi

'Allah...karena Allah yang memberikan petunjuk kepadaku, dan karena dari dulu hati aku sudah memilih kamu Ay...' jawab Jun

Ayana tersipu mendengar penjelasan dari Jun yang membuat jantungnya semakin berdegup kencang.

'Oke...aku paham....tapi...sebentar...aku tenangin hati dulu ya...' kata Ayana sambil duduk di kursi depan umi dan abi Junior

'Oke...nih minum...' lanjut Jun sambil menyodorkan teh hangat untuk Ayana

Ayana memngambil teh dari tangan Jun dan meminumnya, dia mencoba menenangkan hatinya dan sebenarnya dia juga sudah menyiapkan jawaban dari lamaran Jun itu.

'Jadi gimana...? aku di terima tidak...?' tanya Jun sambil jongkok tepat di depan Ayana

'Dengan satu syarat...' kata Ayana sembari menaruh gelas tehnya di meja

'Apa...?' tanya Jun lagi sambil menatap mesra ke mata Ayana

'Kamu janji gak akan protes keasinan lagi kalau aku masak semur ayam...oke...' kata Ayana lalu diikuti tawa semua orang yang ada di ruangan itu

'Iya ya aku janji....' kata Jun dengan senyuman

'Janji ya...' kata Ayana sembari mengikat kelingking Jun dengan kelingkingnya

'Allhamdullilah....' kata semua orang di ruangan itu

Seminggu kemudian mereka akhirnya menikah, 15 tahun saling mengenal dan menjadikan mereka pasangan seumur hidup, insa Allah. Jun menggandeng Ayana yang sekarang sudah berstatus istrinya, mereka berjalan di pesisir pantai untuk bulan madunya. Mereka juga saling berpelukan sambil menatap matahari yang mulai tenggelam, Jun dengan mensra mengecup kening Ayana dan merekapun saling tersenyum lega dan juga bersiap menghadapi hidup mereka kedepannya yang pasti masih penuh misi yang harus di selesaikan setelah misi pertama untuk menemukan jodoh, dan sekarang misi untuk tetap menjaga jodoh itu sampai maut memisahkan.







Pernikahan yang sukses itu bukan saat aku menjalani hidup damai bersamamu istriku, melainkan saat aku tidak bisa hidup dengan damai tanpa mu. Junior La Ammar Bahsyir.



Sekian

Citrakim

Cerpen 2022

 Cerpen 2022 part 3



HEARTBEAT

Lorong rumah sakit pagi ini lumayan terlihat sepi, setelah pergulatan dengan virus selama 2 tahun terakhir ini, keadaan rumah sakit saat ini tergolong lebih lenggang dibanding 2 tahun lalu. 

'Dokter Gavin, pasien R23 sedang dalam keadaan kritis...' kata seorang wanita dengan menggenakan seragam suster pada umumnya

'Iya saya kesana...' jawab Gavin sambil bergegas menuju kamar 23 

Gavin Andreas, seorang dokter muda, usia 30 tahun dan ini tahun terakhir dia menjadi koas dan dia akan melanjutkan sekolah untuk spesialisnya. Gavin terkenal dengan keramahannya, dan yang pasti ketampanannya juga. Di negara ini memang good looking mempunyai previlage yang luar biasa, dan mereka juga akan mendapatkan perhatian khusus karena good lookingnya. Begitu pula dengan Gavin, dia memiliki senyum yang ramah, dan juga orangnya sangat ramah dengan siapapun. Banyak suster dan para dokter muda lainnya yang menaruh hati pada Gavin, namun selama 3 tahun Gavin bekerja di rumah sakit itu, dia tidak ada sekalipun terlibat cinta lokasi dengan siapapun disana. Gavin lebih suka menghabiskan waktu untuk bekerja dan juga untuk hari libur Gavin lebih memilih istirahat atau hanya sekedar main futsal untuk kesehatannya. Gavin terlihat tidak begitu tertarik dalam komitmen dengan lawan jenisnya, dia juga bukan tipe gay juga, dia hanya ingin menikmati masa single nya.

'Vin...weekend ke Redhouse yuk...' ajak Bram teman dokternya

'No...I don't have many time....' jawab Gavin sambil terus membolak-balik recam medis pasiennya

'Mau kemana siii...kok no time to party...?' tanya Bram yang masih memaksa temannya yang ansos (anti sosial) itu untuk ke club Redhouse

'Semedi...cari wangsit....biar cepet lulus gelar doktornya aku...hahahaha...' jawab Gavin sambil berlalu meninggalkan Bram yang terbelak matanya mendengar jawaban darinya.

Gavin memang tidak begitu tertarik dengan gemerlap dunia malam, dia lebih suka menghabiskan waktu dengan buku-bukunya, terkadang dia juga menghabiskan waktu untuk membuat sebuah lukisan. Hari itu Gavin tidak ada jadwal untuk jaga di rumah sakit, dia pulang ke apartemen nya malam itu. Jam 11 malam, Gavin sampai di apartemen nya, dia langsung menghangatkan makanan dan duduk di meja makan sambil melihat rekam medis pasien nya dari laptopnya. Rutinitas yang sama di setiap harinya, dan Gvin seolah sudah terbiasa dengan keadaan itu, dia juga terlihat menikmati kehidupan monotonnya itu.

Gavin membuka laci P3K nya, dan dia mendapati ada beberapa obat yang habis, karena dia masih belum tidur, dia memutuskan untuk pergi ke apotek 24 jam unttuk membeli beberapa obat yang habis di dalam kotak P3K nya, sembari dia menghirup udara di malam itu untuk menghilangkan rasa penatnya. Gavin sampai di apotek dengan berjalan kaki dari apartemen nya, dia juga tak lupa membeli kopi dari gerai kopi yang buka 24 jaam disana. Sesampainya di apotek, Gavin disambut oleh pemilik apotek yang kebetulan juga ayah dari teman Gavin yang sesama dokter di rumah sakit. Gavin memang sudah langganan di apotek itu sejak 3 tahun yang lalu, tepat saat dia pindah ke apartemen itu.

'Malam om.... ' sapa Gavin sambil duduk di depan meja konsultasi, tepat didepan pak Hendra, pemilik apotek sekaligus apoteker disana.

'Eh...ada dokter idol nih.....' kata pak Hendra disertai tertawa kecil

'Ih...apaan si om...' jawab Gavin malu

Dokter Idol adalah julukan untuk Gavin di rumah sakit tempat dia bekerja, mungkin karena wajah Gavin mirip dengan oppa-oppa korea yang sering muncul di drama, jadi kebanyakan orang memanggil Gavin dengan sebutan dokter Idol. Gavin sempat bercengkrama dengan pak Hendra lama, lalu kemudian pak Hendra meminta Gavin untuk menjagakan apoteknya sebentar karena dia mau ketoilet, ini di karenakan pegawainya juga masih di toilet belum kembali ke apotek. Untuk lokasi toilet memang terletak terpisah dari ruko apoteknya, namun tidak berjarak jauh dari sana, jadi Gavin mempersilahkan pak Hendra untuk ke sana dan Dia beralih ke meja konsultasi menggantikan pak Hendra.

Jam menunjukan pukul 01.25 WIB, jalanan masih tergolong rame malam itu, dan ada pula beberapa pelanggan yang berdatangan ke apotek untuk sekedar membeli obat atau minuman penyegar disana. Gavin melayani mereka semua dengan ramah, dan dia juga terlihat menikmati perannya saat ini. Tidak lama kemudian datang seorang wanita, dengan mini dress berwarna coklat tua, dibalut syal yang berwarna putih tulang yang menutupi area wajah bagian bawahnya. Rambutnya tertata rapi sebahu, badannya yang lansing serta penampilannya yang terlihat seperti habis dari sebuah pesta lengkap dengan heels dengan warna senada bajunya.

'Maaf...ada hemmmm itu....' kata wanita itu terlihat kebingungan.

'E...apa ya mbak...?' tanya Gavin yang tak kalah bingungnya juga

Wanita itu terlihat berhati-hati dalam berbicara, dia sesekali melihat kearah sekitar, dan mencoba menutupi wajahnya. Kondisi apotek yang sepi itu membuat dia memberanikan diri membuka sedikit penutup yang menutupi wajahnya.

'E...ada obat sakit perut gak mas...?' tanya wanita itu

'Sakit perut apa mbk...? diare kah?' tanya Gavin balik sembari melihat wajah wanita yang ada di depannya itu

Wanita itu kembali menoleh, seolah dia takut tertangkap oleh seseorang, dan Gavin memahami gestur yang sperti itu, tandanya wanita itu tidak dalam keadaan aman, karena dia terlihat ketakutan dan selalu melihat arah sekitarnya. Gavin keluar dari meja konsultasi dan berjalan mendekat ke arah wanita itu, lalu menyuruhnya duduk di bangku apotek yang di tutupi beberrapa rak, yang tidak memungkinkan wanita itu terlihat dari luar apotek. Disana Gavin memandang wanita berambut coklat gelap itu, dia bermata coklat, dan juga memiliki struktur bibir yang sexy, hidungnya yang mancung manambah kecantikannya. Gavin berusaha menenagkan wanita itu dan kembali menanyakan dia butuh obat apa.

'Kamu mau saya ambilkan obat dengan merk apa...?' tanya Gavin lagi, dan sekarang Gavin melihat wanita tadi terus memegang perut bagian bawahnya.

'E...aku gak tau merknya, pokoknya pereda rasa sakit dan nyeri...apa aja gak apa-apa...uhh..' jawab wanita tadi sambil terus meringis kesakitan dan memegang perutnya.

'Kamu lagi mestruasi kah..?' tabak Gavin

Wanita itu terbelak matanya, dan memandang mata Gavin dengan raut muka menahan rasa malunya, karena penjaga apotek seorang lelaki, jadi dia merasa malu membicarakan hal tersebut. Wanita dengan kulit kuning langsat itu mengangguk pelan, dan gavin tersenyum melihatnya. Gavin berjalan mendekati rak obat dan mengambil obat pereda nyeri haid, serta dia membawakan air hangat dari dispenser untuk wanita itu. Dengan arahan Gavin, dia meneguk obat itu, dan tersenyum kearah Gavin yang juga ikut tersenyum melihat wanita itu sudah meminum obatnya. 

'Berapa mas...?' tanya nya sambil beranjak dari tempat duduknya

'28 ribu rupiah, eh...' cegah Gavin 'Udah kamu duduk aja dulu, nunggu enakan perutnya baru jalan lagi...' lanjut Gavin sambil memegang lengan wanita itu dengan lembut dan membuatnya kembali duduk

'Makasih ya mas...' jawabnya dengan senyuman 'Ini uangnya, katanya sambil menyodorkan satu lembar 50 ribu kepada Gavin.

'Sebentar ya mbak...' jawab Gavin sambil kembali berjalan ke mesin kasir dan memberikan kembalian untuk wanita itu

Saat Gavin sampai di depan wanitua itu dia membawa hot pack untuk kompres perut wanita itu.

'Ini...dipakai aja mbak gak apa-apa...' kata Gavin sambil memberikan hot pack kepada wanita itu

'Ini....' tanyanya heran

'Ini untuk kompres supaya perut mbak tidak kram...' jawab Gavin lalu duduk di samping wanita itu.

Wanita itu memandang heran ke Gavin yang terlihat biasa saja saat bertemu dengannya, Gavin juga terlihat sangat cekatan dalam menanganinya, dia berbeda dengan pelayan apotek pada umumnya.

'E...sorry...kamu gak tau aku kah...?' tanyanya dengan heran

Sekarang giliran wajah Gavin yang terlihat bingung dengan pertanyaan dari wanita yang sedari tadi diam-diam di kaguminya. Gavin hanya menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak mengenali wanita itu, dan ini adalah kali pertama dia bertemu dengannya.

'Seriously...??' tagasnya lagi

'Iya...apa kita pernah bertemu sebelumnya...?' tanya Gavin balik 'Kamu pasien aku kah..? atau keluarga kamu ada yang menjadi pasienku...?' tanya Gavin lagi

'Wait...kamu seorang dokter...?' tanyanya balik

'Iya aku dokter di rumah sakit itu...' jawab Gavin sambil menunjuk brosur di apotek yang ada nama rumah sakit tempat dia bekerja.

Wanita itu tertawa, seolah rasa sakit di perutnya yang tadi menghilang begitu saja.

'Kamu tidak pernah nonton TV...?' tanyanya lagi

Gavin menggelengkan kepalanya, dan dia lalu mengerutkan dahinya, pertanda dia semakin bingung dengan wanita ini. Gavin berfikir kalau mungkin wanita ini mabuk, dan ngomongnya mulai mengelantur kemana-mana.

'Kenalin, namaku Luna...Luna Laviana...' kata Luna sambil mengajukan tangannya untuk berjabat tangan dengan Gavin

'Gavin...Gavin Andreas...' jawab Gavin sambil menjabat tangan Luna dan mereka berdua saling melempar senyum satu sama lain.

Luna Laviana adalah seorang aktris yang lumayan terkenal, dan dia juga mantan model yang sudah go internasional, makanya dia berparas cantik dan juga bertubuh indah. Luna sendiri adalah salah satu artis yang jarang sekali terlibat skandal di sepanjang karir artisnya, dia lebih banyak menghasilkan prestasi ketimbang halusinasi. Gavin yang baru tau kalau Luna adalah seorang artis jadi memaklumi kalau sedari tadi Luna terlihat was-was dengan keadaan sekitarnya. Hal ini dikarenakan dia takut ada seseorang yang memergoki dia membeli obat disini, takutnya dijadikan berita miring dan lain-lain.

Semenjak kejadian itu, Luna dan Gavin sering mengobrol lewat telfon, dan sesekali bertemu di luar jadwal syuting Luna dan jadwal rumah sakit Gavin. Ada yang menarik dari Gavin, dimana dia selalu mengenakan arloji yang selalu menyala alarm nya di waktu tertentu. Ini memang merupakan sebuah pertanyaan, karena selama ini belum pernah ada yang menanyakan langsung ke Gavin kenapa jam itu berbunyi. Malam itu Luna berencana makan malam dengan Gavin, karena dia baru saja menyelesaikan syuting film layar lebarnya, sekalian dia kangen dengan Gavin. Mereka berdua sebenarnya belum memiliki komitmen satu sama lain, namun baik Gavin maupun Luna sudah paham betul kalau mereka saling tertarik satu sama lain.

Awalnya mereka akan bertemu langsung di tempat makan, namun karena Gavin masih menangani pasien yang tiba-tiba kambuh penyakitnya, makanya Luna memutuskan untuk menunggu di depan rumah sakit. Saat Gavin sudah selesai dengan jadwalnya, dia bergegas menemui Luna. Namun sayang saat Luna membuka mobilnya ada beberapa staff rumah sakit yang mengenalinya. Karena takut terjadi berita dan gosip yang tidak-tidak, jadi Gavin dan Luna memutuskan untuk berpisah dan berjalan sendiri-sendiri sampai restoran. Belum sampai situ kemalangan mereka berdua, sesampainya di restoran Gavin bertemu Bram dan beberapa staff rumah sakit lainnya. Dan Gavin baru ingat kalau hari itu Bram ulang tahun dan Bram juga mengundangnya ke acara makan-makan bersama beberapa staff yang off day hari itu termasuk Gavin.

Gavin dan Luna ke gap oleh Bram dan staff lainnya, mereka terkejut karena ternyata Gavin dan Luna sang bintang saling mengenal satu sama lain. Dan terpaksan mereka duduk bersama Bram dan yang lain-lain, sekalian memberi alibi untuk reporter nakal supaya tidak ada berita aneh-aneh tentang Luna yang jalan berdua dengan lelaki, karena sekarang mereka beramai-ramai. Walau raut kecewa di wajah mereka, namun mereka terpaksa bergabung dengan Bram dan para staff rumah sakit lainnya. Selama makan malan, Luna terlihat akrab dengan semua orang, walau jatuhnya mereka baru bertemu, dan memang kebanyakan staff disana adalah penggemar Luna. Lalu ada salah satu staff yang bernama Danu yang menyarankan untuk permainan truth or dare, dalam rangka merayakan ulang tahun dokter Bram. Awalnya Gavin menolak ikut, namun Luna memaksa dan meminta dengan nada manjanya ke Gavin, dan itu juga membuat beberapa orang disana jadi meyakini kalau ada sesuatu di antara mereka berdua. Dan Gavin pun akhirnya terpaksa ikut ke permainan itu.

Semua orang sangat menikmati permainan itu, dan tiba saatnya botol di putar, dan berhenti di arah Gavin, semua orang berteriak kegirangan. Karena sedari tadi hanya Gavin yang belum pernah kena, jadi mereka sangat bersemangat saat Gavin keluar jadi pemain selanjutnya.

'Dokter Gavin....yey...truth or dare dokter...??' tanya Danu dengan antusias

Gavin terlihat lemas karena dia kena permainan yang sebenarnya tidak ingin dia ikuti dari tadi, Gavin mencoba menyembunyikan wajah kesalnya, lalu matanya menatap ke arah Luna. Luna tersenyum senang karena Gavin kena hukuman.

'Truth...' jawab Gavin sambil terus mengunci pandangan dengan Luna

'Ohhhhh truth...oke dokter ambil satu kertas dari kotak, dan apapun tulisan disana dokter harus bercerita jujur ya...' Kata Danu sambil menyodorkan kotak yang berisi tumpukan kertas. 

Gavin mengambil satu lembar kertas, dan itu langsung di ambil Danu, dengan lantangnya Danu membacakan apa yang tertulis disana.

'First Love....' seru Danu

Disertai tepuk tangan dari para staff dan teman-teman dokter Gavin. Tiba-tiba mata Gavin jadi bergetar sesaat mendengar kata 'First Love' yang keluar dari mulut Danu. Luna yang sedari tadi bertatapan dengan Gavin juga ikut bergetar matanya karena melihat lelaki yang dia sukai muali merubah raut wajahnya. Gavin tertunduk diam sejenak, dan itu membuat keadaan menjadi awkward, dan tidak enak rasanya.

'E...dokter kalau keberatan bisa ganti dare kok...' kata Danu mencoba mencairkan suasana beku itu.

Gavin kembali menagangkat kepalanya, dan dia membenarkan cara duduknya sambil memegang arloji di tangan kirinya. Dia tersenyum dan lalu dia meminum air dari gelasnya.

'Oke aku akan ceritakan kisah cinta pertamaku...' kata Gavin kemudian yang disambut oleh riuh tepuk tangan dari semua orang termasuk Luna, yang terlihat tersenyum getir kearah Gavin

'Mungkin ceritaku akan agak lama, apa tidak apa-apa kalian mendengarnya...?' tanya Gavin lagi

'Udah cerita aja...kita siap nemenin sampek malam kok...' seru Bram antusias, karena jujur Bram juga penasaran dengan temannya itu.

[Hari itu musim hujan di tahun ketiga masa SMA ku, aku berlari mendekati sebuahtoko perkakas alat lukis, dan tidak sengaja aku melihatnya. Gadis itu berdiri di depan rak kuas air dengan membawa beberapa cat di tangannya. Sesekali dia memiringkan kepalanya untuk melihat ukuran kuas itu, dia juga membawa tas yang berisi peralatan lukis lainnya. Tak lama kemudian dia keluar toko dan berdiri disampingku, itu kali pertama kita bertemu dan entah kenapa aku merasa sangat hangat saat di dekatnya. Dia menawarkan minuman hangat yang sedari tadi dia bawa, kamipun mulai dekat. Dia berbeda sekolah denganku, namun aku memutuskan untuk ke sanggar lukis tempat dia berada, karena jujur aku ingin melihatnya sepanjang waktu yang aku bisa. Kami mulai dekat dan aku semakin menyadari kalau aku bagitu menyukainya, namun satu hal yang aku tidak tahu, kalau dia tidak bisa mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Suatu hari aku menemukan vitamin yang selama ini dia konsumsi tertinggal di kelas seni, saat aku mau mengembalikannya dia sudah pulang dan terpaksa aku membawanya. Karena penasaran ini vitamin apa, aku beranikan bertanya kepada apoteker ayah dari teman sekelasku, dari beliau aku tahu kalau itu bukanlah sekedar vitamin biasa, melainkan obat untuk pereda nyeri yang di khususkan untuk penderita jantung. Jadi selama ini gadis yang aku sukai memiliki kelainan jantung, itulah kenapa dia tidak bisa menyukaiku, karena setiap jantungnya berdegup kencang saat bersamaku, saat itu pula di menahan rasa sakit yang luar biasa efek dari kelainan jantungnya. Dia juga diharuskan setiap beberapa jam sekali meminum obatnya, untuk mencegah serangan jantung secara tiba-tiba. Akhir musim hujan di bulan berikutnya aku mengantarkannya di tempat peristirahatan terakhirnya, dan selamanya dia tidak perlu lagi menahan rasa sakitnya lagi, dia sudah sembuh sekarang. End...itu cerita cinta pertamaku.]

Cerita Gavin panjang lebar, setelah mendengar cerita itu semua orang terdiam, dan ada beberapa yang menteskan air mata mendengar cerita Gavin. Luna juga terlihat berkaca-kaca mendengar cerita Gavin.

'Maka itu kamu mau jadi dokter bedah jantung Vin...??' tanya Bram sambil menepuk perlahan bahu Gavin

'Aku mau jadi dokter bukan melulu karena dia, tapi karena aku juga ingin menolong banyak orang...' jawab Gavin diplomatis

'Lalu arti alarm di arloji kamu itu apa..?' tanya Luna, yang membuat semua mata menuju ke Gavin, karena jujur semua orang ingin tau alasan Gavin memasang alarm di arlojinya itu.

Gavin tersenyum getir sambil memandang arloji di tangannya, dia mengingat senyum Yuna sang cinta pertamanya yang sudah pergi mendahuluinya.

'Ini adalah alarm jam minum obat Yuna...gadis yang aku suka dulu...' jawab Gavin

Mendengar jawaban Gavin semua orang menjadi terbelak matanya, dan Luna juga mengalami sakit dihatinya. Sekarang semua akan berubah saat mendengar alarm itu, pikiran semua orang yang ada di restoran itu akan mengingat kisah tragis Gavin bersama Yuna, cinta pertamanya.

Setelah makan malam itu, Gavin mengantar pulang Luna. Sepanjang perjalanan mereka berdua saling terdiam satu sama lain, keadaan saat itu terasa sangat dingin dan canggung. Sesampainya di depan apartemen Luna, Gavin menahan tangan Luna saat Luna mau keluar dari mobil Gavin.

'Lun...aku..' Gavin tidak bisa melanjutkan kata-katanya

Luna memandang mata Gavin yang terlihat bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini, Luna mengerti kenapa lelaki yang dia cintai ini menjadi seperti itu. Luna mengenggam tangan Gavin dan menatap Gavin dengan penuh kasih sayang.

"Vin...selesaikan dulu perasaan kamu yang masih menggantung...aku akan menunggu kamu sampai kamu siap untuk bicara denganku....' Kata Luna 'Aku sayang sama kamu Vin...dan aku tahu sekarang hati kamu masih dalam keadaan galau, jadi aku akan nunggu kamu sampai kamu udah bisa menyeledaikan perasaan kamu dengan masa lalu kamu...' lanjut Luna

'Maafin aku Lun,...' kata Gavin

'It's oke...I'm oke...' kata Luna mencoba menenangkan Gavin

Padahal di dalam hati Luna bergejolak, dia juga sebenarnya bingung mau bagaimanaa, namun disisi lain dia tidak mau memaksa Gavin untuk menerima dia dan menyuruh Gavin melupakan luka masa lalunya. Walaupun sebenarnya Luna berharap Gavin bisa secepatnya move on dari masa lalunya itu.

Malam itu jadi malam terberat Gavin dan juga Luna, keesokan harinya Gavin medapatkan surat edaran kalau masa koasnya sudah berakhir dan dia diperbolehkan jika ingin berkuliah lagi, bahkan Gavin di biayai penuh oleh rumah sakit karena Gavin termasuk dokter terbaik disana. Kegalauan Gavin semakin bertambah, dia masih belum menyelesaikan masalah dengan Luna, dan sekarang timbul masalah beasiswa nya dimluar negeri.

'Aku rasa kamu harus selesaiin dulu masalah kamu sama Luna deh...' kata Bram memberi nasehat

'Aku juga berfikir begitu Bram...' jawab Gavin

'Vin...kamu gak mau kehilangan orang yang kamu sayang untuk kedua kalinya kan...??' tanya Bram lagi

Kata-kata Bram itu membuat Gavin menyadari kalau dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayang lagi untuk kedua kalinya. Malam itu Gavin bersiap menemui Luna yang baru saja melakukan pemotretan, didalam perjalanan Gavin mendapat berita kalau Luna sedang menjalin hubungan dengan salah satu pemain film yang dia bintangi. Seketika itu Gavin menghentikan laju mobilnya dan dia menepi di bahu jalan sambil membaca berita yang dikirim Bram dari laman gosip. Rasa sakit menyelimuti hati Gavin, dia seakan tidak percaya kalau dia dua kali gagal mengungkapkan rasaa cintanya kepada orang yang dia sayang. Tak lama kemudian ada telfon dari rumah sakit karena ada pasien gawat darurat dan mengharuskan semua dokter standby di rumah sakit. Gavin memutar balik mobilnya menuju rumah sakit, ada pergolakan hati di dalam diri Gavin, namun misi menyelamatkan orang seperti sumpah dokter dia, yang harus dia dahulukan.

Kejadian itu membuat Gavin memforsir dirinya di kerjaan dan dia sama sekali tidak menyentuh handphonenya sama sekali. Dokter kepala rumah sakit yang juga merupakan dosen Gavin di universitas sebelumnya, mengatakan kalau deadline beasiswa besok siang jam 2. Sebelum jam itu Gavin harus sudah menandatangani perjanjian beasiswa dan menvgharuskan Gavin berangkat ke UK 2 hari kemudian. Karena kemelut di hatinya, hari itu juga Gavin menandatanginya, dai berencana pergi untuk melupakan semuanya, terbilang pengecut sih, namun itulah salah satu cara dia untuk menenangkan fikirannya.

Dua hari kemudian, dia persiapan pergi ke UK untuk kuliah nya, sebelum berangkat dia ke apartemen Luna, berharap dia bisa bertemu dengan Luna walau hanya sekejap saja. Gavin menunggu selama 2 jam lebih namun Luna tidak terlihat disana, dia juga sempat berdiri di depan pintu apartemen Luna, namun tidak ada Luna di sana. Gavin memutuskan untuk pergi meninggalkan kesedihan untuk kedua kalinya, saat Gavin pergi, mobil Luna terlihat memasuki apartemen. Dan untungnya Luna melihat mobil Gavin, spontan Luna meminta supirnya untuk mengejar mobil Gavin.

Luna berhasil menyusul Gavin, dan di tengah jalan menuju bandara Luna menghentikan mobil Gavin. Luna turun dari mobil dan berjalan ke arah mobil Gavin, dan Gavin pun juga turun dari mobil dan menghampiri Luna. Saat mereka berdua bertemu Gavin langsung memeluk Luna dengan hangat begitu pula Luna, dia memeluk erat Gavin.

'I love you Luna...' bisik Gavin di telinga Luna

Luna tidak menjawab, dia hanya memeluk erat tubuh Gavin seolah tidak mau melepaskan lelaki yang membuatnya sakit sekaligus bahagia itu.

'Aku benar-benar sudah berdamai dengan diriku, dan aku tahu kalau aku sangat menyayangi mu Lun...' kata Gavin sambil membelai rambut wanita yang dia cintai saat ini

'I know....I love you too...' jawab Luna dengan mata berkaca-kaca.

Mereka saling berpelukan dan di saksikan beberapa mobil yang berlalu lalang di jalan tol bandara saat itu. Gavin dan Luna berjalan menuju ruang boarding pass, karena Gavin harus tetap menuntut ilmunya, dan harus tetap menjadi dokter sperti apa yag Gavin cita-citakan. Gavin mengenggam erat tangan Luna yang sekarang berstatus kekasihnya. Karena sebenarnya berita Luna dengan aktor itu cuma hoax saja, tetapi karena jadwal Luna yang padat dia tidak bisa langsung memberi tahu Gavin. Dan kesalah pahaman mereka akhirnya terselesaikan.

'Aku bakalan jenguk kamu di UK kalau udah selesai syuting ini ya....' kata Luna sambil menyandarkan kepalanya di pundak Gavin

'Okai aku tunggu ya sayang...' kata Gavin sambil mencium kenung Luna

Mata Luna menatap pergelangan tangan Gavin, dan dia tidak menemukan arloji yang selama ini Gavin pakai. Gavin benar-benar sudah berdamai dengan rasa bersalah dan penyesalannya kepada Yuna, bukan berarti melupakan Yuna, namun Gavin sudah mengikhlaskan Yuna. Luna tersenyum melihatnya, lalu dia mengambil arloji digital dari tasnya dan memasangnya di pergelangan tangan Gavin.

'Sekarang kalau alarm nyata kamu harus telfon aku ya...janji....' kata Luna sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Gavin tersenyum melihat kekasihnya itu, dan Gavin mengkaitkan jari kelingkingnya menandakan kalau Gavin berjanji akan menepatinya. Luna memeluk erat Gavin seolah berat melepas lelakinya itu untuk pergi meninggalkannya.

'I love you....' kata Luna

'I love you too...' jawab Gavin sembari mengecup mesra bibir Luna.

Bandara yang ramai kala itu menjadi saksi kisah cinta mereka, baik Gavin dan Luna memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, namun mereka nampak sempurna jika berdua.






-Kamu adalah bintang dan juga hujan untukku, yang selalu bersinar seperti bintang, dan juga memberi kehangatan seperti hujan- Gavin



Sekian~~

CitraKim