Senin, 17 Oktober 2022

Cerpen 2022

 Cerpen 2022 part 3



HEARTBEAT

Lorong rumah sakit pagi ini lumayan terlihat sepi, setelah pergulatan dengan virus selama 2 tahun terakhir ini, keadaan rumah sakit saat ini tergolong lebih lenggang dibanding 2 tahun lalu. 

'Dokter Gavin, pasien R23 sedang dalam keadaan kritis...' kata seorang wanita dengan menggenakan seragam suster pada umumnya

'Iya saya kesana...' jawab Gavin sambil bergegas menuju kamar 23 

Gavin Andreas, seorang dokter muda, usia 30 tahun dan ini tahun terakhir dia menjadi koas dan dia akan melanjutkan sekolah untuk spesialisnya. Gavin terkenal dengan keramahannya, dan yang pasti ketampanannya juga. Di negara ini memang good looking mempunyai previlage yang luar biasa, dan mereka juga akan mendapatkan perhatian khusus karena good lookingnya. Begitu pula dengan Gavin, dia memiliki senyum yang ramah, dan juga orangnya sangat ramah dengan siapapun. Banyak suster dan para dokter muda lainnya yang menaruh hati pada Gavin, namun selama 3 tahun Gavin bekerja di rumah sakit itu, dia tidak ada sekalipun terlibat cinta lokasi dengan siapapun disana. Gavin lebih suka menghabiskan waktu untuk bekerja dan juga untuk hari libur Gavin lebih memilih istirahat atau hanya sekedar main futsal untuk kesehatannya. Gavin terlihat tidak begitu tertarik dalam komitmen dengan lawan jenisnya, dia juga bukan tipe gay juga, dia hanya ingin menikmati masa single nya.

'Vin...weekend ke Redhouse yuk...' ajak Bram teman dokternya

'No...I don't have many time....' jawab Gavin sambil terus membolak-balik recam medis pasiennya

'Mau kemana siii...kok no time to party...?' tanya Bram yang masih memaksa temannya yang ansos (anti sosial) itu untuk ke club Redhouse

'Semedi...cari wangsit....biar cepet lulus gelar doktornya aku...hahahaha...' jawab Gavin sambil berlalu meninggalkan Bram yang terbelak matanya mendengar jawaban darinya.

Gavin memang tidak begitu tertarik dengan gemerlap dunia malam, dia lebih suka menghabiskan waktu dengan buku-bukunya, terkadang dia juga menghabiskan waktu untuk membuat sebuah lukisan. Hari itu Gavin tidak ada jadwal untuk jaga di rumah sakit, dia pulang ke apartemen nya malam itu. Jam 11 malam, Gavin sampai di apartemen nya, dia langsung menghangatkan makanan dan duduk di meja makan sambil melihat rekam medis pasien nya dari laptopnya. Rutinitas yang sama di setiap harinya, dan Gvin seolah sudah terbiasa dengan keadaan itu, dia juga terlihat menikmati kehidupan monotonnya itu.

Gavin membuka laci P3K nya, dan dia mendapati ada beberapa obat yang habis, karena dia masih belum tidur, dia memutuskan untuk pergi ke apotek 24 jam unttuk membeli beberapa obat yang habis di dalam kotak P3K nya, sembari dia menghirup udara di malam itu untuk menghilangkan rasa penatnya. Gavin sampai di apotek dengan berjalan kaki dari apartemen nya, dia juga tak lupa membeli kopi dari gerai kopi yang buka 24 jaam disana. Sesampainya di apotek, Gavin disambut oleh pemilik apotek yang kebetulan juga ayah dari teman Gavin yang sesama dokter di rumah sakit. Gavin memang sudah langganan di apotek itu sejak 3 tahun yang lalu, tepat saat dia pindah ke apartemen itu.

'Malam om.... ' sapa Gavin sambil duduk di depan meja konsultasi, tepat didepan pak Hendra, pemilik apotek sekaligus apoteker disana.

'Eh...ada dokter idol nih.....' kata pak Hendra disertai tertawa kecil

'Ih...apaan si om...' jawab Gavin malu

Dokter Idol adalah julukan untuk Gavin di rumah sakit tempat dia bekerja, mungkin karena wajah Gavin mirip dengan oppa-oppa korea yang sering muncul di drama, jadi kebanyakan orang memanggil Gavin dengan sebutan dokter Idol. Gavin sempat bercengkrama dengan pak Hendra lama, lalu kemudian pak Hendra meminta Gavin untuk menjagakan apoteknya sebentar karena dia mau ketoilet, ini di karenakan pegawainya juga masih di toilet belum kembali ke apotek. Untuk lokasi toilet memang terletak terpisah dari ruko apoteknya, namun tidak berjarak jauh dari sana, jadi Gavin mempersilahkan pak Hendra untuk ke sana dan Dia beralih ke meja konsultasi menggantikan pak Hendra.

Jam menunjukan pukul 01.25 WIB, jalanan masih tergolong rame malam itu, dan ada pula beberapa pelanggan yang berdatangan ke apotek untuk sekedar membeli obat atau minuman penyegar disana. Gavin melayani mereka semua dengan ramah, dan dia juga terlihat menikmati perannya saat ini. Tidak lama kemudian datang seorang wanita, dengan mini dress berwarna coklat tua, dibalut syal yang berwarna putih tulang yang menutupi area wajah bagian bawahnya. Rambutnya tertata rapi sebahu, badannya yang lansing serta penampilannya yang terlihat seperti habis dari sebuah pesta lengkap dengan heels dengan warna senada bajunya.

'Maaf...ada hemmmm itu....' kata wanita itu terlihat kebingungan.

'E...apa ya mbak...?' tanya Gavin yang tak kalah bingungnya juga

Wanita itu terlihat berhati-hati dalam berbicara, dia sesekali melihat kearah sekitar, dan mencoba menutupi wajahnya. Kondisi apotek yang sepi itu membuat dia memberanikan diri membuka sedikit penutup yang menutupi wajahnya.

'E...ada obat sakit perut gak mas...?' tanya wanita itu

'Sakit perut apa mbk...? diare kah?' tanya Gavin balik sembari melihat wajah wanita yang ada di depannya itu

Wanita itu kembali menoleh, seolah dia takut tertangkap oleh seseorang, dan Gavin memahami gestur yang sperti itu, tandanya wanita itu tidak dalam keadaan aman, karena dia terlihat ketakutan dan selalu melihat arah sekitarnya. Gavin keluar dari meja konsultasi dan berjalan mendekat ke arah wanita itu, lalu menyuruhnya duduk di bangku apotek yang di tutupi beberrapa rak, yang tidak memungkinkan wanita itu terlihat dari luar apotek. Disana Gavin memandang wanita berambut coklat gelap itu, dia bermata coklat, dan juga memiliki struktur bibir yang sexy, hidungnya yang mancung manambah kecantikannya. Gavin berusaha menenagkan wanita itu dan kembali menanyakan dia butuh obat apa.

'Kamu mau saya ambilkan obat dengan merk apa...?' tanya Gavin lagi, dan sekarang Gavin melihat wanita tadi terus memegang perut bagian bawahnya.

'E...aku gak tau merknya, pokoknya pereda rasa sakit dan nyeri...apa aja gak apa-apa...uhh..' jawab wanita tadi sambil terus meringis kesakitan dan memegang perutnya.

'Kamu lagi mestruasi kah..?' tabak Gavin

Wanita itu terbelak matanya, dan memandang mata Gavin dengan raut muka menahan rasa malunya, karena penjaga apotek seorang lelaki, jadi dia merasa malu membicarakan hal tersebut. Wanita dengan kulit kuning langsat itu mengangguk pelan, dan gavin tersenyum melihatnya. Gavin berjalan mendekati rak obat dan mengambil obat pereda nyeri haid, serta dia membawakan air hangat dari dispenser untuk wanita itu. Dengan arahan Gavin, dia meneguk obat itu, dan tersenyum kearah Gavin yang juga ikut tersenyum melihat wanita itu sudah meminum obatnya. 

'Berapa mas...?' tanya nya sambil beranjak dari tempat duduknya

'28 ribu rupiah, eh...' cegah Gavin 'Udah kamu duduk aja dulu, nunggu enakan perutnya baru jalan lagi...' lanjut Gavin sambil memegang lengan wanita itu dengan lembut dan membuatnya kembali duduk

'Makasih ya mas...' jawabnya dengan senyuman 'Ini uangnya, katanya sambil menyodorkan satu lembar 50 ribu kepada Gavin.

'Sebentar ya mbak...' jawab Gavin sambil kembali berjalan ke mesin kasir dan memberikan kembalian untuk wanita itu

Saat Gavin sampai di depan wanitua itu dia membawa hot pack untuk kompres perut wanita itu.

'Ini...dipakai aja mbak gak apa-apa...' kata Gavin sambil memberikan hot pack kepada wanita itu

'Ini....' tanyanya heran

'Ini untuk kompres supaya perut mbak tidak kram...' jawab Gavin lalu duduk di samping wanita itu.

Wanita itu memandang heran ke Gavin yang terlihat biasa saja saat bertemu dengannya, Gavin juga terlihat sangat cekatan dalam menanganinya, dia berbeda dengan pelayan apotek pada umumnya.

'E...sorry...kamu gak tau aku kah...?' tanyanya dengan heran

Sekarang giliran wajah Gavin yang terlihat bingung dengan pertanyaan dari wanita yang sedari tadi diam-diam di kaguminya. Gavin hanya menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak mengenali wanita itu, dan ini adalah kali pertama dia bertemu dengannya.

'Seriously...??' tagasnya lagi

'Iya...apa kita pernah bertemu sebelumnya...?' tanya Gavin balik 'Kamu pasien aku kah..? atau keluarga kamu ada yang menjadi pasienku...?' tanya Gavin lagi

'Wait...kamu seorang dokter...?' tanyanya balik

'Iya aku dokter di rumah sakit itu...' jawab Gavin sambil menunjuk brosur di apotek yang ada nama rumah sakit tempat dia bekerja.

Wanita itu tertawa, seolah rasa sakit di perutnya yang tadi menghilang begitu saja.

'Kamu tidak pernah nonton TV...?' tanyanya lagi

Gavin menggelengkan kepalanya, dan dia lalu mengerutkan dahinya, pertanda dia semakin bingung dengan wanita ini. Gavin berfikir kalau mungkin wanita ini mabuk, dan ngomongnya mulai mengelantur kemana-mana.

'Kenalin, namaku Luna...Luna Laviana...' kata Luna sambil mengajukan tangannya untuk berjabat tangan dengan Gavin

'Gavin...Gavin Andreas...' jawab Gavin sambil menjabat tangan Luna dan mereka berdua saling melempar senyum satu sama lain.

Luna Laviana adalah seorang aktris yang lumayan terkenal, dan dia juga mantan model yang sudah go internasional, makanya dia berparas cantik dan juga bertubuh indah. Luna sendiri adalah salah satu artis yang jarang sekali terlibat skandal di sepanjang karir artisnya, dia lebih banyak menghasilkan prestasi ketimbang halusinasi. Gavin yang baru tau kalau Luna adalah seorang artis jadi memaklumi kalau sedari tadi Luna terlihat was-was dengan keadaan sekitarnya. Hal ini dikarenakan dia takut ada seseorang yang memergoki dia membeli obat disini, takutnya dijadikan berita miring dan lain-lain.

Semenjak kejadian itu, Luna dan Gavin sering mengobrol lewat telfon, dan sesekali bertemu di luar jadwal syuting Luna dan jadwal rumah sakit Gavin. Ada yang menarik dari Gavin, dimana dia selalu mengenakan arloji yang selalu menyala alarm nya di waktu tertentu. Ini memang merupakan sebuah pertanyaan, karena selama ini belum pernah ada yang menanyakan langsung ke Gavin kenapa jam itu berbunyi. Malam itu Luna berencana makan malam dengan Gavin, karena dia baru saja menyelesaikan syuting film layar lebarnya, sekalian dia kangen dengan Gavin. Mereka berdua sebenarnya belum memiliki komitmen satu sama lain, namun baik Gavin maupun Luna sudah paham betul kalau mereka saling tertarik satu sama lain.

Awalnya mereka akan bertemu langsung di tempat makan, namun karena Gavin masih menangani pasien yang tiba-tiba kambuh penyakitnya, makanya Luna memutuskan untuk menunggu di depan rumah sakit. Saat Gavin sudah selesai dengan jadwalnya, dia bergegas menemui Luna. Namun sayang saat Luna membuka mobilnya ada beberapa staff rumah sakit yang mengenalinya. Karena takut terjadi berita dan gosip yang tidak-tidak, jadi Gavin dan Luna memutuskan untuk berpisah dan berjalan sendiri-sendiri sampai restoran. Belum sampai situ kemalangan mereka berdua, sesampainya di restoran Gavin bertemu Bram dan beberapa staff rumah sakit lainnya. Dan Gavin baru ingat kalau hari itu Bram ulang tahun dan Bram juga mengundangnya ke acara makan-makan bersama beberapa staff yang off day hari itu termasuk Gavin.

Gavin dan Luna ke gap oleh Bram dan staff lainnya, mereka terkejut karena ternyata Gavin dan Luna sang bintang saling mengenal satu sama lain. Dan terpaksan mereka duduk bersama Bram dan yang lain-lain, sekalian memberi alibi untuk reporter nakal supaya tidak ada berita aneh-aneh tentang Luna yang jalan berdua dengan lelaki, karena sekarang mereka beramai-ramai. Walau raut kecewa di wajah mereka, namun mereka terpaksa bergabung dengan Bram dan para staff rumah sakit lainnya. Selama makan malan, Luna terlihat akrab dengan semua orang, walau jatuhnya mereka baru bertemu, dan memang kebanyakan staff disana adalah penggemar Luna. Lalu ada salah satu staff yang bernama Danu yang menyarankan untuk permainan truth or dare, dalam rangka merayakan ulang tahun dokter Bram. Awalnya Gavin menolak ikut, namun Luna memaksa dan meminta dengan nada manjanya ke Gavin, dan itu juga membuat beberapa orang disana jadi meyakini kalau ada sesuatu di antara mereka berdua. Dan Gavin pun akhirnya terpaksa ikut ke permainan itu.

Semua orang sangat menikmati permainan itu, dan tiba saatnya botol di putar, dan berhenti di arah Gavin, semua orang berteriak kegirangan. Karena sedari tadi hanya Gavin yang belum pernah kena, jadi mereka sangat bersemangat saat Gavin keluar jadi pemain selanjutnya.

'Dokter Gavin....yey...truth or dare dokter...??' tanya Danu dengan antusias

Gavin terlihat lemas karena dia kena permainan yang sebenarnya tidak ingin dia ikuti dari tadi, Gavin mencoba menyembunyikan wajah kesalnya, lalu matanya menatap ke arah Luna. Luna tersenyum senang karena Gavin kena hukuman.

'Truth...' jawab Gavin sambil terus mengunci pandangan dengan Luna

'Ohhhhh truth...oke dokter ambil satu kertas dari kotak, dan apapun tulisan disana dokter harus bercerita jujur ya...' Kata Danu sambil menyodorkan kotak yang berisi tumpukan kertas. 

Gavin mengambil satu lembar kertas, dan itu langsung di ambil Danu, dengan lantangnya Danu membacakan apa yang tertulis disana.

'First Love....' seru Danu

Disertai tepuk tangan dari para staff dan teman-teman dokter Gavin. Tiba-tiba mata Gavin jadi bergetar sesaat mendengar kata 'First Love' yang keluar dari mulut Danu. Luna yang sedari tadi bertatapan dengan Gavin juga ikut bergetar matanya karena melihat lelaki yang dia sukai muali merubah raut wajahnya. Gavin tertunduk diam sejenak, dan itu membuat keadaan menjadi awkward, dan tidak enak rasanya.

'E...dokter kalau keberatan bisa ganti dare kok...' kata Danu mencoba mencairkan suasana beku itu.

Gavin kembali menagangkat kepalanya, dan dia membenarkan cara duduknya sambil memegang arloji di tangan kirinya. Dia tersenyum dan lalu dia meminum air dari gelasnya.

'Oke aku akan ceritakan kisah cinta pertamaku...' kata Gavin kemudian yang disambut oleh riuh tepuk tangan dari semua orang termasuk Luna, yang terlihat tersenyum getir kearah Gavin

'Mungkin ceritaku akan agak lama, apa tidak apa-apa kalian mendengarnya...?' tanya Gavin lagi

'Udah cerita aja...kita siap nemenin sampek malam kok...' seru Bram antusias, karena jujur Bram juga penasaran dengan temannya itu.

[Hari itu musim hujan di tahun ketiga masa SMA ku, aku berlari mendekati sebuahtoko perkakas alat lukis, dan tidak sengaja aku melihatnya. Gadis itu berdiri di depan rak kuas air dengan membawa beberapa cat di tangannya. Sesekali dia memiringkan kepalanya untuk melihat ukuran kuas itu, dia juga membawa tas yang berisi peralatan lukis lainnya. Tak lama kemudian dia keluar toko dan berdiri disampingku, itu kali pertama kita bertemu dan entah kenapa aku merasa sangat hangat saat di dekatnya. Dia menawarkan minuman hangat yang sedari tadi dia bawa, kamipun mulai dekat. Dia berbeda sekolah denganku, namun aku memutuskan untuk ke sanggar lukis tempat dia berada, karena jujur aku ingin melihatnya sepanjang waktu yang aku bisa. Kami mulai dekat dan aku semakin menyadari kalau aku bagitu menyukainya, namun satu hal yang aku tidak tahu, kalau dia tidak bisa mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Suatu hari aku menemukan vitamin yang selama ini dia konsumsi tertinggal di kelas seni, saat aku mau mengembalikannya dia sudah pulang dan terpaksa aku membawanya. Karena penasaran ini vitamin apa, aku beranikan bertanya kepada apoteker ayah dari teman sekelasku, dari beliau aku tahu kalau itu bukanlah sekedar vitamin biasa, melainkan obat untuk pereda nyeri yang di khususkan untuk penderita jantung. Jadi selama ini gadis yang aku sukai memiliki kelainan jantung, itulah kenapa dia tidak bisa menyukaiku, karena setiap jantungnya berdegup kencang saat bersamaku, saat itu pula di menahan rasa sakit yang luar biasa efek dari kelainan jantungnya. Dia juga diharuskan setiap beberapa jam sekali meminum obatnya, untuk mencegah serangan jantung secara tiba-tiba. Akhir musim hujan di bulan berikutnya aku mengantarkannya di tempat peristirahatan terakhirnya, dan selamanya dia tidak perlu lagi menahan rasa sakitnya lagi, dia sudah sembuh sekarang. End...itu cerita cinta pertamaku.]

Cerita Gavin panjang lebar, setelah mendengar cerita itu semua orang terdiam, dan ada beberapa yang menteskan air mata mendengar cerita Gavin. Luna juga terlihat berkaca-kaca mendengar cerita Gavin.

'Maka itu kamu mau jadi dokter bedah jantung Vin...??' tanya Bram sambil menepuk perlahan bahu Gavin

'Aku mau jadi dokter bukan melulu karena dia, tapi karena aku juga ingin menolong banyak orang...' jawab Gavin diplomatis

'Lalu arti alarm di arloji kamu itu apa..?' tanya Luna, yang membuat semua mata menuju ke Gavin, karena jujur semua orang ingin tau alasan Gavin memasang alarm di arlojinya itu.

Gavin tersenyum getir sambil memandang arloji di tangannya, dia mengingat senyum Yuna sang cinta pertamanya yang sudah pergi mendahuluinya.

'Ini adalah alarm jam minum obat Yuna...gadis yang aku suka dulu...' jawab Gavin

Mendengar jawaban Gavin semua orang menjadi terbelak matanya, dan Luna juga mengalami sakit dihatinya. Sekarang semua akan berubah saat mendengar alarm itu, pikiran semua orang yang ada di restoran itu akan mengingat kisah tragis Gavin bersama Yuna, cinta pertamanya.

Setelah makan malam itu, Gavin mengantar pulang Luna. Sepanjang perjalanan mereka berdua saling terdiam satu sama lain, keadaan saat itu terasa sangat dingin dan canggung. Sesampainya di depan apartemen Luna, Gavin menahan tangan Luna saat Luna mau keluar dari mobil Gavin.

'Lun...aku..' Gavin tidak bisa melanjutkan kata-katanya

Luna memandang mata Gavin yang terlihat bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini, Luna mengerti kenapa lelaki yang dia cintai ini menjadi seperti itu. Luna mengenggam tangan Gavin dan menatap Gavin dengan penuh kasih sayang.

"Vin...selesaikan dulu perasaan kamu yang masih menggantung...aku akan menunggu kamu sampai kamu siap untuk bicara denganku....' Kata Luna 'Aku sayang sama kamu Vin...dan aku tahu sekarang hati kamu masih dalam keadaan galau, jadi aku akan nunggu kamu sampai kamu udah bisa menyeledaikan perasaan kamu dengan masa lalu kamu...' lanjut Luna

'Maafin aku Lun,...' kata Gavin

'It's oke...I'm oke...' kata Luna mencoba menenangkan Gavin

Padahal di dalam hati Luna bergejolak, dia juga sebenarnya bingung mau bagaimanaa, namun disisi lain dia tidak mau memaksa Gavin untuk menerima dia dan menyuruh Gavin melupakan luka masa lalunya. Walaupun sebenarnya Luna berharap Gavin bisa secepatnya move on dari masa lalunya itu.

Malam itu jadi malam terberat Gavin dan juga Luna, keesokan harinya Gavin medapatkan surat edaran kalau masa koasnya sudah berakhir dan dia diperbolehkan jika ingin berkuliah lagi, bahkan Gavin di biayai penuh oleh rumah sakit karena Gavin termasuk dokter terbaik disana. Kegalauan Gavin semakin bertambah, dia masih belum menyelesaikan masalah dengan Luna, dan sekarang timbul masalah beasiswa nya dimluar negeri.

'Aku rasa kamu harus selesaiin dulu masalah kamu sama Luna deh...' kata Bram memberi nasehat

'Aku juga berfikir begitu Bram...' jawab Gavin

'Vin...kamu gak mau kehilangan orang yang kamu sayang untuk kedua kalinya kan...??' tanya Bram lagi

Kata-kata Bram itu membuat Gavin menyadari kalau dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayang lagi untuk kedua kalinya. Malam itu Gavin bersiap menemui Luna yang baru saja melakukan pemotretan, didalam perjalanan Gavin mendapat berita kalau Luna sedang menjalin hubungan dengan salah satu pemain film yang dia bintangi. Seketika itu Gavin menghentikan laju mobilnya dan dia menepi di bahu jalan sambil membaca berita yang dikirim Bram dari laman gosip. Rasa sakit menyelimuti hati Gavin, dia seakan tidak percaya kalau dia dua kali gagal mengungkapkan rasaa cintanya kepada orang yang dia sayang. Tak lama kemudian ada telfon dari rumah sakit karena ada pasien gawat darurat dan mengharuskan semua dokter standby di rumah sakit. Gavin memutar balik mobilnya menuju rumah sakit, ada pergolakan hati di dalam diri Gavin, namun misi menyelamatkan orang seperti sumpah dokter dia, yang harus dia dahulukan.

Kejadian itu membuat Gavin memforsir dirinya di kerjaan dan dia sama sekali tidak menyentuh handphonenya sama sekali. Dokter kepala rumah sakit yang juga merupakan dosen Gavin di universitas sebelumnya, mengatakan kalau deadline beasiswa besok siang jam 2. Sebelum jam itu Gavin harus sudah menandatangani perjanjian beasiswa dan menvgharuskan Gavin berangkat ke UK 2 hari kemudian. Karena kemelut di hatinya, hari itu juga Gavin menandatanginya, dai berencana pergi untuk melupakan semuanya, terbilang pengecut sih, namun itulah salah satu cara dia untuk menenangkan fikirannya.

Dua hari kemudian, dia persiapan pergi ke UK untuk kuliah nya, sebelum berangkat dia ke apartemen Luna, berharap dia bisa bertemu dengan Luna walau hanya sekejap saja. Gavin menunggu selama 2 jam lebih namun Luna tidak terlihat disana, dia juga sempat berdiri di depan pintu apartemen Luna, namun tidak ada Luna di sana. Gavin memutuskan untuk pergi meninggalkan kesedihan untuk kedua kalinya, saat Gavin pergi, mobil Luna terlihat memasuki apartemen. Dan untungnya Luna melihat mobil Gavin, spontan Luna meminta supirnya untuk mengejar mobil Gavin.

Luna berhasil menyusul Gavin, dan di tengah jalan menuju bandara Luna menghentikan mobil Gavin. Luna turun dari mobil dan berjalan ke arah mobil Gavin, dan Gavin pun juga turun dari mobil dan menghampiri Luna. Saat mereka berdua bertemu Gavin langsung memeluk Luna dengan hangat begitu pula Luna, dia memeluk erat Gavin.

'I love you Luna...' bisik Gavin di telinga Luna

Luna tidak menjawab, dia hanya memeluk erat tubuh Gavin seolah tidak mau melepaskan lelaki yang membuatnya sakit sekaligus bahagia itu.

'Aku benar-benar sudah berdamai dengan diriku, dan aku tahu kalau aku sangat menyayangi mu Lun...' kata Gavin sambil membelai rambut wanita yang dia cintai saat ini

'I know....I love you too...' jawab Luna dengan mata berkaca-kaca.

Mereka saling berpelukan dan di saksikan beberapa mobil yang berlalu lalang di jalan tol bandara saat itu. Gavin dan Luna berjalan menuju ruang boarding pass, karena Gavin harus tetap menuntut ilmunya, dan harus tetap menjadi dokter sperti apa yag Gavin cita-citakan. Gavin mengenggam erat tangan Luna yang sekarang berstatus kekasihnya. Karena sebenarnya berita Luna dengan aktor itu cuma hoax saja, tetapi karena jadwal Luna yang padat dia tidak bisa langsung memberi tahu Gavin. Dan kesalah pahaman mereka akhirnya terselesaikan.

'Aku bakalan jenguk kamu di UK kalau udah selesai syuting ini ya....' kata Luna sambil menyandarkan kepalanya di pundak Gavin

'Okai aku tunggu ya sayang...' kata Gavin sambil mencium kenung Luna

Mata Luna menatap pergelangan tangan Gavin, dan dia tidak menemukan arloji yang selama ini Gavin pakai. Gavin benar-benar sudah berdamai dengan rasa bersalah dan penyesalannya kepada Yuna, bukan berarti melupakan Yuna, namun Gavin sudah mengikhlaskan Yuna. Luna tersenyum melihatnya, lalu dia mengambil arloji digital dari tasnya dan memasangnya di pergelangan tangan Gavin.

'Sekarang kalau alarm nyata kamu harus telfon aku ya...janji....' kata Luna sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Gavin tersenyum melihat kekasihnya itu, dan Gavin mengkaitkan jari kelingkingnya menandakan kalau Gavin berjanji akan menepatinya. Luna memeluk erat Gavin seolah berat melepas lelakinya itu untuk pergi meninggalkannya.

'I love you....' kata Luna

'I love you too...' jawab Gavin sembari mengecup mesra bibir Luna.

Bandara yang ramai kala itu menjadi saksi kisah cinta mereka, baik Gavin dan Luna memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, namun mereka nampak sempurna jika berdua.






-Kamu adalah bintang dan juga hujan untukku, yang selalu bersinar seperti bintang, dan juga memberi kehangatan seperti hujan- Gavin



Sekian~~

CitraKim

Minggu, 16 Oktober 2022

Cerpen 2022

 Cerpen 2022, part 2



Malaikat Putih tak Bersayap

Mungkin dunia ini masih banyak tingkat rasisme diantara manusia-manusianya, dan memang hal tersebut di anggap lumrah oleh sebagian orang. Tidak berbeda dengan cerita kali ini, seseorang yang selalu di pandang sebelah mata karena kekurangannya, dan kebanyakan orang lainnya tidak mau memperhatikan dan menghormatinya sebagai sesama manusia lainnya. 

Deviano Cassano, seorang siswa kelas dua SMA negeri di kotanya, dia bersekolah di SMA yang bisa di bilang elite di kotanya, karena kedua orang tuanya yang masih ada keturunan Italy itu termasuk golongan pengusaha sukses di kota itu. Deviano yang akrab di panggil Dev merupakan anak kedua dari pasangan Indo-Italy, kakak Dev sudah bekerja di salah satu firma hukum di kota itu, kakak Dev merupakan pengacara yang lumayan terkenal. Jarak umurnya dengan kakaknya cukup jauh sekitar 10 tahun, namun itu tidak membatasi kedekatan dia dengan kakak perempuannya itu.

Walaupun Dev anak orang kaya, namun dia tidak luput dari pembullyan di sekolahnya, hampir tiap hari dia menjadi bahan siksaan beberapa temannya di kelas. Shane salah satunya, dia merupakan ketua kelas di kelas Dev, akan tetapi Shan bukanlah ketua kelas yang baik, dia terpilih menjadi ketua karena jujur semua murid di kelas itu takut padanya.

'Hey...bule...ngapain lo di sini, sana balik ke negara lo...gak guna banget jadi orang...sakit mata tau liat lo...' kata Shane sambil memukul bagian belakang kepala Dev menggunakan buku tulis.

Hal seperti itu sudah sering terjadi, dan hampir setiap hari Dev mendapatkan bully an secara fisik maupun verbal. Dev hanya diam dan dia kembali ketempat duduknya, dia berusaha tenang dan tidak membuat kegaduhan apapun dikelas. Dia selalu merasa kehadirannya di kelas selalu tidak terlihat oleh teman-temannya dikelas, dia selalu merasa dirinya transparan dimanapun dia berada.

'Kamu apaan sih Shane....??' tegur Lolly teman sekelas Dev

Lollita Vanessa, dia satu-satunya teman yang sadar akan keberadaan Dev, dan Lolly lah yang selama ini selalu berada di samping Dev.

'Aduh...Lolly sayang....kamu jangan marah-marah dong...masih pagi ini...' kata Shane seraya merangkul bahu Lolly

'Apaan sih sayang-sayang....??' elak Lolly sambil melepas pelukan dari Shane dan berjalan mendekati Dev

Lolly adalah seorang model, ibu Lolly merupakan salah satu artis terkenal di Indonesia, jadi Lolly merupakan salah satu gadis dengan paras yang sangat cantik, mirip ibunya. Dia juga sangat terkenal di sekolah, tidak jarang para lelaki terpikat dengan parasnya yang cantik. Tidak terkecuali Shane, dan Dev pastinya, namun Lolly sama sekali tidak peduli dengan Shane, kalau dengan Dev, Lolly sangat loyal dan baik.

'Kamu gak apa-apa Dev..? tanya Lolly sambil memegang bahu Dev.

'Gak apa-apa kok Li...' jawab Dev dengan malu-malu dan sembari membenarkan kacamatanya.

'Udah jangan di dengerin omongan Shane ya...dia lagi kumat tuh...' timpal Lolly lagi

Shane yang melihatnya menjadi sangat murka dengan kedekatan mereka berdua, mata Shane tidak berhenti menatap Dev dengan penuh amarah. Jam istirahat sudah berdering, Dev berjalan di pinggir lorong sekolahnya, yang saat itu di penuhi anak-anak yang sedang beristirahat, ada yang ngobrol di depan kelas, ada yang memainkan beberapa alat musik seperti gitar di teras kelas dan masih banyak lagi. Dev hanya merasa dia berjalan di ruang yang hampa, dimana tidak ada satupun orang yang perhatian dengannya, menyapa atau hanya sekedar melihatnya. Langkahnya terhenti di sebuah mading sekolah, disana ada pengumuman lomba karya ilmiah tingkat sekolah SMA. Dev yang memang menyukai hal-hal berbau ilmiah itu tergerak hatinya dan dia ingin mendaftar ke acara itu. Dia ingin menghasilkan sesuatu sebelum dia meninggalkan sekolah ini, setidaknya masa SMA dia bisa di lalui sama seperti anak pada umumnya.

Dev berjalan menuju ruang duru untuk mendaftar karya ilmiah, langkahnya terhenti di depan ruang guru, saat dia melihat Damora, salah satu siswi pintar disekolahnya yang merupakan saingan Dev juga di pelajaran juga mendaftar ke acara karya ilmiah itu. Dev sempat menciut nyalinya karena melihat Damora atau yang sering disapa Mora itu. Namun Dev berusaha tenang dan kembali melangkahkan kakinya mendekati meja pendaftaran, sebelumnya dia berpapasan dengan Mora, dan Mora menatap dengan tatapan intimidasi kepada Dev. 

'Yakin mau lawan gue..??' kata Mora dengan tatapan intimidasinya.

Dev hanya terdiam, dan dia kembali berjalan kearah meja pendaftaran, dan disana sudah apa Pak Yudha selaku guru Biologi di sekolahnya sekaligus salah satu panitia lomba karya ilmiah.

'Kamu mau daftar juga Dev...?' tanya pak Yudha sambil memperhatikan Dev yang terlihat ragu-ragu untuk datang ke mejanya

'Iya pak...' jawab Dev dengan nada pelan

'Iya udah ini...isi formulirnya dulu ya....' kata pak Yudha sambil memberikan selembak kertas formulir untuk diisi Dev

Dev berjalan maju dan duduk di depan pak Yudha, dia mengisi formulir yang diberikan oleh gurunya itu dengan tenang. Pak Yuhda melihat sekelilingnya, dimana banyak para guru yang bergumam meremehkan Deviano, dan pak Yudha hanya bisa menghela nafas panjangnya.

'Dev...ini satu bulan ya waktu kamu buat karya ilmiah ini...tanggal 15 bulan depan harus siap presentasi ya..dan jangan lupa contoh dari karya kamu di bawa juga, bisa dalam bentuk gambar atau video, atau hasilnya kamu bawa sekalian ya...proses buatnya juga harus di sertakan video ya...' kata Pak Yudha menjelaskan tata cara karya ilmiah itu.

'Iya pak saya paham...saya akan selesaikan sebelum tengat waktunya pak, terima kasih pak..' jawab Dev sembari memberikan formulir yang sudah dia isi lengkap

'Semangat ya Dev...jangan dengarkan orang lain berbicara tentang kamu...bapak yakin kamu bisa...' kata pak Yudha menyemangati Dev.

'Iya pak terima kasih...' jawab Dev di sertai senyuman di bibirnya

Dev berjalan meninggalkan ruang guru, dan dari belakang tiba-tiba Lolly menghampirinya sambil membawa sebotol minuman teh kesukaan Dev.

'Dev...kamu ikutan lomba karya ilmiah ya...??' tanya Lolly sambil memberikan minuman ke Dev

'Iya Li...; jawab Dev sembari mengambil minuman dari tangan gadis yang sebenarnya dia suka itu

'Wah...semangat ya Dev...Ray juga ikutan sih...walaupun aku tau dia gak sepinter kamu hahahaha...' kata Lolly sambil tertawa kecil di samping Dev yang sedari tadi berusaha menjaga pandangannya kepada gadis yang diam-diam dia kagumi itu.

Rayan, atau Ray sapaan akrabnya, dia adalah kekasih Lolly. Ray dan Lolly berbeda kelas, dan Ray terkenal dengan ketampanannya, namun untuk masalah pelajaran dia biasa saja. Ray juga salah satu kapten tin voly di sekolah Lolly dan juga Dev, Ray terkenal ramah juga baik, walaupun sebenarnya Ray juga kurang sreg jika harus berteman dengan Dev, Rayan hanya bersikap sewajarnya saja saat bersama Dev dan berulang kali juga Ray menyarankan Lolly untuk tidak begitu dekat dengan Dev.

'Beib...' panggil Ray tiba-tida sudah berada di depan Dev dan Lolly

'Hai....' sapa Lolly sumringah melihat kekasihnya.

'Yuk ke kantin...buruan mau bel masuk soalnya...' ajak Ray tanpa mengindahkan Dev sedikitpun.

'Oke oke....' kata Lolly sambil beranjak meninggalkan Dev 'Duluan ya Dev...sampai ketemu di kelas..' kata Lolly sembari mengkaitkan tangannya ke lengan Rayan

Ray hanya memandang biasa ke arah Dev dan pergi melenggang bersama Lolly, Dev hanya melihat dengan pandangan getir kearah mereka berdua. Dev merasa dirinya sungguh tidak berarti apa-apa disini, dia hanya bisa meratapi nasib dan juga terus mengeluh dengan Tuhan atas apa yang terjadi pada dirinya. 

Tak terasa kurang 10 hari lagi lomba karya ilmiah itu dimulai, semua peserta pada sibuk menyelesaikan tugas lomba mereka masing-masing. Dev terlihat masih duduk di salah satu kursi dalam perpustakaan. Dia masih membaca beberapa buku dan terus mengetik di laptop kecilnya sambil terus fokus untuk menyelesaikan karya ilmiahnya. Pandangannya sedikit teralihkan saat Lolly duduk di depannya dengan wajah murungnya, Dev memiringkan laptopnya dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi dengan teman satu-satunya ini.

'Kamu kenapa Li...?' tanya Dev pelan karena sedang di dalam perpustakaan.

'Ray cuekin aku...dia sibuk banget bikin karya ilmiah...sampai-sampai dia lupa kalau ada janji nonton sama aku, mana aku udah beli tiket lagi...sebel...' gerutu Lolly yang suaranya membuat seisi perpustakaan memandangnya.

'Settttt...' kata salah satu penjaga perpustakaan sambil mengacungkan jari telunjuk di depan bibirnya.

Dev yang paham akan isyarat itu, langsung menutup laptopnya dan mengajak Lolly untuk keliar dari perpustakaan. Mereka berdua berjalan menuju kantin sekolah dan duduk di salah satu bangku disana, Lolly melanjutkan cerita dan Dev mendengarkan dengan seksama sambil memandang wajah cantik Lolly yang selalu membuatnya tenang. Pada akhirnya Dev memutuskan menemani Lolly menonton, karena Dev merasa kasihan dengan Lolly yang uring-uringkan perkara Ray sibuk dengan karya ilmiah. Walaupun sebenarnya Dev juga belum 100% menyelesaikan karya ilmiahnya, namun dia berfikir kapan lagi bisa nonton bersama gadis yang sangat dia sayangi itu.

Sore itu Dev dan Lolly berjanji bertemu di bioskop, Dev sudah datang duluan dan dia juga sudah menyiapkan popcorn, karena tiket ada di Lolly. Namun alangkah terkejutnya Dev saat melihat Lolly berja;an ke arahnya dengan bergandengan mesra bersama Rayan.

'Dev......' sapa Lolly sambil melambaikan tangannya

Muka Rayan yang terlihat cuek membuat Dev menjadi sungkan berada di tengah-tengah mereka berdua, Dev berusaha tersenyum menahan kekecewaannya.

'Dev...Rayan ternyata bisa nemenin nonton aku....tapi tenang aja...aku udah beliin tiket juga buat kamu kok...sorry ya gak kabari lebih awal, soalnya Ray mendadak siii...' kata Lolly menjelaskan situasi saat ini

'Oh..iya gak apa-apa kok Li...' jawab Dev getir

'Kamu udah beli popcorn Dev..??' tanya Lolly sambil fokus melihat popcorn di tangan Dev

'Iya...ini rasa kesukaan kamu...' jawab Dev sembari memberikan sekotak popcorn kepada Lolly

'Ihhh thak you Dev....yuk masuk....' ajak Lolly sambil membawa popcorn dari Dev

Mereka bertiga memasuki bioskop beriringan, dan Dev masih merasa tidak enak dengan keadaan ini, tapi disisi lain dia juga tidak ingin kehilangan moment bersama Lolly, walaupun Lolly saat ini bersama Rayan kekasihnya. Di dalam bioskop Dev duduk terpisah cukup jauh dengan Lolly dan Ray, dan disana rasa kecewa Dev semakin bertambah. Setelah film usai, Dev ke toilet bersama Ray, disna Ray mengajak Dev berbicara empat mata.

'Aku tahu kamu suka sama Lolly, dan sebenernya aku juga gak peduli juga karena aku tahu Lolly gak bakalan suka sama kamu...dia sebenarnya hanya kasihan saja sama kamu yang gak punya teman dan berjiwa lemah...' kata Rayan mengintimidasi Dev

Dev hanya terdiam mendengar kata-kata Rayan, yang sangat menyakiti hatinya, Rayan tidak berkata apa-apa pun hati Dev sudah sakit dengan cukup melihat Lolly bersamanya. 

'Jadi aku ingetin lagi ke kamu, kalau Lolly punya aku dan sampai kapanpun akan tetap begitu, kamu jika di beri kebaikan Lolly dan perhatian Lolly jangan ngelunjak ya Dev...kamu cukup diam saja dan jadilah transparan seperti biasanya, mengerti...' kata Ray sambil berlalu meninggalkan Dev

Dev terpaku mendengar kata-kata Rayan barusan, dia sungguh sangat sakit hati dengan apa yang Rayan katakan barusan. Setelah keluar dari toilet Dev melihat Rayan dan Lolly yang sudah menunggunya, Rayan berdiri di samping Lolly sambil merangkul bahu gadis cantik bermata coklat itu.

'Yuk Dev kita makan dulu...' ajak Lolly

Mata Ray dan Dev bertemu, dan Rayan melalui matanya seolah menyuruh Dev untuk tidak mengikuti mereka lagi. Dev yang paham akan hal itu pun langsung tersenyum kepada Lolly dan menolak dengan sopan ajakan Lolly.

'Sorry Li...aku kayaknya gak bisa ikutan, aku ada janji sama kakakku buat nyari buku di toko buku...maaf ya..mungkin nect time lah kita makan bareng...' kata Dev dengan sopan

'Ohhh begitu...kamu mau ketemuan sama Kak Nayla ya...?' tanya Lolly

'Iya...kakak mau otw kesini...maaf ya...makasih hari ini aku udah di ajak nonton...' kata Dev lagi

'Oke deh kalau gitu...salam ke kak Nayla ya...see you on school....' kata Lolly kemudian sambil berjalan meninggalkan Dev yang masih terpaku melihat Ray dan Lolly bejrajalan mejauhi nya.

Hati Dev sangat sedih sekali hari itu, dia merasa apa yang dia lakukan sia-sia selama ini, nampaknya Tuhan tidak pernah menyayanginya, hidupnya yang selalu merana, dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau seperti anak-anak pada umumnya. Semenjak kecil dia selalu berbeda dengan anak pada umumnya, walaupun orang tua kaya akan tetapi hidup Dev tidaklah sebahagia anak-anak orang kaya pada umumnya.

Pagi itu Dev berangkat ke sekolah bersama kakaknya, Nayla. Di tengah perjalanan dia melihat Ray yang baru saya mengalami kecelakaan. Dia melihat motor sport Ray yang hancur bagian depannya, dan dia juga melihat Ray yang menahan sakit di bagian kakinya. Dev spontan meminta kakaknya untuk menepi dan dia turun dari mobil kakaknya. Dev membawa Rayan ke rumah sakit dan menemani nya di dalam rumah sakit, sampai kak Nayla pun memintakan ijin mereka berdua ke sekolah, dan pihak sekolahpun mengijinkannya.

Dev menemani Ray yang harus menjalani operasi di kakinya, akibat kecelakaan itu Ray mengalami patah tulang di bagian kaki. Dan untungnya masih bisa di selamatkan karena Dev bergegas membawanya ke rumah sakit. Setelah operasi Rayan masih belum sadarkan diri, karena kepala dia juga terluka namun tidaklah parah. Dev menemani Rayan di ruang ICu rumah sakit, sampai keluarga Rayan datang ke rumah sakit bersama Lolly, kekasih Rayan.

Lolly terlihat sangat cemas melihat keadaan Rayan yang terbaring lemah dengan gips di kaki dan juga perban di area kepalanya. Lolly tak hentinya menangis sambil memeluk ibu Rayan yang juga menangis bersama Lolly. Dev berusaha menenangkan Lolly, dan ibu Rayan berkali-kali mengucap terima kasih ke Dev atas bantuannya membawa Rayan ke rumah sakit. Tak beberapa lama kemudian Rayan terbangun, dan dia melihat kearah sekelilingnya, dia juga melihat Dev yang berdiri tidak jauh dari dia berbaring. Rayan saat ini sudah di kamar biasa bukan di ICU lagi, dia sudah 8 jam tidak sadarkan diri pasca operasi kaki yang dia alami. Rayan melihat kearah Dev, wajahnya menunjukan sara bersalah karena kemarin sudah mengintimidasi Dev dengan kata-kata nya. Dev tersenyum lega melihat Rayan yang sudah sadarkan diri, setelahnya Dev meninggalkan kammar Rayan dan berjalan pergi.

Hari ini lomba karya ilmiah di mulai, semua peserta mengumpulkan materi dan juga satu per satu mulai mempresentasikan riset yang mereka kerjakan sema kurang lebih 1 bulan itu. Mora terlihat panik, karena laptopnya susah dibuka, dan data semua ada di sana. Mora merupakan salah satu saingan dari Dev, Dev melihat Mora kebingungan dan tidak ada satupun yang menolongnya. Dev mendekat kearah Mora.

'Kenapa Ra laptopnya..?' tanya Dev

Mora beranjak menatam tajam ke arah Dev, dia mengerutkan keningnya melihat laki-laki yang sangat dia benci itu berada di sampingnya.

'Ngapain lo nanya-nanya...' bentak Mora

Dev terhenyak mendengar bentak an Mora, namun dia berusaha tetap tenang dan mendekat lagi ke arah Mora yang masih bergelut dengan laptopnya.

'Sini aku bantu Ra...kalau kamu mau...' kata Dev lagi

'Kamu mau ngerusak karya ilmiahku ya....sok sok an banget siii...' jawab Mora dengan nada tinggi 'Seneng kan kamu sekarang kalau aku gak bisa tampil kedepan...?' kata Mora lagi dengan emosi.

Dev menghela nafas, dan dia masih berdiri disana, dia tidak bergeming sekalipun walaupun Mora sudah mengusirnya.

Pada akhirnya Mora menyerah, dan dia tertunduk lemas, karena sebentar lagi namanya di panggil sesuai urutan pendaftaran karya ilmiah. Mora menagis sejadinya mendapati laptopnya tidak bisa di gunakan dan dia tidak punya cadangan di tempat lain untuk karya ilmiahnya. Dev berjalan mendekati laptop Mora dan mencoba memperbaikinya, Dev juga berusaha mengembalikan file karya ilmiah Mora yang terkena virus dari leptopnya. Beberapa menit kemudian dia berhasil mengembalikan keadaan laptop Mora, Mora mulai tersenyum sumringah melihat Dev yang berhasil mengembalikan laptopnya kembali semula. Dia juga berterimakasih kepada Dev, dan dia merasa bersalah sudah membentaknya tadi. Mora bersiap ke atas panggung untuk mempresentasikan karya ilmiahnya. Dev melihatnya dari bawah panggung, dan tanpa dia sadari Dev tersenyum melihat Mora berhasil membawakan presentasi karya ilmiahnya dengan baik.

Inilah Dev, dia sangat baik, walau tersakiti dan tidak pernah dianggap namun dia selalu baik kepada siapapun. Dev mungkin membeci dirinya sendiri karena berbeda dengan yang lainnya, namun dia sama sekali tidak pernah membenci orang disekitarnya, Dev sendiri berhasil membawakan presentasinya dengan baik dan keluar sebagai juara ke tiga, dan Dev juga cukup puas dengan hasil itu. Mora muncul sebagai pemenang pertama, karena memang dia sangat pintar dan juga karay ilmiah yang dia teliti sangat bagus, makanya dia keluar sebagai pemenang, walaupun sifat tempernya yang sangat tidak menyenangkan tapi Mora pada dasarnya gadis yang pintar.

'Thank you Dev...sorry ya tadi udah bentak kamu...' kata Mora sambil menjabat tangan Dev setelah turun dari podium untuk menerima hadiah

'Iya Ra gak apa-apa kok...selamat ya Ra...karya ilmiah kamu bagus...' kata Dev sambil mengacungkan ibu jarinya 

Mora tersenyum melihatnya, dan merekapun akhirnya berbaikan. Semenjak kejadian itu Mora tidak pernah sinis lagi terhadap Dev, dan terkadang mereka terlihat memecahkan soal pelajaran bersama. Sedikit demi sedikit doa Dev terjawab, dia mulai memiliki teman di sekolahnya. Rayan juga sudah berangsunr membaik, dan sekarang Ray lebih memperhatikan Dev, dia juga sering menyapa Dev sekarang, sikap Rayan juga sudah berubah tidak sedingin dulu lagi terhadap Dev.

Sekarang tinggal Shane, dia tetap membully Dev da tetap memperlakukan Dev seperti mahkluk tak kasat mata yang seenak jidatnya di bully. Hari itu Dev berangkat sekolah seperti biasanya, namun tiba-tiba Shane menyirapnya dengan tinta cumi-cumi yang membuat seragam dan badan Dev bagian atas menghitam dan bau.

'Nah...gini kan jadi keliatan...dasar albino....' kata Shane sambil berlalu meninggalkan Dev yang sekujur tubuhnya di penuhi tinta cumi.

Rayan melihat kejadian itu langsung membawa Dev ke kamar mandi dan menolongnya, Rayan juga memberikan seragamnya yang ada di loker sekolah untuk Dev. Mereka berdua lalu duduk di koridor sekolah, karena mereka berdua sudah terlambat mau masuk kelas, pasti mereka di suruh keluar sama guru di kelas.

'Makasih ya Ray...' kata Dev dengan senyuman

Rayan memandang iba dengan Dev, dan dia juga geram dengan sikap Shane yang keterlaluan itu, sitiap hari selalu mencari gara-gara dengan Dev.

'Kenapa kamu diam aja sih Dev...kenapa gak lapor gitu ke guru atau kepolisi sekalian kan kakak kamu pengacara...?' kata Rayan geram.

'Percuma Ray...' jawab Dev sembari mengusap rambutnya yang masih bsah dengan handuk kecil milik Rayan 'Aku gak mau bikin keluargaku khawatir, dan aku juga gak mau memperpanjang masalah, jadi diam saja sudah cukup, karena ini tidak lama kok,,,kan bentar lagi aku lulus dan gak perlu lagi menghadapi Shane...' jawab Dev kemudian

Rayan hanya menatap iba ke arah Dev yang mungkin Rayan merasa kalau Dev sudah menyerah dengan hidupnya. Rayan dan Dev masuk kekelas sesaat setelah pergantian jam dimulai, mereka masuk kek kelas masing-masing. Siang itu Rayan, Lolly, Dev dan juga Mora berencana mau makan di restoran milik mamanya Mora, karena hari itu Mora berulang tahun. Rayan, Lolly dan Dev semobil, hari itu Lolly yang menyetir, karena kaki Rayan masih dalam masa penyembuhan jadi dia tidak bisa menyetir mobil, Rayan duduk di jok belakang sedangkan Dev di depan bersama Lolly di bagian kemudi. Mora sudah duluan pulang karena dia akan mempersiapkan segala hal. Sesampainya disana, mereka bertiga disambut hangat oleh ibu Mora dan juga Mora pastinya. Beberapa detik ibu Mora sedikit kaget dengan penampakan Dev, Dev memang meiliki kelainan pigmen kulit, sedari kecil dia albino. Kulitnya berwarna putih, bahkan rambut dan alis juga berwarna putih, itulah kenapa dia selalu berbeda dengan anak-anak lainnya, dia tidak pernah bisa diterima baik karena kelainan warna kulitnya itu.

Setelah merayakan ulang tahun Mora, mereka bertiga berpamitan pulang kepada Mora beserta keluarga Mora. Sebelum pulang Dev mampir ke mini market depan restoran ibunya Mora untuk membeli beberapa barang. Disana dia bertemu dengan Shane yang waktu itu juga berada di mini market tersebut. Melihat Dev, Shane langsung membully nya, dengan menjegal Dev sampai terjatuh, lalu dia tertawa puas. Dev tidak membalas, dan dia lalu beranjak meninggalkan Shane...

'Dasar freak...albino babi...' kata Shane kasar

Dev berjalan keluar mini market sambil menahan rasa sakit di dadanya, di seberang jalan dia melihat Ray dan Lolly sedang berpelukan mesra sambil mengobrol dengan Mora. Hati Dev bertambah sakit, dia masih berharap bisa mendapatkan sedikit cinta dari Lolly, namun dia juga sadar kalau Rayan lebih pantas untuk Lolly. Saat Dev ingin menyabrang, dia melihat adik Shane yang turun dari mobil dan berlari ke bahu jalan untuk menganbil mainannya yang terjatuh. Adik Shane masih duduk di bangku SMP dan kala itu Shane sedang bersama adiknya, dia tidak tahu adiknya keluar mobil dan berlari kearah jalan raya, karena Shane masih berada di mini market. 

Dan dari arah berlawanan ada sebuah truk pasir yang melaju cukup kencang, spontan Dev berteriak dan berlari menyelamatkan adik Shane. Tubuh Dev terplanting jauh, yang membuat Rayan, Lolly dan juga Mora berteriak histeris melihatnya. Shane yang keluar dari mini market juga kaget melihat kejadian yang terjaddi di depan mata, apalagi itu menimpa adiknya. Rayan berlari dengan pincang kearah tubuh Dev yang berlumur darah. Tubuh putih itu sekarang berubah menjadi merah, Lolly sibuk menelfon ambulance dan beberapa orang berusaha membantu Ray membopong Dev. Adik Shane selamat, dan masih berada di bahu jalan, Shane terpaku melihaat kejadian itu, dia melihat sendiri kalau orang yang selama ini dia bully menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan adiknya. Padahal bisa saja Dev tidak menghiraukan hal itu dan memilih membiarkan adik Shane tertabrak truk, namum Dev tidak seperti itu, dia sungguh berhati malaikat.

Tubuh sekarat Dev dilarikan ke rumah sakit, namun beberapa jam kemudian Dev menghembuskan nafas terakhirnya. Semua teman-temannya menagis mendengar kabar itu, termasuk Shane yang benar-benar akan merasa bersalah di seumur hidupnya karena dia belum sempat meminta maaf kepada Dev. Dev berpulang dengan tenang, walaupun keluarganya sangat ter[ukul dengan kejadian ini, apalagi kak Nayla yang sangat menyayangi adiknya itu. Setelah pemakaman, Rayan masih berada di makam Dev bersama Lolly, Mora dan juga Shane...

'Kamu sudah tenang sekarang Dev...gak ada yang mengganggu kamu lagi, gak ada tatapan orang yang sinis ke kamu, mungkin ini yang kamu katakan ke aku kemarin. Kamu bilang kamu akan lulus sebentar lagi dan kamu juga sudah tidak akan merasakan sakit hati...semoga kamu bahagia disana Dev...terima kasih sudah menjadi teman yang baik buat kami, kami janjji akan selalu mengingat kamu dan mendoakan kamu...' kata Rayan sembari membelai nisan Dev

'Dev, maafkan aku...aku benar-benar minta maaf...' kata Shane sambil bersimpuh di makam Dev.

Deviano Cassao, sudah pergi dengan tenang, hatinya yang tulus menjadikan dia seputih kulitnya, walaupun dia berbeda dari manusia pada umumnya, namun Dev tetaplah mahkluk Tuhan dengan kesempurnaan versinya. Sekarang dia benar-benar malaikat dengan sayap putihnya, dia terbang membawa perbedaannya dan meningkalkan segala kebaikannya untuk dikenang setiap orang yang mengenalnya. Seorang albino juga manusia, mereka juga memiliki perasaan, warna kulit saja yang berbeda namun mereka tetap sama seperti kita semua yang bisa terluka, menangis dan juga bahagia. Selamat jalan Deviano Cassano, semoga kebaikanmu akan menjadi pemberat amalmu di akherat.




'Selamat tinggal duniaku, aku akan terbang sekarang dengan sayapku, dulu aku tidak bersayap namun sekarang aku sudah memiliki sayap. Aku akan menuju dunia keabadian, dimana tidak ada perbedaan dan juga pendiskriminasian disana, sampai jumpa...' Deviano Cassano.




Sekian~~~

CitraKim19

Cerpen 2022

Cerpen 2022 part 1


Cinta Sang Playboy

Percaya atau tidak, lelaki yang tidak cukup dengan satu wanita di dalam hidupnya itu masih ada sampai sekarang, dan anehnya wanita itu banyak sekali yang tidak menyadari fenomena seperti itu. Terkadang para wanita terlanjur mempercayai lelaki yang ada di dalam hidup mereka adalah segalanya, mempercayai dan dengan tulus mencintai, menyayangi dan mengagumi lelaki yang sebenarnya hanya setengah hati bahkan tidak pakai hati dalam membalas semua cinta sang wanita. Sebenarnya kenapa sih kebanyakan wanita masih saja menaruh rasa percaya dan cintanya kepada seorang lelaki walaupun dia tahu bahwa lelaki yang dia cintaii itu hanya mempermainkan dia saja. 

Kali ini ada sebuah cerita tentang seorang wanita yang sepenuh hati mencintai lelaki yang hanya sekedarnya saja mencintainya, hingga pada satu waktu, lelaki itu paham jika dia sudah menyia-siakan seseorang yang benar-benar tulus mencintai dan menyayanginya.

Pagi hari di sebuah sekolah SMA, lelaki dengan tampilan mirip model catwalk itu bernama Barry, dia adalah idola para kaum hawa di sekolahnya. Sayangnya, sang idola itu sudah memiliki seorang kekasih bernama Myta.

'Pagi honey...' sapa Myta sambil merangkul tangan Barry dan diiringi senyum manisnya

'Hi honey...' jawab Barry sembari membalas senyum Myta.

Barry adalah tipe cowok yang yang harus dihindari oleh cewek-cewek yang ada dimanapun kalian berada, ini meresahkan soalnya. Good Looking adalah previlage yang di dapatkan oleh seseorang dan bisa melakukan apa saja dengan wajah ganteng itu, di tambah lagi Barry seorang yang lahir dari keluarga yang sangat mampu alias sultan kalau bahasa gaunya sekarang. Dan ini merupakan syarat wajib menjadi playboy selain dari good looking dia juga harus memiliki otak yang encer, dompet tebal, dan juga gaya bicara yang bisa di percaya. Karena kalau kalian para lelaki biasa saja tanpa memiliki hal tersebut, sama aja bohong, oke lanjut ke cerita.

'Honey...kamu kok tadi lupa gak jemput aku sih..??' tanya Myta dengan nada manja nya

'Sorry Honey, tadi aku diminta mommy anter ke rumah temennya, so I can't pick up you at home...I'm so sorry honey...' Jawab Barry sembari menggengam tangan Myta dan mencium nya.

'Ow..it's oke honey...your mom first yah...good boy...' jawab Myta sembari membelai pipi Barry.

Perlu diketahui, Myta dan Barry sudah berpacaran selama 2 tahun, mulai mereka kelas dua SMA sampai sekarang sudah mau lulus SMA. Selama itu juga Myta selalu mempercayai kekasihnya, walaupun sebenernya semua sahabat dan teman-teman Myta sudah capek menasehatinya prihal sikap Barry yang tidak pernah cukup dengan satu wanita. Myta benar-benar menutup rapat telinga dan juga matanya dengan semua prilaku Barry yang sebenarnya sangat-sangat membuat siapapun geram. Barry punya gebetan baru dari sekolah lain, dan memang Barry tidak pernah berpacaran dengan cewek lain di sekolahnya, dia memilih jalur aman dengan menjalin hubungan dengan anak sekolahan di luar sekolahnya. Karena dia salah satu pemain basket andalan di sekolah, makanya sering sekali dia ikut pertandingan. Dan dari sanalah dia selalu mendapat gebetan baru dan itu tanpa sepengetahuan Myta tentunya.

Satu lagi syarat untuk menjadi playboy sejati dan kelas ikan paus (gedean dari kakap), harus pintar cari alasan, tebal muka dan banyak alasan yang bisa di terima dengan baik oleh lawan bicaranya.

Beranjak di siang hari, tepatnya jam 14.30. di sebuah mall besar di kota tersebut, tepatnya di foodcourt makanan yang sangat rame karena masih terbilang jam makan siang, walau sebenernya sudah telat untuk di katakan makan siang. Barry duduk berhadapan dengan seorang cewek cantik, berambut ikal sebahu, bermata coklat dan juga sexy. Cewek itu bernama Milly, pacar baru Barry.

'Sayang, tadi aku baru aja beli cat kuku...nie lihat bagus kan sayang...' kata Milly sambil memperlihatkan tangannya dan Barry pun spontan langsung memegang tangan Milly dengan mesra

'It's good sayang...cocok banget sama warna kulit kamu...makin cantik deh...' sahut Barry sambil mencium tanganm Milly

Satu lagi pelajaran tentang dunia per-playboy-an, playboy harus punya segudang rayuan maut yang mampu membuat hati sang cewek jadi klepek-klepek.

'Kamu bisa aja sih sayang bikin aku jadi makin sayang...' jawab Milly dengan nada manjanya.

'Ya iya lah sayang...kan kamu sayang aku yang paling aku sayang...' jawab Barry lagi dengan senyum nakalnya.

Iya memang benar kalau playboy itu selalu tampak baik di semua mata ya, karena good lookingnya, karena cara bicara yang punya secure kuat dan tingkat kepedean yang luar biasa hebatnya. Sebenarnya tidak ada yang bisa di salahkan, yang perlu di pertanyakan adalah, kenapa playboy itu ada? apakah karena lebih banyak cewek dari pada cowok? apakah karena banyak kesempatan untuk cowok bisa memiliki lebih dari satu cewek dalam hidupnya? masih banyak variabel-variabel lain yang mempengaruhi tindakan cowok menjadi soerang playboy.

'Ta...kamu apa buta sii atau emang hati kamu udah rusak kali ya...??' tanya Nella geram

Nella adalah sahabat Myta, yang sudah dari SD mereka bersama, Myta sudah seperti saudara buat Nella, makanya dia tidak rela jika sahabatnya jadian dengan Barry yang attitude playboynya wow sekali.

'Maksud kamu apa sih...??' tanya Myta santai

'Barry Ta...si Barry...semua orang disini juga udah tahu kelakuan Barry itu kayak gimana, tapi kenapa kamu kok ya tetep aja kekeh bersama dia...??' jelas Nella masih dengan nada geram.

'Udah lah La...itu semua cuma hoax aja...karena banyak cewek yang di tolak ama Barry makanya mereka sebar gosip kalau Barry banyak ceweknya, karena mereka mau balas dendam atas penolakan dari Barry itu...' jelas Myta sambil menenangkan sahabatnya itu.

Nella menghela nasfas panjangnya, dan dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Myta yang kerasnya melebihi kerasnya batu kali.

'Ya Tuhan, tolong sadarkan temanku ini, jauhkan dia dari orang-orang yang buruk untuknya..' batin Nella sambil memandang wajah Myta dengan getir.

Sore menjelang malam, tepatnya jam 17.30 WIB, posisi di lapangan basket...

'Sweety...I never leave you...forever...I promise...' kata Barry pada Siska kapten cheerleader basket SMA lawannya.

'Bener ya...janji...jangan bohong sama aku...' kata Siska sambil menyandarkan kepalanya di bahu Barry

'Iya bener...mana bisa aku berbohong dengan wanita yang paling aku sayangi...' jawab Barry sambil membelai rambut Siska 

'I love you so much sweety...' kata Siska sambil memandang Barry dengan mesra

'I love you too...from moon and never back...' jawab Barry sambil mengecup kening Siska.

Salah satu sifat playboy yang sulit ditolak adalah, dia sangat puitis, kata-katanya penuh arti dan deep meaning. kata-katanya sangat indah dan penuh kebohongan yang sangat bisa diterima dengan telinga wanita yang sudah dibutakan oleh cinta.

Tidak bisa di pungkiri kalau playboy itu ada dimana-mana dan jumlahnya sangat banyak serta terselubung di berbagai daerah. Jadi untuk para wanita harus extra hati-hati dan jangan sampai masuk ke sarang playboy, karena susah keluarnya pasti.

Hari ini jadwal Barry bersama Myta, kekasih yang sudah 2 tahun lebih dia bohongi, entah si Myta itu antara tidak tau atau goblok sii ya, cuma ya ini hanya cerita jadi ya sudah lanjutin aja ya... Barry hari itu ada turnamen basket di sebuah stadion basket yang lumayan terkenal di kotanya. Dia mengajak Myta dan pergi mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang sambil bermesraan dengan Myta.

'Honey kamu cantik banget hari ini...aku jd grogi nih...ntar kalau main aku gak konsen terus tetap liatin kamu gimana dong...??' kata Barry sambil mengenggam tangan Myta

'Ih...Honey kamu jangan gitu dong...harus semangat dong mainnya entar...kan aku cantik gini biar kamunya semangat...' Jawab Myta sambil membelai lembut pipi Barry.

Turnamen hari itu Barry memang sengaja mengaja Myta karena pacarnya yang bernama Siska tidak bisa kelapangan di karenakan SMA nya sudah kalah kemaren oleh SMA Barry, makanya team cheerleader tidak datang ke stadion hari itu, oleh karena itu Barry mau mengajak Myta untuk datang menonton pertandingannya. Satu lagi yang harus kalian pahami disini, playboy bisa mengatur waktunya dengan baik, sungguh management waktu yang sangat baik untuk seorang playboy. Dia bisa memprediksi waktu dan juga tempat serta alasan yang tepat agar semua pacarnya tidak bentrok dalam waktu yang sama.

Pertandingan dimulai, SMA Barry memimpin pertandingan di pertengahan waktu awal, dan sorakkan penonton sangat menggema di stadion, nama Barry Anggara juga sering muncul di layar LED karena top skor nya. Jadi kalau kalian mau jadi playboy yang kompeten, kalian harus punya skill mumpuni di bidang olahraga, pelajaran dan skill-skill lainnya. 

Break time sebelum babak kedua...

'Bar...hari ini jadwal ama siapa??' tanya Roy sahabat Barry yang sebenernya sudah bosan dan eneg oleh sifat playboynya Barry

'Kenapa emangnya?' tanya Barry dengan nada terbata-bata karena kecapekan lari di lapangan

'Aku liat Siska di bangku penonton tadi pas passing bola, dia bawa poster nama kamu lengkap ama foto kalian berdua...' kata Roy

'What the ....' kata-kata Barry terputus, dan matanya langsung mencari keberadaan Siska

Sesaat itu mata Barry terkunci dengan cewek yang memegang poster besar dengan namanya dan dia juga melambaikan tangan ke Barry sesaat itu juga mata mereka bertemu. Barry panik, dan dia spontan menoleh ke arah lain, dia memastikan Myta tidak melihat Siska.

'Shit...Myta mana Roy...?' tanya Barry cemas

'Iya mana aku tau Bar...parah neh...si playboy bakalan ke gap..' ejek Roy sambil beranjak dari tempatnya berada.

'Sial....' jawab Barry sambil terus mencari keberadaan Myta

'Sepertinya kamu bakalan berakhir hari ini deh Bar...good luck...' kata Roy kali ini dia melontarkan senyum nakalnya.

Pertandingan babak kedua, fokus Barry mulai kepecah, tapi karena dia pemain profesional, Barry tetap berbain epik dan membuat SMA nya keluar menjadi pemenang. setelah pertandingan dia bingung menghadapi kedua pacarnya di dalam stadion itu. Barry terus menelfon Myta dan memastikan posisi kekasihnya itu. Saat Barry masih sibuk telfon Myta, Siska sudah berada di depannya dan spontan memeluk Barry dengan mesra, 

'Sweety...congrats ya kamu the best...' kata Siska

'Ohh...oke oke....thank you sweety...' jawab Barry gagap

'Sweety...ayo kita rayakan kemenangan kamu...' ajak Siska sambil menggandeng tangan Barry

Spontan Barry melepasnya, ketika dia melihat Myta keluar dari toilet, namun Myta tidak melihat kearah Barry dan Siska.

'Sweety...hold on....I'm so sorry...hari ini aku ada janji sama team buat dinner bareng...gak enak sama pelatih akunya...next time ya sweety...' kata Barry mencoba meyakinkan Siska

Siska memurungkan wajahnya dan mencoba memelas untuk ikut Barry ke acara makan-makan dengan tim basketnya.

'Aku boleh ikut kan...?' tanya Siska memelas

'Sweety...jangan dong...kan kamu dari sekolah lain, kamu juga ketua cheerleader SMA yang kemarin habis aku kalahin, iya masak kamu ikutan dinner team aku, apa kata temen-temen kamu ntar...jadi sementara kita tunda dulu ya dinnernya...I promise deh...next I will give you a romantic dinner..just two of us...' kata Barry lagi penuh dengan kata-kata manisnya.

'Oke I know...janji ya...kita bakal dinner bareng...' 

'Iya...janji sweety...' kata Barry sembari memeluk Siska

Barry mengantar Siska untuk naik taxi di luar stadion, dan Barry kembali kedalam stadion untuk mencari Myta kekasihnya. Barry menemukan Myta di depan ruang tunggu tempat team Barry tadi beristirahat, dengan sabar Myta menunggu Barry disana, sambil terus mencoba menelfon kekasihnya itu.

'Honey...I'm so sorry...tadi aku ketemu temen dan ngobrol sebentar...kamu udah lama nunggu disini..?' tanya Barry sembari memeluk kekasihnya itu.

'It's oke honey...aku tadi di toilet jadi gak denger telfon kamu...' jawab Myta dengan sabar.

'Okey honey..let's go home...' ajak Barry sambil menggandeng tangan Myta dan mereka pun keluar stadion dengan aman.

Seorang playboy harus punya plan B ya teman-teman, mereka harus lihai saat menghadapi masalah seperti Barry tadi. Dan semenjak kejadian itu Barry lebih sering menghabiskan waktu dengan Myta, entah kenapa setelah tragedi Myta yang menunggu Barry di depan ruang tunggu itu, Barry menyadari satu hal, kalau selama ini Myta lah yang tulus menyayanginya.

Pagi itu seperti biasanya, Barry memasuki kelasnya, namun dia mendapati jika kekasihnya tidak hadir di kelas pagi itu. Barry menghampiri Nella sahabat Myta, namun Nella hanya bilang kalau Myta sedang keluar kota bersama keluarganya mendadak ada acara. Barry sangat heran, karena selama ini Myta tidak pernah terlambat memberi kabar kepadanya, hal kecilpun Myta selalu memberi tahu Barry. Siang itu Barry kerumah Myta, dan benar seperti kata Nella di sekolah kalau Myta keluar kota, karena rumah Myta terlihat kosong dan Barry pun pulang dengan menahan rasa penasaran kemana Myta sebenarnya.

Semenjak itu Barry pun tidak bertemu dengan Myta kekasihnya, dan dia merasa hidupnya hampa tanpa Myta, kekaihnya yang 2 tahun ini selalu menemaninya. 

'Sedih banget kayaknya nih...' kata Roy sambil duduk di samping Barry

'Apaan sih..?' jawab Barry dengan nada kesel

'Biasanya juga kamu sama yang lainnya kalau Myta sibuk Bar...kok tumbenan ini kamu sedih banget...' tanya Roy lagi

'Aku kangen sama Myta Roy...aku sayang banget sama Myta...' jawab Barry sedih

'Lah kalau sayang kenapa kamu duain, tigaain empat in si Myta coba...' kata Roy lagi

'Aku kadang bosan sama Myta, dia kadang terlalu menutup dirinya, dia gak mau cerita ke aku, dia juga kadang seperti menyembunyikan sesuatu sama aku. Hal itu buat aku seperti gak ada gunanya buat dia, karena dia sering larut sama dunianya dan juga masalahnya sendiri tanpa aku tahu apa-apa...dia seperti gak percaya sama aku. jelas Barry

'Bar, tiap orang punya rahasianya sendiri-sendiri, kamu tidak bisa memaksakan kehendak kamu...Myta seperti itu mungkin dia punya alasan sendiri Bar, tapi setahu aku dia tulus sama kamu. ' kata Roy

Barry tertunduk mendengar kata-kata sahabatnya itu.

'Sebenernya Myta tahu kamu sama Siska kemaren di stadion, gak sengaja aku ketemu di depan ruang tunggu, dia cuma tersenyum dan aku tahu kalau sebenarnya dia kecewa, tetapi Myta juga sadar kalau kamu sayang sama dia sebenarnya. Aku gak bilang apa-apa siii Bar, tapi dari raut muka Myta dia tahu kalau kamu punya pacar lebih dari satu, tapi dia diam saja...' Jelas Roy

'Kenapa kamu baru ngomong sekarang Roy...?' tanya Barry kesal

'Karena menurutku ini bukan urusanku, ini adalah masalah yang kmau alami dan kamu sama Myta lah yang harusnya menyelesaikan masalah ini...' kata Roy lagi

Barry terdiam, dan dia menyadari kata-kata Roy ada benarnya, dia merasa bersalah kepada Myta. Selama ini Myta tidak pernah sekalipun marah kepada Barry dan Myta dengan sangat sabar menghadapi semua prilaku Barry yang terkadang membuat Myta sakit, tetapi dia tetap bertahan.

Pagi itu Barry mengantarkan Milly, salah satu pacarnya kesekolah, lalu dia melihat Myta berada tidak jauh dari trotoar sekolah Milly. Spontan Barry langsung berlari menyebrang jalan, akibat hal itu Barry hampir saja tertabrak, namun sosok Myta menghilang begitu saja, dan hal itu membuat Barry jadi bingung apa yang sedang terjadi, apakah mungkin itu halusinasinya saja.

Sepulang sekolah, Barry mengajak Roy kerumah Myta, mungkin saja Myta dan keluarganya sudah pulang dari luar kota. Sekalian Barry ajak Roy supaya dia bisa sedikit lebih tenang menghadapi Myta nanti, intinya Barry mendadak jadi pengecut saat itu. Namun, di tengah jalan mobil Barry mendadak mogok dan mengharuskan dia untuk mlipir ke bengkel dulu. Sembari menunggu mobil di perbaiki, Barry duduk di kursi bengkel tepat di samping Roy yang sedang asik main game di handphone nya. Lalu beberapa menit kemudian, Barry tiba-tiba mendengar suara Myta.

'Honey....' sapa Myta lembut sambil membelai rambut Barry

Barry terhenyak dan melihat Myta duduk di sampingnya...

'Hai honey...I miss you...' kata Barry sambil memeluknya

'Honey aku mau ngomong sama kamu bisa,,? you have time for me..?' tanya Myta dengan lembut

'I always have time for you honey...' jawab barry sambil mengenggam tangan Myta

"Honey...aku mau minta maaf sama kamu ya...mungkin selama ini aku mengecewakan kamu, dan buat kamu bosan dengan aku, maaf ya honey...' kata Myta

'Enggak honey...aku yang harusnya minta maaf sama kamu...aku yang banyak salah ke kamu...aku....'

'Honey...' potong Myta 'Honey...I just wanna say goodbye...I'm so sorry...aku minta maaf karena ninggalin kamu dengan keadaan seperti ini...tapi kamu janji ya honey...kamu jangan main-main sama cewek lagi ya...aku mau kamu menemukan cinta yang bakal selamanya hidup sama kamu cukup dengan satu orang saja...' kata Myta

'Honey kenapa kamu ngomong seperti ini...? kamu tahu selama ini perbuatan aku..?' tanya Barry di iringi tetesan air mata

'Iya aku tahu...' jawab Myta dengan anggukan 'Aku tidak nyalahin kamu honey...aku harus pergi honey...terimakasih sudah menjadi seseorang yang paling berharga di hidupku dan juga sudah menemaniku selama ini...I love you from moon and back...I always love you Barry Anggara...' kata Myta lalu tiba-tiba menghilang

'Bar...Bar...' kata Roy sambil menggoyang-goyang tubuh Barry

Barry tersadar dari tidurnya, dan ternyata dia tertidur selama ini, dan tanpa sengaja kelapanya bersandar di bahu Roy

'Kamu gimana sih... malah tidue...pegel tau bahuku...udah selesai tu mobil, yuk cabut...' kata Roy kemudian

Mereka akhirnya jadi ke rumah Myta, dengan raut muka Barry yang pucat karena mimpinya, dan juga hatinya yang tidak karuan dengan kata-kata Myta di mimpinya. Sesampainya di rumah Myta, keadaan sangat ramai, disana juga ada Nella dengan di balut baju serba hitam dan terlihat air mata terus membanjiri pipinya. Barry dan Roy keluar mobil dan heran dengan keadaan sekitarnya, langsung menghampiri Nella. Dan Nella langsung menyambut dengan amarah kepada Barry.

'Ngapain kamu kesini...?' bentak Nella

'La...ada apaan ini...?' tanya Barry heran

'Kita gak butuh kamu disini...' bentak Nella lagi

'Bar...Bar...' kata Roy sambil menarik lengan Barry untuk melihat tulisan bela sungkawa di salah satu bunga.

"Myta Pradhita" nama yang tertera di bunga bela sungkawa itu membuat Barry terduduk lemas, kakinya serasa tidak bisa di gerakan lagi. Dia melihat kekasihnya sudah terbujur kaku di rumah duka itu, terlihat kedua orang tua Myta yang menangis di sampingnya, beserta sanak saudaranya. Barry terdiam dan melihat foto Myta di pigura beserta bunga di sekelilingnya, seolah tak percaya dengan hal ini, Barry mengais sejadinya.

'Myta kenapa La...?' tanya Roy ke Nella

'Myta meninggal tadi pagi, dia sudah berusaha melawan kanker otaknya selama ini, aku juga baru tahu 1 bulan an ini Roy...' jelas Nella ke Roy

Roy ikut tertunduk lemas, dan dia berusaha membangunkan sahabatnya itu.

'Bar...bangun Bar....kamu harus pamitan sama Myta, dia pasti nungguin kamu, ayo kita kasih penghormatan terakhir ke Myta...yang sabar ya...' bisik Roy ke Barry

Barry berjalan tertatih kearah Myta sambil di tuntun Roy, saat Barry melihat Myta kekasihnya untuk terakhir kalinya, dia menyadari bahwa dia sangat kehilangan kekasihnya itu. Barry sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan ke Myta selama ini, selama 2 tahun ini dia sungguh menyia-sia kan wanita sebaik dan setulus Myta.

Saat di pemakaman, Barry terus berada di samping makan Myta, lalu Nella menghampiri nya, 

'Bar...ikhlasin Myta ya...'kata Nella tiba-tiba jadi baik

Barry hanya tersiam tidak menjawab kata-kata Nella.

'Myta tahu kamu banyak ceweknya, dia juga paham sikap bohong kamu, tapi karena dia juga tahu kalau tidak berumur panjang, makanya dia diam saja menahan rasa sakit di kepala dan juga hatinya. Dia hanya ingin kamu sembuh dengan sikap playboy kamu itu, Myta mau kamu bisa menemukan sosok yang bisa menemani kamu selamanya dan mencintai menyayangi kamu dengan tulus...udah itu aja, kata-kata Myta sebelum dia pergi. Dia juga sengaja gak mau bilang ke kamu, karena dia mau kamu ingat dia disaat dia masih cantik, enggak pas dia jadi botak dan kurus akibat kemoterapi, dia cuma ingin kamu melihat dia secantik saat kamu pertama kali liat dia jadi ini alasan Myta tidak memberi tahu kamu Bar....semoga dengan ini kamu bisa kembali jadi Barry yang gak playboy lagi...' kata Nella panjang lebar dan dia meninggalkan Barry yang masih menitihkan air mata di makam Myta

'Tempat kamu gak bisa di ganti sama siapapun Honey... I hope we will meet again....sekarang kamu udah gak sakit lagi...maafin aku ya...aku sangat mencintai kamu...I love you from moon and never back, because it's always stay in my heart....I love you Myta Pradhita....' Kata Barry sambil membelai nisan Myta dan beranjak dari makamnya.

setelah kejadian itu Barry berhenti menjadi playboy, dia mengakhiri hubungannya dengan semua wanita yang dia pacari selama ini. Barry lebih fokus kepelajaran dan juga basket sebagai hobinya. Dia juga sering ke makam Myta jika kangen dengannya,dia terus mengunjungi makam Myta dan tidak pernah melupakannya. Barry juga masuk fakultas kedokteran, karena dia ingin menyelamatkan orang-orang dari kanker sehingga mengurangi kematian akibat kanker seperti yang di alami oleh Myta kekasihnya. 

Ini salah satu cerita taubatnya sang playboy, walaupun harus ada korbannya sih, tetapi memang rasa kehilangan akan ada saat seseorang sudah benar-benar pergi meninggalkan kita. Jadi sebelum menyesal, bainya kita harus mawas diri dan memperbaiki semua sikap dan juga prilaku kita sebagai manusia penuh dosa ini. Hal yang bisa kita petik adalah bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki, karena jika kamu tidak mau bersyukur maka kamu tidak akan pernah merasa puas dengan hidupmu. 

Sekian.





Note: Penyesalan itu bukan saat aku berdua bersamamu, tetapi bagaimana saat aku tidak bisa bersamamu lagi - Barry Anggara




Citra Kim

16 Oktober 2022

Sabtu, 25 April 2020

Quote For You

Part 1
People leave because it's easier to walk away than to fight for what they really want.

Part 2
At some point, you have to realize that some people can stay in your hearts, but not your life.

Part 3
Maybe I did get my hope up too high, maybe I was in over my head, maybe I'm the stupid one for ever thingking that you loved me, but maybe just maybe I'm tired to being alone.

Part 4
Brain, sorry for the overload.
Tummy, sorry for the butterflies.
Pillow, sorry for the tears.
And hearts, sorry for demage.

Part 5
I crave you in the most innocent form. I crave you to say goodnight and give you forehead kisses and to say that I adore you when you feel at your worst. I crave you in ways where I just meant to be next to you and notting more less.

Part 6
I know sometimes we fuss and fight, I know sometimes things don't go right, I know sometimes I can frustrate you and I know sometimes you get me mad. I know that you're my better half, I know without you I'm incomplate. And I know that tommorow you won't be here with me, but you know that? no matter what, you will always have a key to my hearts.

Part 7
One day, you're going to miss the little text massages I give to you. You're going to miss how I use to worry about you when you're out too late. You're going to miss my annoyingness. And one day when I'm gone, you're going to miss how you actually had someone that actually wanted you. And when I'm not there anymore you're going to miss me.

Part 8
I can be your shield, I'll fight on the field.
When our life gets colder, I'll be your soldier.


Kamis, 23 April 2020

Curhat #23042020

Susahnya jadi seorang kakak

Siapa sih di dunia ini yang bisa memilih untuk bisa lahir duluan atau belakangan?? setiap manusia tidak bisa memilih takdir mereka. Apalagi takdir mereka untuk jadi seorang kakak. Yah seorang kakak, terdengar sangat biasa dan tidak ada hal special dengan seorang kakak. Dia hanya lahir dulu, umurnya lebih jauh di atas kita dan dia juga bisa di bilang lebih tua dari pada kita, tidak ada yang special lagi. Namun apakah kalian tahu?? sebenarnya pekerjaan atau tittle seorang kakak bukanlah hal yang mudah, apalagi peran dia di keluarga. Seorang kakak adalah gambaran terbesar sebuah keluarga, anak pertama adalah segalanya, kesempurnaannya di tuntut disana. Dia harus bisa berperan jadi apa saja yang diinginkan keluarganya, dia harus bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya, dia harus juga mengalah kepada adik-adiknya, dia tidak bisa memaksakan egonya untuk kepentingannya sendiri, iya itulah tugas seorang kakak. Namun tidak semua orang atau lebih tepatnya tidak semua kakak bisa melakukannya. Kakak juga manusia, manusia dengan ego dan juga pola pikirnya sendiri, tidak ada manusia yang terlahir sempurna, setiap manusia punya kelemahan dan kelabihannya sendiri. Di antara ribuan bahkan juataan manusia di bumi ini tidak ada yang sempurna, mereka hanya terlihat sempurna hanya pada orang-orang yang melihat mereka sempurna, hanya beberapa orang yang berfikir mereka sempurna, walaupun pada kenyataannya tidak semua yang orang lihat itu adalah benar. Terkadang seseorang hanya mau mengakui pola pikirnya sendiri tanpa melihat yang lain di sekitarnya. Sedih memang jika sudah begitu, iya karena itu sifat alami manusia, jadi ya memang seperti itulah dunia ini, seseorang akan terlihat sempurna jika seseorang lainnya melihat mereka dan mengakui bahwa mereka sempurna dengan tolak ukur masing-masing, semua tidak sama.
Sama seperti seorang kakak, berbeda di setiap keluarga, mereka tidak sama dan jangan menuntut mereka untuk sama di setiap keadaan keluarganya. Kakak merupakan pekerjaan yang sangan susah kawan, dia harus rela, merelakan apapun untuk kepentingan adiknya, bahkan keluarganya. Dia harus mengalah pada egonya dan terus berbuat untuk kebaikan bersama. Namun ada pula kakak yang bahkan tidak mau tahu dengan keluarga beseta adiknya, mereka lebih mengutamakan egonya. Aku tidak menyalahkan mereka, iya itu semua kembali lagi dengan tadi, kodrat mereka sebagai manusia yang tidak pernah luput dari ego dan juga pola pikirnya. Aku punya seorang adik, seorang adik yang memiliki Mood yang selalu berubah di setiap detiknya. Marah ataupun ngambeknya jauh lebih parah dari cewek yang sedang PMS, padahal adiku seorang laki-laki. Dia selalu berubah mengikuti suasana hatinya, kalau dia sudah diam, sampai lebaran yang ke tigapun dia akan tetap diam. Kalau dia lagi seneng, walaupun kita lagi sedih pasti diajak ketawa sama dia, iya begitulah adikku, dia tidak melihat sekitarnya dia hanya bergerak mengikuti suasana hatinya. Dan aku sebagai kakak, apa yang harus aku lakukan? tidak ada, jawabannya adalah tidak ada, aku hanya harus bergerak juga mengikuti alurnya. Bukan karena sebab, tapi aku sudah terlalu lelah menghadapi sikapnya yang seperti ini. Dia sudah dewasa namun sama sekali pemikirannya belum mencapai titik dewasa, emosinya sangat tidak bisa di kendalikan. Dan aku hanya seorang kakak, kadang aku juga tidak dianggap, aku hanya sebuah angin lalu oleh adikku, kadang pula aku juga bercanda dan curhat sama dia, tetapi pada suatu titik dia akan menjauh dariku, dan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Aku akan tetap memperlakukan dia seperti biasa walaupun hatiku getir melihat sikap dia padaku, mana ada orang yang mau di cuekin apalagi ini di cuekin sama orang yang satu DNA dengan kita. 
Iya itulah curhatanku, curhatan seorang kakak, kakak tidak pernah meminta adiknya lebih, kadang dia hanya ingin di perhatikan oleh adiknya walaupun hanya beberapa detik saja. Cobalah kalian para adik menjadi kakak sehari saja , menghadai seorang adik seperti adikku, sehari saja kalian ada di tempatku aklian akan tahu kalau jadi kakak itu bukanlah hal yang mudah.


End.

Rabu, 22 April 2020

Cerpen #Justforfun

Part 1 #CintaSangPlayboy

Percaya atau tidak sebenarnya masih ada ribuan playboy yang masih belum taubat di luar sana, di dalam kehidupan, seorang wanita tidak bisa menghindar dari yang namanya pria, dan mungkin salah satu dari mereka adalah soerang playboy (suka dengan banyak perempuan). Anehnya masih banyak perempuan yang percaya akan cinta sejati yang datang dari seorang playboy, playboy adalah bentuk dari bad guy yang bisa jadi tough guy, helloooo everyone tolong bedakan antara playboy dengan tough guy yah...itu sama sekali tidak sama jangan pernah beranggapan kalau mereka satu spesies.
Cerita ini mungkin akan mengubah pandangan kalian tentang laki-laki, dan mungkin walaupun udah jarang, bisa jadi playboy akan taubat kalau dia menemukan seseorang yang bisa menerimanya dan bisa membuat dia ketergantungan olehnya.
Pagi itu terdengar sangat riuh, banyak para remaja-remaja yang berdiri di depan sebuah ruangan, iya itu ruangan belajar lebih tepatnya tempat les. Ada beberapa pria yang duduk di bangku dalam kelas, mereka memiliki visual yang mungkin bisa meluluhkan hati kalian, namun jangan terlalu terlena dengan mereka, karena mereka adalah sekelompok remaja pria dengan banyak wanita di kehidupannya. sebut saja mereka Alligator. Mirip buaya sih hahah buaya darat...
"Hari ini berapa coklat yang kamu dapat??" tanya Ken (salah satu member Alligator)
"Dikit paling 10 pack..." jawab Jinu
"Yah...masih banyakan aku lah...neh...20..." Jawab Sohn sambil mengeluarkan coklat dari dalam totebag nya
"Wuuiiihhh bisa tuh di jual lagi..." Timpal Ken
Mereka sibuk dengan beberapa coklat yang mereka dapatkan, maklum hari itu hari valentine, jadi gak heran kalau banyak wanita yang memberi mereka cokelat. Mereka berempat sekolah di jurusan seni dan teater, jadi hari itu mereka sedang berada di kelas teater. Jurusan seni dan teater universitas mereka sangat kualahan saat penerimaan siswa baru kapan lalu, karena banyak sekali wanita yang mau masuk jurursan itu, alasannya hanya mau bertemu dengan sang Alligator. Dan sang Alligator adalah..
"Max....kamu kok diem aja sih...? Shallen belum datang kah...??" tanya Ken membuyarkan lamunan Max.
Maxximum Vredo dia adalah sang Alligator, pemimpin barisan cowok kece dan playboy, tetapi dia sudah dua tahun ini tidak bisa memutuskan cewek yang bernama Shallen. Dia dan ketiga temannya sering menyusun rencana supaya Shallen memutuskannya. Alih-alih membuat Shalen marah, justru Shallen semakin lengket dengan Max. 
"Jangan sampai dia masuk kelas ini juga..." kata Max
"Hun...." panggil Shallen yang tiba2 masuk ruangan itu
"God damn it...." batin Max "Hi...Hun...."
"Why you're so surprise???what happen...??"tanya Shallen
"Ohhh nothing Honey...hahahaha...Wow you look so beautiful..." puji Max sambil merangkul Shallen
"Really..."
"Of Course..."
Pelajaran pertama, jadi seorang playboy harus bisa dan terbiasa memberikan pujian, karena cewek suka sekali di puji. Bilang dia cantik, bilang dia kurusan itu adalah pujian yang sangat bermakna.
"Today I made chocolate for you Hun..." kata Shallen sambil mengeluarkan coklat dari tas nya
"Oh...really, I was very touched Honey...." jawab Max dengan senyuman palsunya.
"Wanna try...??" tanya Shallen sambil mengambil satu bungkus coklat dan menyuapkannya pada Max
"Hemmm...so delicious...." jawab Max.
Ketiga temanya hanya memandang geli dengan tingkah laku Max, dua tahun ini Max sama sekali tidak berkutik setelah pacaran dengan Shallen, entah kenapa dia susah sekali membuat Shallen memutuskannya. Di dalam kamus Max, hanya ceweklah yang memutuskannya, selama dia pacaran dia tidak pernah memutuskan ceweknya, dia hanya membuat si cewek tidak nyaman lalu si cewek itu yang meminta untuk putus, begitulah Max melalui kehidupan percintaannya. Namun tidak dengan Shallen, sekuat apapun Max membuat Shallen untuk membencinya, namun itu semua sia-sia Shallen tetap memaafkan Max. Bahkan saat Max mencium wanita lain di hadapan Shallen, dan Shallen tetap memaafkan Max, katanya wajar kalau cowok bosan dengan satu wanita, dan Shallen bilang kalau dia adalah rumah untuk Max, jadi sejauh apapun Max pergi Max bisa kembali lagi kerumahnya yaitu Shallen. Ini salah satu bentuk kebuncinan yang paling gila sih, mana ada cewek yang seperti Shallen di dunia ini.
"Max...kamu mau sampai kapan seperti ini sama Shallen..? tanya Ken
"Aku juga bingung...aku gak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan buat bikin Shallen benci sama aku, kalian ada ide...?" tanya Max
"Jujur...ide aku udah habis, gak tau lagi deh terbuat dari ada si Shallen itu..." kata Sohn
"Max...aku rasa kamu harus jujur deh sama Shallen...." kata Jinu tiba-tiba
"Maksud mu apa Jin..?"
"Sekarang aku tanya sama kamu, apakah kamu masih sayang sama Shallen..?? kamu masih cinta kah sama dia..? atau kamu masih ingin dia menemani kamu?" kata Jinu lagi
Max terdiam dan dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Jinu
"Max...wanita itu tidak akan pernah berpaling dari kita kalau dia masih sayang sama kita, dia tidak akan meninggalkan kita, karena mereka cenderung memakai perasaannya, beda sama cowok, cowok selalu pakai logikanya, jadi kalau emang suatu hubungan sudah tidak bisa di pertahankan, maka dia akan memilih untuk mengakhirinya atau pergi dari kehidupan tu cewek..." Jelas Jinu
Max memperhatikan wajah Jinu yang serius saat menasehatinya, dan dia rasa apa yang dikatakan Jinu ada benarnya.
"Jika kamu memilih bertahan hanya karena prinsip kamu...kamu bukan hanya nyakitin Shallen aja sih tapi juga diri kamu sendiri..." tambah Jinu lagi
Mereka berempat lalu terdiam sejenak, dan sepertinya kata2 Jinu merasuk kedalam batin mereka. Pelajaran kedua sebagai seorang playboy, mereka kadang memiliki perasaan sensitif, mereka menjadi playboy bukan tanpa sebab, mereka seperti itu karena telah terjadi sesuatu di perjalanan hidup mereka.
"Sebelum kamu meninggakan Shallen, kamu harus tahu dulu perasaan kamu sesungguhnya, setidaknya kamu harus bisa jawab ketiga pertanyaanku tadi." kata Jinu kemudian beranjak dari tempatnya
"Aku rasa apa yang di katakan Jinu ada benernya Max, coba deh besok kamu ajak Shallen jalan-jalan dan kamu nanti bakal tahu jawaban dari hati kamu..." tambah Ken
Keesokan harinya karena gak ada kelas, Max mengajan Shallen jalan-jalan kepantai, mereka menghabiskan waktu disana, berjalan berdua di pinggir pantai melewati pasir dan deburan kecil ombak yang mengenai kaki mereka. Suasana saat itu sangat romantis, hingga matahari yang perlahan memudarkan cahayanya di balik awan dan menjadikannya senja. Max dan Shallen duduk di tepi pantai sambil menikmati senja, dan Shallen menyandarkan kepalanya di bahu Max. Tidak ada lagi tulisan yang bisa mendeskripsikan perasaan Shallen saat itu, duduk di samping orang yang di cintainya, menghabiskan waktu bersama dengan orang yang di sayangi adalah hadiah yang tidak bisa di tukar oleh apapun.
"Hun...." panggil Shallen
"Hemmm..." Jawab Max
"Kamu udah bosen ya sama aku....?" tanya Shallen tiba-tiba
Mata Max terbelak saat Shallen menanyakan hal itu, entah kenapa perasaan Max jadi kacau balau, padahal ini sebenernya waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya.
"Kenapa kamu bisa ngomong seperti itu...?" tanya Max balik
"Ahhh...aku hanya saja merasa seperti itu...you just don't love me anymore..."
Max hanya memandang jauh kedepan, matanya terlihat kosong dengan kata-kata Shallen, entah kenapa hatinya saat itu berubah menjadi sakit. Seharian waktu yang dia habiskan bersama Shallen membuat dia bisa menjawab pertanyaan dari Jinu, bahwa harinya yang sudah terbiasa menerima cinta Shallen, mamaksa Max untuk terus berada di samping Shallen dan itu secara perlahan membuat Max jadi tergantung dengan Shallen. Di dalam benak Max, gak apa-apa pacaran sama yang lain toh nanti Shallen akan menerimanya lagi seperti semula, dulu seperti itu tetapi setelah kata2 Shallen beberapa menit yang lalu membuat Max sadar kalau sebenarnya hatinya mulai menerima Shallen.
"Hun...why you're so quite???" tanya Shallen lagi
"Ohhh...sorry..." jawab Max
"Hun...." panggil Shallen sambil memandang mata Max dan Max berbalik menatap Shallen
Max tahu betul pancaran mata itu, berkali-kali dia menghadapi wanita yang memiliki mata seperti itu, dan ini adalah waktu untuk berpisah.
"Let's break up Hun..." kata Shallen di ikuti air mata yang menggenang di matanya
Max tidak bisa menjawab apa-apa, padahal ini yang dia tunggu selama ini, ini adalah saat yang benar-benar dia nantikan, saat dirinya di campakan oleh wanita-wanita yang dia kencani. Tapi entah kenapa hati Max saat itu sakit, saat Shallen mengatakan hal itu...
"I Can't....sorry...I can't let you go...please give me one more change..." kata Max sambil memeluk Shalen
Shallen tidak menjawab apa-apa dia hanya menagis di pelukan Max, dan Max memeluknya dengan sangat erat. Senja kali itu menjadi saksi kepahitan di antara mereka berdua, Max yang sangat ingin lepas dari Shallen mendadak tidak bisa melepaskannya, dan Shallen yang selama ini terus bertahan dan menahan Max di sisinya tiba-tiba berusaha melepaskannya.
Max mengantar Shallen kembali kerumahnya, sesampainya di depan gerbang rumahnya, Max kembali memeluk Shallen.
"I can't live without you Hun...please don't let me go..." Kata Max
"I know...it's hard to say goodbye, but...Hun..please...we can't be together again, we have long been demage...you know that right.." jawab Shallen sambil melepas pelukan Max
"I know...it's my fault...but you can give me one more change right?...I can change everything to you...please Hun...I can't lose you right now...and maybe forever.." kata Max sambil memegang tangan Shallen dengan erat.
"I love you Hun...I love you so much...I can't describe my feeling to you...It so hurt to me to say it, but I must to say to you, we can't be together anymore..."
Max memandang mata Shallen yang tak henti-hentinya meneteskan bulir air mata, hatinya sangat sakit melihat itu.
"I love you too Hun...I can't leave you..." kata Max kali ini dia mengecup bibir Shallen dengan hangat
"Hun Please...." pinta Shallen sambil menggenggam tangan Max, dan kali ini Max juga menitihkan air matanya.
Catatan, seorang playboy juga manusia, saat sang Alligator sudah bertemu dengan pawangnya dia akan menjadi sangat jinak, bahkan sangan responsif. Dia akan kembali memiliki naluri yang sama dengan sang pawang, dan itulah yang sedang di rasakan Max, dia sang Alligator yang sudah jinak dan Shallen lah sang pawang yang sudah merubahnya. Namun sang pawang sekarang ingin meninggalkannya.
Max tidak bisa menjawab kata-kata Shallen, dia hanya tertunduk dan Shallen pun memeluk Max dengan erat, dan Max pun juga memeluknya dengan erat pula.
"Hun...you have to realize that some people can stay in your heart, but not in your life...I'm sorry Hun...I love you..." kata Shallen.
Malam itu adalah perpisahan yang sangat menyedihkan untuk kisah cinta Max dan juga Shallen, Max sendiri tidak menyangka kalau rumahnya sudah hancur sekarang, dan dia tidak punya tempat untuk kembali pulang lagi seperti dulu.
Pagi itu Max duduk terdiam di kelasnya, dia sama sekali tidak bergeming di tempatnya hari itu dia seolah tidak mau ada disana. 
"Max...are you okay...?" tanya Sohn
"Max..." kata Ken sambil menepuk bahu Max
Max hanya memandang sekilas kepada teman-temannya itu dan dia kembali menatap kedepan dengan pandangan kosong.
"All it's over..." kata Jinu sambil duduk di depan Max
"What do you thing..??" jawab Max kemudian
"Sebenernya kemarin aku sudah tau jawabanmu Max..." kata Jinu kemudian
"Huuh..."
"Saat kamu tidak bisa menjawab ketiga pertanyaanku, aku tahu kalau kamu sebenernya takut kehilangan Shallen iya kan..??"
"Sepertinya kamu selalu tahu apapun yang berhubungan dengan masalah percintaan..." jawab Max sambil memalingkan wajahnya dari Jinu
"You Have broke with her??" tanya Jinu memastikan
Max tidak menjawab, tapi seluruh tubuhnya menjawabnya, sekarang dia hanya terlihat seperti seorang anak yang kehilangan rumahnya dan di paksa tinggal di jalanan.
"It's over right now...." kata Jinu kemudian
"Really...wah...sang alligator udah jomblo....congrats Max...finally you did it..." seru Sohn
"Wahhh...congrats broooo..." timpal Ken sambil menepuk bahu Max
'It's not funny..." seru Max sambil beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ketiga temannya
"What wrong with him..??" seru Sohn
"Jin...what happen...tell me something..." kata Ken kemudian
Jinu hanya terdiam dan kembali membuka laptopnya untuk mengerjakan tugasnya 
Sebulan berlalu, dan Max masih sedingin es, dia jarang berbicara dengan temannya dan dia menyibukan diri untuk menyelesaikan tugasnya. Hari itu Max sedang ada di sebuah bangku taman kampusnya, dan seperti biasa di sekelilingnya banyak cewek-cewek yang duduk dan berusaha membuat Max memperhatikannya, namun sayangnya Max sama sekali tidak bergeming.
"Kamu yang namanya Max..?" tanya seorang cowok secara tiba-tiba
Max mendongak dan dia melihat sesosok pria dengan jas hitam dan wajahnya juga lumayan tampan mungkin dia umurnya terpaut tidak jauh darinya.
"Iya...kamu siapa...?" tanya Max kemudian
Pria tadi lalu duduk disamping Max dan dia memberikan surat dengan amplop warna merah maroon, amplop itu biasanya ada di setiap kado dari Shallen.
"Ini apa...?" tanya Max
"Salam perpisahan dari Shallen..." jawab pria tadi
"Kamu siapa..?kenapa surat ini ada sama kamu...?kamu pacar barunya Shallen..?" tanya Max beruntun
Pria tadi memandang Max, dan dia lalu tersenyum simpul
"Aku Sammy...kakaknya Shallen..." jawab Sammy
Max terbelak, dan dia merasa malu dengan semua pertanyaannya kepada kakaknya Shallen
"Ma..maaf...aku hanya.." kata Max terbata-bata
"Tidak apa-apa.." potong Sammy
Max tertunduk memandang amplop yang biasanya selalu ada di box makanan dari Shallen, box baju hadiah Shallen box permen pemberian Shallen dan kali ini tepat di tangannya setelah sebulan mereka putus.
"Relakan dia Max....sama seperti aku merelakannya..." kata Sammy
"Maksud kamu apa...?" tanya Max heran
"Shalen sudah meninggal kemarin, ini barusan aku habis dari pemakaman..." kata Sammy
Max tidak percaya dengan semua yang Sammy katakan saat ini, tidak mungkin wanita yang sangat dia sayangi meninggalkannya.
"Shallen di diagnosa menderita kanker otak semenjak setahun yang lalu, dia terus bertahan dengan semua rasa sakitnya, dia bilang dia ingin selalu bersama kamu, dia ingin kamu tidak kecewa dengannya, itulah kenapa dia tetap mempertahankan kamu walaupun kamu sebenernya sudah tidak mencintainya lagi. Aku tidak menyalahkanmu Max...Shallen tidak mau bilang kalau dia sakit karena dia tidak mau kamu menghasihiani dia karena penyakitnya, makanya dia berusaha sembuh, namun dua bulan terakhir dokter bilang kalau dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, makanya dia melepaskanmu, dia tidak ingin melihat kamu di saat terakhirnya, karena dia bisa menyesal nanti." cerita Sammy
Max hanya tertunduk sedih mendengar cerita dari Sammy, dia tidak kuasa menahan air matanya, Sammy Lalu mengajak Max untuk pergi kemakam Shallen, sesampainya disana Max duduk di dekat batu nisan yang bertuliskan Shallen Vercia Amanda, gadis yang selama dua tahun ini mengisi semua memorinya, gadis yang yang tidak pernah marah kepadanya serta gadis yang sudah bersedia menerima semua kekurangan dia sebagai manusia. Shallen hanya mencintainya, itu saja alasannya dia bertahan begitu lama di samping Max.
"Hun..." suara Max yang lirih di sertai isak tangisnya.
Sammy berjalan menjauh dan membiarkan Max pengucapkan salam perpisahan untuk Shallen.
"Hun...why..why you do to me...??" pecahlah air mata Max di pusara Shallen.
Perlahan Max membuka isi amplop yang sedari tadi dia pegang dan belum berani untuk membukanya, namun kali ini dia membukanya dengan perasaan berat dia harus membacanya, membaca kata perpisahan dari Shallen.

Dear Max,

Hun...you're only one and just one, a people that I loved...I love you Hun...I can't describe how much I love you with a word. But I know you're always know that, that I love you from moon and back. I'm sorry...I'm so sorry Hun...I broke this promise, I hurt you so deep and I know maybe it is better to us for saying goodbye. I don't wanna make you cry, sad or something. I just want to your smile to remember me, please Hun forgive me. I'm sorry and I love you...now it's time to say goodbye...I always love You My Max...My Honey...My Love...

From your Love
Shallen

Sekarang tinggal sang Alligator yang sedang meratapi nasibnya di tinggal oleh sang pawang, dia kehilangan orang yang bisa memegang kendali atas dirinya. Begitulah akhir cerita sang playboy dan juga cintanya, setiap manusia tidak bisa memilih takdir mereka, mereka hanya bisa berjalan di takdirnya, jika ingin merubahnya, mereka harus mampu berdoa dan bisa mengetuk pintu Illahi supaya takdir mereka di ubah. Maka itu manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, semuanya kembali ke Tuhan, manusia tidak bisa memilih di mana mereka akan dilahirkan dan apa cerita hidup yang akan mereka temui dan tempuh. Cukup bersyukur dengan apa yang dimiliki dan terus berterimakasih, mungkin itu bisa jadi penyelamat untuk kita. Max sudah kehilangan Shallen, dengan semua cintanya, kita tidak akan pernah tau kapan kematian akan datang, bersiaplah dan jangan sia siakan waktu kalian dan juga orang yang menyayangi kalian.


THE END.

Minggu, 12 April 2020

Cerpen #Curhat 13042020

Hari senin,
Saat semua orang hanya bisa mengeluh karena mereka harus melepas hari weekendnya, tapi aku masih sama seperti hari kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Tidak ada yang berubah, semua terlihat berjalan dengan normal, baik2 saja, iya itu yang kelihatan di mata. Namun sebenarnya aku sudah bosan dengan hidup seperti ini, aku juga bekerja sama seperti kalian, aku juga ingin mendapatkan uang seperti kalian, aku jug mau menjadi bahagia, namun memang jalan yang kita tempauh itu tidaklah sama. Kalian bergulat dengan kerasnya hidup di sana dan aku juga berkutat dengan tempo yang sama di setiap harinya. Kita sama2 berjuang, kita sama2 lelah, kita sama2 ingin beristirahat, bisakah kalian lebih baik ke aku??aku juga akan lebih baik pada kalian. Aku akan lebih menghargai kalian jika kalian juga melakukan hal yang sama padaku.
Kalian selalu bilang, kalau kerjaanku adalah yang paling mudah, hanya duduk, tidur dan juga tidak melakukan apa2, tapi apakah kalian tahu pikiranku tidak pernah berhenti, saat tidurpun aku masih berfikir, apa yang harus aku lakukan besok, apa kah besok aku akan mendapatkan uang? kalian tidak pernah berfikir itu karena kalian tiap bulannya selalu dapat uang, kalian tidak pernah memikirkan bagaimana harus bisa kreatif di setiap waktunya. 
Kita sama2 susah, aku juga tidak tahu bagaimana kalian selalu tertekan dengan bos kalian disana, bagaimana kalian selalu mengikuti target2 yang membuat waktu liburan kalian terganggu. Namun apakah kalian bisa juga melihatku yang juga tidak pernah hidup baik2 saja? Bisakah kalian lebih baik lagi padaku? aku akan melakukan hal yang sama jika kalian juga melakukannya pada ku. 
Namun pada akhirnya kalian tetap memandang remeh aku, aku hanya orang yang tidak bekerja di gedung bertingkat, tidak menggunakan atribut kerja seperti kemeja, tanda pengenal, highheels, tas yang berharga jutaan, dan juga memakai assesoris yang mahal. Aku hanya bekerja di rumah, memakai baju seadanya, menata rambut dengan simpel, tidak memakai riasan dan hanya duduk di belakang etalase, menunggu seseorang membeli barang daganganku. Aku tidak setiap hari mendapatkan uang, aku bahkan juga tidak selalu mendapatkan keuntungan di setiap bulannya, yang bisa aku lakukan hanya bertahan hidup di setiap harinya. Aku tidak punya kartu nama untuk di bagikan pada saat reuni, aku juga tidak punya cerita untuk di ceritakan saat kumpul bersama kalian, yang aku bisa lakukan hanya mendengar kalian bercerita tentang gedung tinggi, suasana macet, dan juga makan siang di restoran mahal di setiap awal bulan. Aku hanya bisa makan di rumah bersama keluargaku, aku juga hanya bisa makan di warung pinggir jalan yang menjual beraneka macam lauk sehari-harinya. Tidak ada yang bisa aku banggakan untuk diriku sendiri, namun tidak bisakah kalian tetap baik padaku, tidak bisakah kalian bertanya padaku tentang apa yang aku kerjakan? tidak bisakah kalian memandangku walaupun hanya beberapa detik saja?
Aku selalu duduk di sebelah kalian, menatap kagum kalian, namun aku sama sekali tidak mendapatkan padangan apa2 dari kalian, jangankan memandang aku rasa kalian bahkan tidak menyadari keberadaanku. Aku memang terlahir seperti ini, aku tidak pernah mengeluh kepada siapapun, aku tidak pernah menyalahkan keterbatasanku, dan aku juga tidak pernah iri kepada kalian yang memiliki kesempurnaan, aku hanya ingin kalian mengakui keberadaanku, dari aku yang selalu ada disamping kalian....

Kata Gadis dari belakang etalase.

Cerpen #Curhatan 11042020

Curhatan hari ini
Aku bukannya orang yang bisa melakukan semua hal, aku juga bukan seseorang yang mungkin bisa di banggakan. Di dalam sepanjang hidupku, aku tidak pernah sekalipun mendapat pengakuan dari siapapun event itu orang tuaku sendiri. Belajar yang rajin, menuruti semua keinginan orang tua, jadi anak yang jauh dari masalah jadi anak yang bisa dapat nilai baik di mata semua orang, jadi anak yang bisa di pamerin pas acara arisan dll. Itulah definisi anak yang berbakti, dan sialnya itulah yang aku rasakan, sampai kapan harus seperti ini? aku bukan barang display yang bisa di pajang dan di pamerin ke semua orang. Kedua orang tuaku tidak pernah bilang seperti ini 'kamu sudah melakukan yang terbaik, ayah/ibu bangga sama kamu' 'gak apa2 kalau kamu gak bisa matematika, mungkin kamu bisa bermain musik atau kamu bisa menulis cerita dan bisa menginspirasi orang banyak'. Kata2 seperti itu tidak pernah terdengar di telingaku, yang ada hanyalah 'Kamu harus rangking, nilai harus di atas rata2, harus gak boleh remidi, kamu harus jadi orang yang sukses, sekolah disini, les disini, bahkan kerja disini.' Kapan aku bisa memilih jalan untuk hidupku sendiri?
Kadang aku iri lihat teman2ku sekarang sudah sukses dengan jalan pilihannya sendiri, bukan pilihan orang tuanya. Temenku sukses jadi seorang penulis, jadi pelukis bahkan jadi seorang guru musik. Mereka gak pandai matematika, mereka juga gak pandai fisika,kimia dan pelajaran berhitung lainnya. Mereka hanya menyukai apa yang mereka suka, mereka hanya mengembangkan hobi dan bakat mereka, namun semuanya jadi uang, jadi penghasilan mereka, jadi pijakan hidup mereka jadi lebih baik lagi. sedangkan yang aku dapat hanya sebuah hinaan, hinaan di sepanjnag hidupku. 
Saat aku mencoba sesuatu hal yang baru, alih2 dapat dukungan aku selalu dapat hinaan, yang di bilang sok kelas atas, sok bikin sesuatu yang gak mungkin sok ini dan sok itu, ini yang bilang bukan orang lain lho, tapi orang tuaku sendiri. Lalu aku memutuskan untuk berhenti melakukannya, berhenti membuat sesuatu yang itu sebenarnya bisa membuat aku bahagia. Saat aku berhenti, ide yang dulu aku buat, lalu akhirnya banyak di pakai sama orang lain dan orang tersebut jadi sukses, lalu apa kata kedua orang tuaku, mereka bilang 'kamu kenapa gak bisa sukses seperti si A ini, dia bisa ini, harusnya kamu punya ide,punya taste'. Taste???ide??? what the helll....aku sudah pernah melakukan duluan, tapi kalian tidak pernah mendukungnya, lalu apakah aku harus mengakhiri hidupku biar penderitaanku ini juga berakhir???
Lalu, ada seseorang teman yang menyadarkanku, dia terus membimbingku sehingga aku bisa bangkit dari semua masalah ini yang sedang aku hadapi. Aku bisa perlahan bangun dan kembali berjalan, namun kali ini arahku berbeda. Aku rasa aku sudah cukup jadi anak yang berbakti, kata di Alquran bialang selamanya harus jadi anak yang berbakti, gak boleh durhaka sama orang tua. Iya sampai nanti aku menghembuskan nafas terakhirku, aku akan terus berbakti, tapi kali ini cara berbaktiku dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi memaksakan diriku lagi, aku cukup mengikuti alur tubuhku mau kemana, bila mereka (kedua orangtuaku) menjudge ku, menghina bahkan tidak percaya padaku, aku tidak akan berusaha menjelaskan, karena percuma, pada akhirnya mereka tetap tidak mengubrisnya. Aku tidak berusaha membuat mereka setuju denganku, yang perlu aku lakukan hanyalah berbakti, selamanya mereka adalah orang tuaku, ini sudah takdirku, aku hanya membuat hatiku tidak sakit lagi atas semua perkataan mereka, aku hanya membuat diriku tidak tersakiti dengan cara masa bodoh. Karena aku pikir hanya inilah cara aku bisa terus berbakti pada mereka, kalau mereka bilang, aku harus lakuin agar sukses ya aku lakuin, kalau gak sukses mereka akan mengeluh dan menyalahkan aku, dan tugasku hanya menutup mulut serta kupingku. Aku akan jadi patung untuk sementara waktu sampai amarah mereka mereda, setelah itu, mereka akan menyuruhku melakukan hal lainnya, dan aku juga akan mengikutinya, karena aku anak yang berbakti kan, aku anak yang penurut kan...semua akan aku lakukan, mungkin jika mereka menyuruhku untuk menenggelamkan diri di laut aku akan melakukannya, karena dengan itu mereka mungkin akan puas, mereka akan bilang kalau mereka akan bangga padaku.
Sekali, dua kali berubah jadi puluhan ratusan bahkan ribuan kali aku meyakinkan diri kalau aku baik2 saja, aku akan bisa tetap hidup, tapi ternyata aku ada batasannya. Perasaanku ini terbatas juga, gak seperti semesta ini, aku sama seperti laut, yang ada ujungnya, ada tempat berlabuhnya seperti kapal dan juga seperti pohon yang bakal lapuk termakan waktu.
Aku seperti itu, aku tidak selamanya abadi, sama seperti kalian juga, aku bukanlah manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing2, mereka tidak sama dan jangan menyamakannya, bahkan anak kembarpun memiliki personality yang berbeda. Aku harap kalian yang membaca ini suatu saat nanti jika Allah memberikan ijin kalian utk memiliki seorang anak, jadikanlah dia kebanggaan kalian, jangan membelenggu mereka dengan atura2 kalian. Kalian boleh memarahi mereka, menegur mereka jika melakukan kesalahan, namun setelah itu peluklah mereka, bilang kalau kalian bangga pada mereka, bilang kalian menyayangi mereka, jangan diamkan mereka. Berbicaralah pada mereka, jika kalian tidak bicara selamanya anak kalian tidak tahu apa yang kalian rasakan, dan anak kalian juga gak akan bilang ke kalian apa yang mereka inginkan jika kalian menutup mulut kalian.
Pesanku untuk siapapun yang membaca tulisan ini, mulai saat ini kalian harus berani mengambil langkah, kalian adalah yang terbaik, you're deserve to be better. Kalian berhak bahagia dengan pilihan kalian, Kalian berhak mendapatkan apa yang kalian inginkan, memintalah pada Allah, curhat sama Allah, menangislah di hadapanNya, setelah itu hati kalian akan lebih menjadi tenang. Aku juga melakukan itu setiap kali aku tertekan, karena aku yakin aku tidak sendirian, aku masih punya Allah yang selalu menjagaku 24 jam. Saat aku berfikir untuk mengkahiri hidupku, Allah selalu mengingatkan aku dengan berbagai macam caranya berbicara padaku, dan aku yakin kalau Dia tidak pernah meninggalkan aku sendirian.

Kata Anak yang berbakti kepada orangtuanya.